Armada UCAV MQ-9 Reaper USAF Tembus Batas Kritis Usai Kehilangan 45 Drone dalam Perang Iran

MQ-9 Reaper

Operasi militer Amerika Serikat melawan Iran dengan label Operation Epic Fury harus dibayar mahal menyusul jatuhnya puluhan pesawat nirawak (unmanned aerial vehicle/UAV). Sejak kampanye militer diluncurkan pada akhir Februari 2026, militer AS dilaporkan telah kehilangan sedikitnya 45 unit drone tempur MQ-9 Reaper. Kerugian masif ini memukul kekuatan intai dan penyerang jarak jauh AS yang beroperasi di titik-titik krusial kawasan, khususnya di sekitar jalur maritim vital Selat Hormuz.

Baca juga: Buntut Perang Lawan Iran: Armada UCAV MQ-9 Reaper AS Banyak Rontok, Pentagon Kelabakan Cari Pengganti

Berdasarkan laporan The Washington Post yang mengutip keterangan pejabat pertahanan Amerika Serikat, angka 45 unit tersebut setara dengan hampir seperempat dari total armada operasional awal MQ-9 Reaper militer AS yang diperkirakan berjumlah 185 unit. Tingkat kerentanan yang dialami drone berharga fantastis—berada di kisaran US$30 juta hingga US$50 juta per unit—memicu keterkejutan di kalangan pejabat tinggi Pentagon. Total nilai finansial dari akumulasi kerugian armada Reaper ini diperkirakan telah menembus angka US$1,3 miliar.

Kerugian masif dalam Operation Epic Fury ini kian memperparah krisis ketersediaan armada drone Angkatan Udara AS (USAF). Dalam kesaksian resminya di hadapan Kongres AS, Deputy Chief of Staff for Plans and Programs USAF, Lt. Gen. David Tabor, mengungkapkan bahwa total inventaris aktif MQ-9 Reaper yang dioperasikan USAF kini menyusut tajam hingga menyisakan sekitar 135 unit saja.

Angka tersebut berada jauh di bawah ambang batas minimum operasional (inventory floor) yang dimandatkan Kongres sebesar 189 unit. Penurunan drastis ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena USAF memasuki konflik setelah sebelumnya telah mempensiunkan sebagian unit tua, ditambah produsen General Atomics telah menghentikan jalur produksi baru MQ-9A pada tahun 2025.

Analisis operasional menunjukkan bahwa tingginya angka kerugian ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor teknis dan taktis di medan tempur. Sebagian unit Reaper jatuh akibat ditembak langsung oleh jaringan sistem pertahanan udara (hanud) Iran saat melakukan patroli ketat di zona konflik.

Sementara itu, sebagian unit lainnya mengalami gangguan tautan komunikasi (communication link failure) serta peretasan (jamming) sinyal kendali di tengah tingginya intensitas perang elektronik (electronic warfare). Menariknya, di tengah tingginya tingkat kehilangan armada USAF, belum ada satu pun unit MQ-9 Reaper milik Korps Marinir AS (USMC) yang dilaporkan tertembak jatuh selama Operation Epic Fury berlangsung.

Peningkatan Kapabilitas ISR Regional, Korps Marinir AS Kerahkan MQ-9A Reaper ke Filipina

Tingginya tingkat kehilangan (attrition rate) drone berharga mahal ini menuai kritik tajam di dalam negeri, terutama terkait efisiensi biaya dan daya tahan platform drone non-siluman saat berhadapan dengan lawan berteknologi seimbang (near-peer adversary).

Menanggapi defisit armada yang mengkhawatirkan tersebut, Pentagon dilaporkan telah mengajukan alokasi anggaran darurat sebesar US$67 miliar kepada Kongres. Anggaran raksasa ini dialokasikan untuk memulihkan pasokan alutsista yang tergerus, berburu sisa-sisa persediaan unit MQ-9 yang belum terpakai di industri, serta mempercepat modernisasi sistem drone agar lebih tahan terhadap gangguan perang elektronik dan gempuran rudal pertahanan udara di masa depan. (Gilang Perdana)

Cina Pamerkan ‘Jiu Tian’: Drone Kombatan 10 Ton dengan Desain ‘Kawin Silang’ RQ-4 Global Hawk dan MQ-9 Reaper

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *