Tinggalkan Port Said Menuju Indonesia: Mengukur Biaya Operasional dan Karakter Mesin COGAC KRI Gajah Mada (ITS Garibaldi)

Pantauan sinyal otomatis Automatic Identification System (AIS) via MarineTraffic pada hari ini (28/8/2026) mengonfirmasi bahwa kapal induk helikopter eks ITS Giuseppe Garibaldi baru saja lepas sandar dari Port Said, Mesir, untuk melanjutkan pelayaran jarak jauh menuju Indonesia.

Baca juga: KRI Gajah Mada Resmi Berlayar ke Indonesia: Bedah Biaya Modernisasi dan Tantangan Teknis Eks Kapal Induk Italia Garibaldi 

Pelayaran historis kapal perang berbobot mati 14.100 ton yang kelak dikukuhkan sebagai KRI Gajah Mada ini menandai babak baru dalam modernisasi alutsista TNI AL. Namun, di balik manuver lintas samudera tersebut, perhatian para pengamat militer dan teknisi propulsi bahari kini tertuju pada efisiensi operasional sistem pendorong utamanya, mengingat platform ini membawa profil mesin yang benar-benar asing dalam inventaris kapal tempur permukaan TNI AL.

KRI Gajah Mada dipastikan menjadi satu-satunya kapal tempur utama TNI AL yang mengadopsi konfigurasi propulsi COGAC (Combined Gas Turbine and Gas Turbine). Sistem pendorong ini memadukan empat unit turbin gas General Electric LM2500 yang secara total sanggup menyemburkan daya puncak hingga 81.000 tenaga kuda (60 MW). Karakteristik mendasar dari turbin gas berbasis penerbangan (aeroderivative) adalah akselerasi responsif dan rasio daya terhadap bobot yang luar biasa tinggi, tetapi memiliki konsekuensi teknis pada tingkat konsumsi bahan bakar.

Berbeda dengan konfigurasi CODOG atau CODAD yang memadukan mesin diesel ekonomis untuk jelajah pelan, sistem COGAC murni mengandalkan turbin gas di segala rentang kecepatan. Hal ini membuat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis Marine Gas Oil (MGO) atau avtur pendorong berada di kisaran angka yang cukup tinggi meski kapal berlayar pada kecepatan ekonomis.

Kapal Induk Italia eks ITS Giuseppe Garibaldi Bawa Teknologi Propulsi COGAG, Ini Plus Minusnya!

Berdasarkan data teknis operasional Angkatan Laut Italia (Marina Militare), konsumsi BBM ITS Garibaldi pada kecepatan jelajah sedang 15 knot mencapai rata-rata 6.145 liter per jam. Jika dikalkulasikan dengan estimasi harga BBM industri untuk alutsista militer di kisaran Rp15.600 per liter, maka kapal induk helikopter ini memerlukan alokasi anggaran BBM sekitar Rp95,8 juta untuk setiap satu jam pelayaran.

Dalam skenario pelayaran jelajah nonstop 24 jam pada kecepatan tersebut, konsumsi bahan bakar menembus angka 147.480 liter, yang setara dengan perkiraan pengeluaran harian sekitar Rp2,3 miliar untuk komponen BBM pendorong. Nilai konsumsi ini secara proporsional meningkat saat kapal dipacu pada kecepatan tempur 20 knot, di mana empat turbin gas membutuhkan hingga 14.581 liter per jam atau memerlukan alokasi pendorong mendekati Rp227 juta per jam (setara Rp5,47 miliar per hari).

Jelang Kedatangan Kapal Induk eks ITS Garibaldi, Indonesia Teken LOI Helikopter Leonardo AW149 untuk TNI AL

Tantangan efisiensi operasional ini kian dinamis saat KRI Gajah Mada mulai beroperasi penuh di wilayah perairan tropis Indonesia. Suhu udara dan kelembapan tinggi di kawasan khatulistiwa secara teknis mengurangi kerapatan udara yang masuk ke ruang bakar turbin gas, yang berakibat pada penyesuaian efisiensi termal hingga 10–15 persen dibanding saat beroperasi di Laut Mediterania.

Dengan kalkulasi total biaya operasional tahunan yang diperkirakan mencapai Rp800 miliar hingga Rp1 triliun jika berlayar aktif, pimpinan TNI AL diprediksi akan menerapkan doktrin penggelaran yang sangat terukur. KRI Gajah Mada kemungkinan besar tidak diplot untuk patroli perairan rutin, melainkan difokuskan sebagai markas komando komposit (command ship), platform operasi amfibi terpadu, serta kapal rumah sakit pendukung bencana skala besar pada momentum strategis nasional. (Gilang Perdana)

Jelang Kedatangan KRI Gajah Mada, Skuadron Udara 100 Bangun Simulasi Geladak untuk Latihan ‘Deck Landing Practice’

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *