Penggunaan masif amunisi presisi tinggi oleh militer Amerika Serikat (AS) dalam fase awal operasi tempur di Timur Tengah melawan Iran telah memicu krisis pasokan rudal jelajah yang mengkhawatirkan. Laporan analisis pertahanan membeberkan fakta mengejutkan: lebih dari 400 unit rudal jelajah Tomahawk (Tomahawk Land Attack Missile/TLAM) telah ditembakkan hanya dalam kurun waktu 72 jam (tiga hari) pertama pertempuran. (more…)
Sinyal darurat dari aset strategis milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) mendadak memicu kegemparan di kawasan Teluk Persia pada Kamis, 20 Agustus 2026. Pesawat kendali dan peringatan dini (Airborne Warning and Control System/AWACS) berbasis Boeing E-3B Sentry dengan nomor registrasi 79-0002 dilaporkan memancarkan kode darurat umum (squawk 7700) saat melintas di koridor udara antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar. (more…)
Di balik demonstrasi kekuatan (power projection) Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) di perairan Timur Tengah, sebuah krisis kemanusiaan yang sunyi membayang di balik dinding baja kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72). Berlayar selama lebih dari delapan bulan tanpa kepastian tanggal pulang, beban tekanan mental ekstrem dilaporkan mulai meretakkan ketahanan psikologis para prajurit di atas kapal perang raksasa berbobot 100.000 ton tersebut. (more…)
Rangkaian serangan udara dan rudal yang dilancarkan Iran membuka tabir kerentanan nyata dari pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Sejak dimulainya Operation Epic Fury oleh AS dan sekutunya pada 28 Februari 2026, Berdasarkan analisis The Wall Street Journal (WSJ), Iran dilaporkan telah melepaskan lebih dari 2.000 serangan balasan yang menghantam sedikitnya 20 instalasi militer AS di delapan negara kawasan. (more…)
Pemerintah Serikat Serikat secara resmi menyetujui paket penjualan besar-besaran sebanyak 5.250 unit rudal pencegat (interceptor missile) MIM-104 Patriot kepada empat negara sekutu utamanya di kawasan Teluk, yaitu Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA). Langkah strategis ini diambil guna memperkuat serta memulihkan kembali persediaan amunisi pertahanan udara negara-negara tersebut yang terkuras akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan tingginya intensitas ancaman regional belakangan ini. (more…)
Perang skala besar dan konfrontasi sengit di Timur Tengah, khususnya pasca-eskalasi dengan Iran, memberikan pukulan telak bagi persediaan sistem pertahanan udara Amerika Serikat. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa stok rudal pencegat (interceptor) Patriot milik Angkatan Darat AS mengalami penurunan tajam hingga 65 persen. (more…)
Presiden Rusia Vladimir Putin melayangkan pujian terhadap efektivitas strategi perang laut asimetris yang diterapkan Iran di zona konflik Timur Tengah. Saat berbicara di hadapan para perwira Angkatan Laut Rusia (26/7/2026), Putin secara khusus menyoroti keberhasilan konsep “mosquito fleet” (armada nyamuk) milik Iran yang terbukti sangat efisien dalam menghadapi armada kapal perang modern yang jauh lebih besar dan mahal. (more…)
Produsen pertahanan asal Swedia, Saab, mengumumkan keberhasilannya mengamankan kontrak raksasa senilai 10,1 miliar Krona Swedia atau setara US$1,04 miliar untuk pengadaan dua unit pesawat sistem peringatan dini dan kontrol udara (Airborne Early Warning and Control/AEW&C) GlobalEye. (more…)
Dinamika pengadaan alutsista di kawasan Timur Tengah mencatat pergerakan yang signifikan. Setelah Mesir sukses meminang sistem artileri medan Self-Propelled Howitzer (SPH) K9 Thunder buatan Hanwha Aerospace, kini giliran Uni Emirat Arab (UEA) yang mengambil langkah serupa. (more…)
Dampak mematikan dari eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap aset-aset strategis Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) kian terpampang nyata ke hadapan publik. Sebuah pesawat tanker legendaris KC-135 Stratotanker dengan nomor ekor tail number 63-8028 milik Wing ke-168 Angkatan Udara Garda Nasional Alaska, dilaporkan tiba di pangkalan udara RAF Mildenhall, Inggris, pada 23 Mei 2026 setelah terbang transit melalui Bangor, Maine. (more…)