KRI Gajah Mada Resmi Berlayar ke Indonesia: Bedah Biaya Modernisasi dan Tantangan Teknis Eks Kapal Induk Italia Garibaldi 

Langkah bersejarah dalam modernisasi kekuatan maritim Indonesia resmi dimulai pada 24 Agustus 2026. Kapal induk penyerang ringan (STOVL aircraft carrier) bekas Angkatan Laut Italia, eks ITS Giuseppe Garibaldi (C 551), secara resmi melepaskan tali tambatnya di Pelabuhan Taranto untuk berlayar menuju Indonesia.

Baca juga: Hari Ini 43 Tahun Lalu, Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi Diluncurkan, Kini Bersiap Perkuat TNI AL

Pelayaran melintasi Terusan Suez dan Laut Merah ini memakan waktu lebih dari 20 hari di bawah pengawalan armada kapal perang Italia serta diawaki oleh kru gabungan Italia-Indonesia. Garibaldi dijadwalkan tiba di perairan Indonesia antara 15 hingga 20 September 2026, sebelum akhirnya diresmikan secara akbar oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai KRI Gajah Mada pada 25 September 2026. Lebih dari sekadar seremoni penerimaan hibah kapal gratis (zero-cost transfer), akuisisi kapal perang berbobot mati 14.150 ton ini menandai masuknya Indonesia ke dalam klub eksklusif pemilik kapal induk di Asia Tenggara.

Meskipun Italia menyerahkan badan kapal (hull) ini tanpa biaya transfer guna menghapus beban perawatan non-aktif senilai €5 juta per tahun dan biaya pembongkaran (scrapping) sebesar €18,7 juta, Indonesia selaku pengguna dihadapkan pada kalkulasi finansial serta teknis yang terbilang kompleks.

Seperti dikutip Armyrecognition.com, Pemerintah Indonesia diperkirakan harus mengucurkan dana antara €350 juta hingga €818 juta untuk skema reaktivasi, perbaikan struktur, serta modernisasi sistem persenjataan. Nilai modernisasi ini melonjak hingga 6,5 hingga 15,1 kali lipat dari nilai sisa buku kapal tersebut di Italia yang tercatat sebesar €54 juta. Biaya besar ini dialokasikan untuk membiayai pengiriman, perbaikan turbin gas General Electric LM2500, pembaruan total sistem instalasi kelistrikan, serta pembangunan pangkalan operasional utama di Teluk Ratai, Lampung, yang saat ini tengah mempercepat pengerjaan pengerukan alur laut dan fasilitas dermaga berdaya dukung tinggi.

Sambut Giuseppe Garibaldi, Dermaga Kapal Induk Pertama Indonesia di Teluk Ratai Terapkan Standar Khusus

Sisi teknis dan kesisteman menjadi tantangan terbesar yang harus diurai oleh TNI AL. Mengingat kapal yang dibangun pada dekade 1980-an ini diserahkan dalam status non-operasional dan minus sistem persenjataan utama (seperti peluncur rudal Aspide dan meriam CIWS OTO Melara DARDO yang telah dilepas), Jakarta wajib memutuskan apakah anggaran modernisasi tersebut akan mencakup penggantian total Combat Management System (CMS), radar penjejak udara, serta sensor penangkis serangan udara jarak pendek.

Tanpa peremajaan radar dan sistem pertahanan mandiri, KRI Gajah Mada hanya akan berfungsi sebagai kapal pengangkut helikopter/komando yang sangat bergantung pada pengawalan ketat kapal kombatan fregat atau korvet di sekelilingnya. Selain itu, peningkatan daya generator listrik menjadi krusial apabila Indonesia berniat menanamkan sistem pertempuran terintegrasi berbasis komputer dan konsol kontrol drone masa depan.

Kapasitas operasional udara KRI Gajah Mada juga dirancang untuk membawa doktrin baru melalui potensi integrasi drone tempur unmanned aerial vehicle (UAV) Bayraktar TB3 buatan Turki. Dengan dek penerbangan sepanjang 174 meter yang dilengkapi landasan pacu bersudut ski-jump 4 derajat, struktur kapal ini dinilai sangat kompatibel untuk lepas-landas dan pendaratan drone bersayap lipat tersebut.

Jika rencana konversi operasional drone ini terealisasi bersama armada helikopter gabungan (TNI AL, AU, dan AD), KRI Gajah Mada akan bertransformasi dari kapal penjelajah anti-kapal selam klasik menjadi pengangkut unmanned air wing berdensitas tinggi. Langkah ini sekaligus menjadi kawah candradimuka bagi lebih dari 500 prajurit TNI AL dalam menguasai doktrin pengoperasian kapal induk, sebelum Indonesia melangkah ke target jangka panjang yang lebih besar: mengoperasikan empat kapal induk helikopter amphibious di masa depan. (Bayu Pamungkas)

Kapal Induk Italia eks ITS Giuseppe Garibaldi Bawa Teknologi Propulsi COGAG, Ini Plus Minusnya!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *