Dilema Mesin COGAG KRI Sriwijaya: Menakar Opsi Konversi Diesel Demi Pangkas Biaya Operasional Kapal Induk Pertama Indonesia

Kedatangan kapal induk eks-ITS Giuseppe Garibaldi (C551) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menandai tonggak sejarah baru bagi alutsista maritim Indonesia. Kapal induk hibah dari Pemerintah Italia tersebut dijadwalkan akan resmi menyandang nama KRI Sriwijaya pada 24 September 2026 mendatang.
Kehadiran platform jelajah ini disambut hangat sekaligus memicu analisis mendalam, terutama terkait besarnya biaya operasional harian serta skema perawatan sistem propulsi empat unit turbin gas General Electric/Avio LM2500 berkonfigurasi COGAG (Combined Gas Turbine and Gas Turbine).
Sistem pendorong COGAG murni pada Garibaldi sebenarnya memberikan rasio daya terhadap bobot (power-to-weight ratio) yang luar biasa, mampu memacu kapal bertonase 13.800 ton ini hingga kecepatan maksimum 30 knot. Namun, karakter mesin gas turbin dikenal sangat haus bahan bakar, bahkan saat kapal berlayar pada kecepatan jelajah ekonomis.
Berbeda dengan kapal kombatan yang mengusung konfigurasi mesin diesel hemat energi untuk pelayaran rutin, sistem COGAG terus-menerus mengonsumsi bahan bakar dalam jumlah besar. Karakteristik inilah yang berpotensi menjadi beban logistik membengkak bagi TNI AL jika kapal dioperasikan secara intensif di wilayah kepulauan Indonesia.
KAPAL ITS GIUSEPPE GARIBALDI RESMI TIBA DI JAKARTAhttps://t.co/REaJrEIIlO pic.twitter.com/eGGiyh9nSM
— TNI Angkatan Laut (@_TNIAL_) September 18, 2026
Menjawab tantangan efisiensi tersebut, PT PAL Indonesia membuka peluang untuk meremajakan sistem pendorong kapal induk ini. Direktur Utama PT PAL, Kaharuddin Djenod, mengonfirmasi bahwa industri pertahanan dalam negeri bersama galangan Fincantieri dari Italia sedang melakukan kajian mendalam untuk memodifikasi sistem pendorong (powering system) Garibaldi.
Jika dikalkulasi secara teknis, langkah paling rasional untuk menekan biaya operasional tanpa mengorbankan performa adalah mengonversi propulsi COGAG murni menjadi sistem kombinasi CODAG (Combined Diesel and Gas) atau CODLAG (Combined Diesel-Electric and Gas).
Kapal Induk Italia eks ITS Giuseppe Garibaldi Bawa Teknologi Propulsi COGAG, Ini Plus Minusnya!
Penggunaan mesin diesel sebagai pendorong jelajah utama bukanlah hal baru pada kapal pendarat amfibi maupun kapal induk helikopter sekelas Garibaldi. Kapal induk amfibi Dokdo class milik Korea Selatan (14.000 ton) mengandalkan empat unit mesin diesel SEMT Pielstick untuk mencapai kecepatan 23 knot.
Sementara kapal induk Juan Carlos class Spanyol (27.000 ton) menerapkan skema CODLAG yang memadukan mesin diesel MAN dan turbin gas GE LM2500. Bahkan kapal induk amfibi Mistral class Perancis memanfaatkan konfigurasi Diesel-Electric murni untuk menjamin efisiensi logistik pelayaran jarak jauh.
ROKS Marado (Dokdo Class): Kapal Induk Helikopter Andalan Korea Selatan
Secara teknis, mengintegrasikan mesin diesel untuk pelayaran jelajah (12–18 knot) menawarkan keuntungan besar bagi TNI AL. Konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dapat dipangkas secara drastis, jangkauan jelajah (operational range) kapal meningkat signifikan untuk sekali pengisian BBM, serta penggunaan jenis bahan bakar Marine Gas Oil (MGO) yang melimpah di depo pangkalan TNI AL seluruh Nusantara. Selain itu, teknisi Korps Teknik TNI AL dan PT PAL sudah berpengalaman merawat mesin diesel kapal perang berukuran besar.
Meski demikian, konversi ke sistem diesel bukan tanpa tantangan. Penggantian atau penambahan mesin diesel membutuhkan rekayasa teknis yang cukup rumit pada sistem transmisi (reduction gearbox) dan poros baling-baling (shaft line). Selain itu, mesin diesel memiliki ukuran fisik dan bobot yang lebih berat dibanding turbin gas, sehingga memerlukan kalkulasi ulang terhadap titik berat (center of gravity) serta stabilitas lambung kapal.
Jika turbin gas dilepas sepenuhnya dan beralih ke diesel murni, kecepatan maksimum kapal dipastikan akan turun ke kisaran 20–22 knot, serta menghasilkan getaran dan jejak suara (acoustic signature) yang lebih bising saat misi Perang Anti-Kapal Selam (AKS).
Di luar perdebatan teknis propulsi, pemerintah memproyeksikan KRI Sriwijaya sebagai platform komando mobil terdepan yang multifungsi. Selain siap menjalankan tugas Operasi Militer Perang (OMP), kapal ini akan dioptimalkan untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seperti pusat pengerahan helikopter, drone, serta sarana penanggulangan bencana alam dan kebakaran hutan (karhutla).
Pengalaman teknis yang didapat PT PAL dalam proses refurbishment dan kajian modifikasi mesin kapal induk ini diposisikan sebagai pendorong utama kemandirian industri galangan kapal nasional menuju penguasaan teknologi kapal kombatan permukaan berukuran besar di masa depan. (Gilang Perdana)
Pelajaran dari Thailand – Kapal Induk Beli Baru dan Berusia Muda Tapi Tak Sesuai Harapan



Demi pangkas biaya harus korbankan performa, nanti jalannya lebih lambat gimana? 😓