Sukses Uji Tempur, AFSOC Pasang Rudal Jelajah Murah AGM-190A Havoc Spear di Berbagai Platform Udara

Komando Operasi Khusus Angkatan Udara Amerika Serikat (Air Force Special Operations Command/AFSOC) berencana mengintegrasikan rudal jelajah ringan terbarunya, AGM-190A Havoc Spear, ke hampir semua jenis platform udara yang memungkinkan. Keputusan ini diambil setelah evaluasi uji tempur langsung (live combat evaluation) mengonfirmasi efektivitas dan tingkat keandalan senjata tersebut di lapangan.
Dalam pengujian nyata di wilayah tugas Komando AS untuk Afrika (AFRICOM), AGM-190A dilaporkan berhasil diluncurkan dari pesawat gunship AC-130J Ghostrider dan menghantam sasaran secara presisi. Keberhasilan penembakan di medan Afrika ini mengonfirmasi bahwa Havoc Spear telah memenuhi seluruh persyaratan taktis untuk diresmikan sebagai sistem senjata yang siap dipakai dalam operasi militer global.
Dari pengembangannya, AGM-190A Havoc Spear lahir dari rahim raksasa teknologi pertahanan AS, Raytheon (RTX), bekerja sama dengan Air Force Research Laboratory (AFRL) di bawah inisiatif Stand-off Precision Guided Munition (SOPGM). Senjata ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan pasukan operasi khusus (Special Forces) akan amunisi berdaya jangkau jauh yang berukuran ringkas, sehingga bisa diluncurkan dari tabung peluncur standar (Common Launch Tube/CLT) tanpa memerlukan modifikasi kompartemen senjata (weapons bay) yang rumit pada pesawat pembawa.
AGM-190A Havoc Spear mengusung desain aerodinamis modern dengan sayap terlipat (folding wings) yang akan membentang begitu meluncur keluar dari tabung. Dibekali mesin jet mikro (micro-turbojet engine), rudal berbobot ringan sekitar 200 pon (90 kg) ini sanggup meluncur sejauh lebih dari 400 mil laut (sekitar 740 kilometer) dengan kecepatan subsonik tinggi.

US Air Force Special Operations Command wants its new cruise missile on “every type” of platform possible, after a live combat evaluation confirmed the weapon’s effectiveness.
The small cruise missile, AGM-190A Havoc Spear, struck a target in AFRICOM’s area of responsibility… pic.twitter.com/flcvZ0SPJi
— Comandante🎖️ (@commandante_) September 14, 2026
Untuk presisi perkenaan target, Havoc Spear mengandalkan sistem navigasi terpadu berbasis GPS/INS yang kebal terhadap jamming elektronik (anti-jamming), dipadukan dengan pemandu akhir (terminal seeker) elektro-optik/inframerah (EO/IR) serta data-link dua arah yang memungkinkan pembaruan target di tengah penerbangan (in-flight target update).
Kombinasi dimensi ringkas dan hulu ledak presisi ini membuat Havoc Spear sangat fleksibel. Selain pada AC-130J Ghostrider, AFSOC memproyeksikan peluncuran rudal ini dari pesawat kargo seperti C-130H/J Hercules dan C-17 Globemaster III memanfaatkan sistem palet udara Rapid Dragon, hingga helikopter operasi khusus MH-60 Black Hawk dan MH-47 Chinook.
Dilepas dari Helikopter Black Hawk, Drone Kamikaze Altius-700 Sukses Eksekusi Sasaran Secara Otonom
Dengan proyeksi biaya produksi massal di kisaran US$200.000 hingga US$350.000 per unit—jauh lebih murah ketimbang rudal jelajah konvensional seperti JASSM atau Tomahawk—AGM-190A Havoc Spear memberi militer AS kemampuan stand-off strike berdaya hancur tinggi dan berbiaya hemat untuk melumpuhkan instalasi pertahanan musuh dari jarak aman. (Gilang Perdana)
Makin Garang, C-130 Hercules Kini Mampu Meluncurkan Rudal Jelajah AGM-158 JASSM


