Cina Ketar Ketir! AS Sukses Uji Rudal Tomahawk Perdana di Filipina, Jangkau Target Sejauh 630 KM

Militer Amerika Serikat baru saja mengukir sejarah baru dalam doktrin pertempuran di Pasifik dengan melaksanakan latihan serangan presisi jarak jauh pertama di dalam wilayah Rantai Pulau Pertama (First Island Chain).

Baca juga: Kennel: Rudal Bongsor “Penakluk” Karel Doorman

Dalam rangkaian latihan gabungan Balikatan 2026, Angkatan Darat AS (US Army) sukses meluncurkan satu unit rudal jelajah Tomahawk Land Attack Missile (TLAM) dari wilayah Provinsi Leyte menuju target nosional di Fort Magsaysay, Luzon.

Rudal tersebut menempuh jarak sekitar 630 kilometer (390 mil) dalam waktu kurang lebih satu jam sebelum menghantam target dengan akurasi tinggi. Operasi ini menjadi sangat signifikan karena dilakukan oleh unit Multi-Domain Task Force (MDTF), sebuah unit khusus yang dibentuk Washington untuk menghancurkan jaringan area denial (A2/AD) milik negara pesaing seperti Cina dan Rusia.

Peluncuran ini menggunakan platform Mid-Range Capability (MRC) atau yang lebih dikenal sebagai sistem Typhon. Sistem ini merupakan “benteng bergerak” yang mengintegrasikan empat sel peluncur vertikal Mark 41 (VLS) ke dalam sistem kontainer yang diangkut oleh truk.

Keberhasilan uji coba ini membuktikan bahwa US Army kini memiliki kemampuan mandiri untuk meluncurkan rudal jelajah Tomahawk dan rudal Standard Missile 6 (SM-6) dari daratan guna menjalankan misi serangan maritim maupun darat pada jarak ekstrem. Penggunaan Fort Magsaysay sebagai target juga menegaskan peran penting pangkalan tersebut sebagai salah satu situs Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA) yang dipersiapkan untuk menampung peralatan tempur berat MDTF di masa depan.

Penggelaran sistem Typhon di tanah Filipina—yang secara teknis mampu menjangkau wilayah Cina daratan—telah memicu kemarahan besar dari Beijing. Diplomat Cina melancarkan protes keras dan menuduh Manila memicu ketegangan regional. Namun, pemerintah Filipina justru memuji penempatan ini sebagai elemen deteren (penangkal) yang vital.

Dengan menempatkan Typhon dan sistem HIMARS di posisi strategis seperti Pulau Balabac dan Batanes yang merupakan titik sempit (chokepoint) di Pasifik, militer AS kini mampu mengancam setiap pergerakan armada laut, invasi amfibi, hingga pangkalan pulau buatan Cina di Laut Cina Selatan dengan munisi presisi.

Secara teknis, Tomahawk Land Attack Missile (TLAM) yang digunakan dalam latihan ini adalah senjata jelajah subsonik dengan kemampuan terbang rendah mengikuti kontur bumi (terrain-following) untuk menghindari deteksi radar. Rudal ini memiliki panjang sekitar 5,56 meter (6,25 meter dengan booster) dan berat mencapai 1.300 kg hingga 1.600 kg.

Dibekali hulu ledak konvensional seberat 450 kg (1.000 lbs) tipe high explosive atau submunitions, Tomahawk mampu menjangkau target hingga 1.600 kilometer dengan akurasi di bawah 10 meter berkat kombinasi pemandu GPS, INS, dan TERCOM (Terrain Contour Matching).

Kehadiran Tomahawk versi darat ini, ditambah dengan uji tembak rudal anti-kapal Type 88 oleh Jepang di Luzon Utara, menandakan bahwa sekutu kini telah mengepung Rantai Pulau Pertama dengan daya pukul yang mematikan. (Bayu Pamungkas)

Laser ‘Maut’ Guangjian-21A Cina Kawal Bandara Dubai: Mampukah Cegat Drone Shahed di Suhu Ekstrem Teluk?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *