Pecahkan Rekor Pembelian Terbesar di Dunia, Taiwan Borong 280 Unit Drone VTOL Shield AI V-Bat Varian Terbaru

Angkatan Laut Taiwan (Republic of China Navy) resmi meluncurkan program akuisisi drone (UAV) berskala masif senilai NT$36 miliar (sekitar US$1,13 miliar) untuk periode 2026 hingga 2029. Dalam proyek pengadaan terbesar di dunia untuk jenis ini, Taiwan memboyong 280 unit drone Vertical Take-Off and Landing (VTOL) Shield AI V-Bat, lengkap bersama 140 sistem kendali (control system) dan 82 kendaraan taktis pengangkut.
Baca juga: Ukraina ‘Diam-diam’ Operasikan V-Bat: Drone Intai VTOL Pemandu HIMARS yang Tahan Jamming
Pengadaan rekor dalam akuisis drone V-Bat dirancang untuk membangun kapabilitas intelijen, pengawasan, dan akuisisi sasaran (ISTAR) secara terdistribusi yang mandiri tanpa ketergantungan pada landasan pacu (runway-independent) maupun pangkalan radar darat yang rentan dihancurkan rudal balistik Cina.
Skala pembelian terbesar oleh Taipei ini sangat fenomenal karena angka 280 unit V-Bat melampaui akumulasi seluruh pengiriman drone V-Bat oleh Shield AI ke semua pemesan global hingga akhir 2024 (sekitar 250 unit). Dengan rasio distribusi dua airframe per satu sistem kendali, Angkatan Laut Taiwan akan menyebar drone ini ke satuan kapal kombatan permukaan dan komando tempur pesisir (Littoral Combat Command).
Kehadiran V-Bat menjadi krusial dalam menghadapi perang elektronik (electronic warfare) dengan intensitas tinggi di Selat Taiwan, berkat integrasi sistem otonom Hivemind dan navigasi visual odometry yang memungkinkan drone tetap beroperasi presisi meski sinyal GPS/GNSS dilumpuhkan total oleh lawan (GNSS-denied environment).
Grup 5 Kopassus Perkuat Lini Intai: Adopsi Drone VTOL V-Bat yang Bisa Diluncurkan dari Bak Truk
Pengadaan terbesar V-Bat oleh Taiwan ini menarik perhatian, termasuk di Indonesia. Drone kelas tailsitter dengan bobot maksimum 75 kg ini bukan lagi alutsista asing di kawasan Asia Tenggara, mengingat satuan elit Kopassus TNI AD telah lebih dulu mengoperasikan drone Shield AI V-Bat untuk mendukung operasi khusus dan pengawasan daerah rawan.
Jika Kopassus memanfaatkan fleksibilitas pendaratan presisi V-Bat di medan rimba dan area terpencil yang sempit (confined space), Angkatan Laut Taiwan akan mengoptimalkan varian Block 5.3 terbaru yang menggunakan mesin bahan bakar berat (heavy-fuel engine) JP-5 untuk operasi dari atas geladak kapal perang (shipboard deployment).
Drone VTOL V-Bat Naik Kelas: Dari Mata-mata Jadi Sniper Langit
Varian V-Bat Block 5.3 membawa lompatan kemampuan signifikan dengan kapasitas muatan (payload) yang melonjak hingga 18,1 kg dan daya jelajah (endurance) lebih dari 12 jam. Kapasitas muatan yang membesar memungkinkan V-Bat tidak hanya membawa kubah sensor elektro-optik/inframerah (EO/IR), tetapi juga radar pencari ViDAR (Visual Detection and Ranging) yang sanggup memindai wilayah laut seluas 3.140 mil laut persegi per jam.
Bahkan, bekerja sama dengan LIG Nex1 asal Korea Selatan, V-Bat dikembangkan untuk mampu menggotong hingga empat unit rudal berpemandu laser L-MDM, mengubah fungsi drone intai ini menjadi platform pemukul presisi (precision strike).
Pembelian terbesar 280 unit V-Bat berjalan berdampingan dengan program pengadaan 32 unit drone buatan dalam negeri NCSIST Albatross II senilai NT$16,78 miliar, membentuk struktur pertahanan udara nirawak dua lapis (tiered unmanned system). (Gilang Perdana)
Cina Luncurkan ‘Copy-an’ V-Bat: Drone Intai VTOL Dengan Desain Tail Sitter


