Berdinas Sejak 1936, Kapal Penyapu Ranjau T-8 Chekan Korea Utara Jadi Kapal Perang Aktif Tertua di Dunia

Dunia maritim militer sempat dibuat takjub oleh keperkasaan Parnaíba (U-17) milik Angkatan Laut Brasil. Kapal patroli sungai yang diproduksi pada 1937 dan memperkuat armada Brasil sejak 1938, selama ini dikenal luas sebagai kapal perang operasional tertua di dunia yang masih aktif bertugas.

Baca juga: Perkuat Arsenal Nuklir, Korea Utara Resmi Operasikan Destroyer Peluncur Rudal ‘Kang Kon’ (Choe Hyon Class)

Namun, pameran alutsista Angkatan Laut Korea Utara (Korean People’s Navy/KPN) di Pelabuhan Wonsan pada 6 September 2026 mendobrak rekor tersebut. Saat peresmian kapal perusak (destroyer) berpeluru kendali terbaru Kang Kon (Choe Hyon Class), Pyongyang secara mengejutkan juga menampilkan sebuah kapal penyapu ranjau veteran buatan Uni Soviet, T-8 Chekan (Project 53 Fugas class). Berdasarkan data sejarah, T-8 Chekan mulai dibangun (launched) pada 27 Desember 1936 dan resmi berdinas di Angkatan Laut Uni Soviet pada 2 November 1938, menjadikannya lebih tua dalam tanggal peluncurannya dibanding Parnaíba U-17.

Kemunculan T-8 Chekan di Pelabuhan Wonsan menyajikan kontras visual yang luar biasa. Kapal penyapu ranjau berbobot 500 ton buatan dekade 1930-an tersebut bersandar persis di samping Kang Kon, kapal perusak kawal rudal (VLS-equipped nuclear-capable destroyer) berbobot 5.000 ton yang menjadi simbol modernisasi armada Laut Timur Korea Utara.

Secara dimensi, T-8 Chekan yang berpanjang 62 meter hanya berukuran sekitar 43 persen dari panjang kapal perusak Kang Kon, serta hanya memiliki bobot sekitar 10 persen dibanding armada baru tersebut. Kehadiran T-8 di acara resmi tahun 2026 tidak sekadar inventarisasi fisik, melainkan jembatan sejarah yang menghubungkan transfer alutsista pertama era pasca-Perang Korea dari Uni Soviet hingga era kemandirian industri pertahanan rudal Pyongyang modern.

Uni Soviet menyerahkan T-8 Chekan bersama kapal saudaranya, T-2 Tros, kepada Korea Utara pada Desember 1953, beberapa bulan setelah Perang Korea usai. Sebelum penyerahan ini, kekuatan permukaan KPN sangat terbatas dan didominasi oleh kapal-kapal patroli ringan serta torpedo boat kecil yang dengan mudah dihancurkan oleh armada Sekutu pada awal Perang Korea.

Memiliki panjang 62 meter, lebar 7,41 meter, dan draft 2,5 meter, T-8 Chekan mempunyai bobot beban penuh sekitar 503 hingga 535 ton. Kapal ini digerakkan oleh dua unit mesin diesel berkekuatan total 2.800 horse power yang mampu melaju hingga kecepatan 17,8 knot dengan jarak jelajah mencapai 3.000 mil laut pada kecepatan ekonomis.

Persenjataan aslinya terbilang padat untuk ukuran kapal di bawah 550 ton, mengandalkan satu meriam 100 mm B-24-BM, tiga meriam 37 mm 70-K, empat senapan mesin 12,7 mm, serta sanggup membawa 31 unit ranjau M1926 dan 20 peluncur bom laut (depth charge).

Arsitektur lambung Project 53 Fugas class terbukti sangat ideal di mata para insinyur Korea Utara. Pada dekade 1960-an, Korea Utara melakukan reverse-engineering terhadap geometri lambung T-8 dan T-2 untuk membangun lima unit korvet Sariwon class. Dengan dimensi yang hampir identik yakni panjang 61,5 meter dan lebar 7,5 meter, Korut mengonversi fungsi kapal penyapu ranjau Soviet ini menjadi korvet kawal pantai (gun corvette) berbobot 650 ton yang disesaki dengan kanon 57 mm, 37 mm, senapan mesin 14,5 mm, serta peluncur roket anti-kapal selam RBU-1200.

Sementara itu, saudara kandung T-8 yakni T-2 Tros sempat dimodifikasi besar-besaran pada awal 1990-an dengan pemasangan meriam 85 mm ZIS-S-53 milik tank T-34 sebelum akhirnya lenyap dari catatan pengamatan internasional setelah 1993.

Sebaliknya, T-8 Chekan terus bertahan melintasi dekade. Meski sempat dicoret dari daftar dinas aktif (stricken) pada tahun 2005, fisik lambungnya tetap dirawat dengan sangat baik oleh Angkatan Laut Korea Utara hingga kembali dimunculkan ke publik pada September 2026.

Riwayat Parnaíba (U-17): Kapal Perang Aktif Tertua di Dunia yang Masih Perkasa Menjaga Sungai Brasil

Pemandangan di Wonsan secara gamblang memperlihatkan lompatan kapasitas teknologi maritim Korea Utara selama delapan dekade, berawal dari platform 500 ton berpersenjataan meriam dan ranjau mekanis, menuju doktrin pemukul jarak jauh berbasis konsentrasi puluhan tabung Vertical Launch System (VLS) yang mengusung rudal jelajah strategis Hwasal-2 serta rudal anti-kapal Kumsong-3.

Keberadaannya di pelabuhan Wonsan resmi menegaskan keawetan alutsista kayu dan baja era pra-Perang Dunia II yang masih mampu mengapung gagah hingga usia 90 tahun. (Gilang Perdana)

T-43 Class: Generasi Perdana Kapal Penyapu Ranjau TNI AL

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *