Analisis Citra Satelit Ungkap Kehancuran Masif Pangkalan AS Akibat Serangan Presisi Iran, F-35 Turut Menjadi Korban?

Investigasi mendalam yang dirilis oleh Washington Post pada 6 Mei 2026 mengungkap fakta mengejutkan mengenai skala kehancuran yang dialami militer Amerika Serikat akibat serangan rudal dan drone Iran. Melalui analisis terhadap lebih dari 100 citra satelit resolusi tinggi yang dirilis oleh pihak Iran, terungkap bahwa kerusakan yang terjadi jauh lebih luas dan lebih presisi daripada yang diakui secara resmi oleh administrasi Washington.

Baca juga: Turki Kini Punya ICBM: Yıldırımhan Siap Jangkau Target Lintas Benua!

Data menunjukkan sedikitnya 228 struktur dan peralatan militer di 15 situs pangkalan AS di wilayah Teluk hancur atau rusak berat. Temuan ini menyiratkan adanya kegagalan taktis dan ketidaksiapan Pentagon dalam mengantisipasi serangan balasan Iran yang sangat menghancurkan, sekaligus memicu perdebatan mengenai efektivitas sistem pertahanan udara AS yang selama ini dianggap tak tertembus.

Kehancuran paling parah dilaporkan terjadi di Markas Besar Armada ke-5 AS di Bahrain serta tiga pangkalan utama di Kuwait, yakni Ali Al-Salem, Camp Arifjan, dan Camp Buehring. Citra satelit menunjukkan bahwa serangan tersebut bukan dilakukan secara acak, melainkan menggunakan amunisi berpemandu presisi yang menyasar aset-aset bernilai tinggi.

Di antara daftar kerugian yang sangat mahal tersebut mencakup sistem pertahanan rudal Patriot, pembangkit listrik, lima situs penyimpanan bahan bakar, hingga fasilitas komunikasi satelit di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar. Bahkan, sistem radar THAAD yang sangat canggih di Yordania dan UEA dilaporkan turut hancur. Di Arab Saudi, sebuah pesawat komando dan kendali E-3 Sentry serta satu pesawat tanker pengisi bahan bakar hancur di Pangkalan Udara Prince Sultan, mempertegas bahwa Iran menargetkan urat nadi logistik dan komando militer AS di kawasan tersebut.

Kerugian di sektor udara pun tercatat sangat memilukan bagi Pentagon. Selain kehilangan 40 drone dan jet tempur selama operasi tempur dan insiden friendly fire, AS kehilangan 24 drone MQ-9 Reaper dan satu unit MQ-4C Triton yang berharga sekitar US$240 juta. Di lini pesawat tempur, empat F-15E Strike Eagle dan satu A-10 Warthog dilaporkan jatuh.

Namun, klaim paling kontroversial yang muncul adalah jatuhnya satu unit jet tempur stealth F-35, yang jika terbukti, akan menjadi catatan pertama dalam sejarah mengenai kerusakan tempur pada pesawat generasi kelima tersebut. Ketajaman serangan Iran terlihat dari ketiadaan kawah acak di sekitar target, yang menurut pakar militer Mark Cancian, menunjukkan efektivitas penggunaan munisi presisi Iran dalam menghantam hanggar, barak, dan gudang penyimpanan secara akurat.

Secara finansial, dampak ekonomi dari konflik ini diperkirakan mencapai angka yang fantastis. Meskipun Pentagon mengajukan estimasi biaya perang sebesar US$25 miliar, para pejabat AS dan analisis independen memperkirakan biaya pembangunan kembali instalasi dan penggantian aset yang hancur akan menelan biaya antara US$40 hingga 50 miliar. Bahkan, Partai Demokrat memperkirakan dampak total terhadap ekonomi AS bisa mencapai angka antara US$630 miliar hingga US$1 triliun.

Angka-angka tersebut mencerminkan “harga mahal” yang harus dibayar AS dalam menghadapi kekuatan regional yang mampu mengombinasikan kuantitas drone murah dengan kualitas rudal presisi tinggi, sebuah realitas baru yang memaksa Pentagon untuk merombak total strategi pertahanan pangkalan mereka di masa depan. (Gilang Perdana)

Pesawat Tanker KC-135 Stratotanker AS Kirim Sinyal Darurat di Selat Hormuz 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *