Gertak Rusia di Kutub Utara, AS Boyong Peluncur Rudal Jelajah Tomahawk Darat ke Norwegia

Persaingan geostrategis di lingkar Kutub Utara memanas setelah Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) secara mendadak mengerahkan sistem peluncur rudal jelajah Tomahawk berbasis darat ke wilayah Norwegia tengah. Pengiriman armada peluncur rudal ini dilakukan menggunakan pesawat angkut berat C-17 Globemaster III langsung dari basis militer di Spanyol sebagai bagian dari latihan gabungan berskala besar bertajuk Operation Atlantic City 26.
Latihan bernilai strategis tinggi yang dipimpin langsung oleh Norwegia bersama sekutu Inggris dan Amerika Serikat, memproyeksikan doktrin combined fires dan penyekatan laut (sea denial) guna memperkuat benteng pertahanan NATO di kawasan Arctic dalam merespons lonjakan produksi rudal jarak jauh Rusia.
Penggelaran peluncur Tomahawk darat dalam latihan ini menjadi momentum penting karena tercatat sebagai kali pertama US Navy memboyong kembali kapabilitas peluncuran rudal jelajah dari daratan ke benua Eropa setelah latihan serupa pada Mei 2024 lalu. Tak hanya menyasar wilayah daratan utama Norwegia, latihan ini juga memperluas proyeksi pertahanannya hingga ke pulau terpencil Jan Mayen di Atlantik Utara.
Di pulau terasing tersebut, pasukan gabungan menyiagakan sistem rudal anti-kapal Naval Strike Missile (NSM), peluncur Strikemaster, serta satu peleton sistem roket artileri HIMARS dari New Hampshire Army National Guard. Operasi ini melibat tentara Inggris dan Norwegia yang mengaktifkan kembali pangkalan bersejarah era Perang Dunia II guna menguji ketahanan basis ekspedisi di medan ekstrem sub-Arktik.
The U.S. Navy has deployed land-based Tomahawk missile launchers to central Norway amid rising tensions between NATO and Russia. They arrived August 27.
It’s the first time these systems have been deployed to Europe since May 2024. pic.twitter.com/CTAOBwclBd
— Carter Johnston (@__CJohnston__) September 2, 2026
Bagi pengamat pertahanan, keberadaan peluncur Tomahawk darat milik AS di Norwegia ini memicu perbandingan dengan pergelaran sistem Mid-Range Capability (MRC) atau Typhon Missile System yang dioperasikan Angkatan Darat AS (US Army) di Filipina. Meskipun keduanya sama-sama mengusung peran strategis untuk menembakkan rudal jelajah Tomahawk dari platform kontainer di daratan, terdapat perbedaan fundamental dari segi matra pengoperasi, arsitektur teknis peluncur, hingga tingkat fleksibilitas doktrin operasional di lapangan.
Perbedaan paling mendasar terletak pada matra pemilik dan jenis peluncur yang digunakan. Sistem yang digelar di Norwegia merupakan peluncur Loral/Mk 41 Unmanned Land Launcher milik Angkatan Laut (US Navy), sebuah unit peluncur kontainer ringkas yang diadaptasi dari teknologi peluncur vertikal (VLS) kapal perang permukaan.
US forces deployed land-based Tomahawk cruise missile launchers to Trondheim, Norway, last week as part of Operation Atlantic City 26.
Additional NSM launchers were deployed to the strategic Jan Mayen Island. pic.twitter.com/p1DlIOGqUn
— OSINTtechnical (@Osinttechnical) September 2, 2026
Peluncur US Navy ini dirancang lebih ringan, sangat modular, serta dioptimalkan untuk mobilitas udara cepat (air-transportable) mengandalkan C-17 agar bisa segera disebar oleh pasukan Marinir (USMC) atau satuan ekspedisi AL di pulau-pulau terpencil. Sementara itu, sistem Typhon di Filipina merupakan sistem baterai artileri rudal berskala penuh milik US Army.
Baterai Typhon terdiri dari trailer peluncur raksasa berbasis sasis truk Heavy Expanded Mobility Tactical Truck (HEMTT), yang dilengkapi kendaraan pusat kendali operasi penembakan (BOC) dan kendaraan pendukung logistik amunisi dalam satu struktur komando Batalyon Multi-Domain Task Force (MDTF).
Additionally, Strikemaster mobile anti-ship missile systems were airlifted to Jan Mayen Island by the Royal Air Force. pic.twitter.com/6X7CzP5kE8
— OSINTtechnical (@Osinttechnical) September 2, 2026
Selain itu, fleksibilitas amunisi dan varian rudal yang sanggup diusung kedua sistem ini memiliki perbedaan signifikan. Sistem Typhon US Army dirancang sebagai peluncur multi-peran berkemampuan ganda (dual-capability) yang menggunakan modul VLS Mk 41 standar empat sel. Selain sanggup memuntahkan rudal jelajah serang darat BGM-109 Tomahawk hingga jangkauan 1.600 kilometer, baterai Typhon di Filipina juga mampu menembakkan rudal pencegat RIM-174 Standard Missile-6 (SM-6) yang dimodifikasi untuk peran serangan permukaan-ke-permukaan jarak pendek hingga menengah.
Cina Ketar Ketir! AS Sukses Uji Rudal Tomahawk Perdana di Filipina, Jangkau Target Sejauh 630 KM
Sebaliknya, peluncur darat kontainer US Navy yang dibawa ke Norwegia dirancang secara khusus sebagai pemukul presisi murni (strike-centric launcher) yang fokus mengusung rudal jelajah Tomahawk untuk menghantam instalasi darat berbenteng maupun sasaran permukaan bernilai tinggi di laut.
Secara keseluruhan, pergelaran peluncur Tomahawk darat di Norwegia dan sistem Typhon di Filipina menegaskan arah doktrin baru militer Amerika Serikat pasca traktat Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty (Traktat Angkatan Nuklir Jarak Menengah), AS kini secara aktif memadukan kekuatan darat dan laut untuk menggelar persenjataan pemukul jarak jauh berbasis darat di dua front kritis sekaligus: membendung armada maritim Cina di Indo-Pasifik melalui sistem Typhon, dan menggertak dominasi armada utara Rusia di kawasan Kutub Utara mengandalkan jaringan peluncur ekspedisi US Navy. (Gilang Perdana)


