Grup 5 Kopassus Perkuat Lini Intai: Adopsi Drone VTOL V-Bat yang Bisa Diluncurkan dari Bak Truk

Satuan elit Grup 5 Kopassus TNI AD baru-baru ini memperkuat taringnya di bidang intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) dengan mengakuisisi drone canggih V-Bat buatan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Shield AI. Langkah ini menempatkan Korps Baret Merah pada level baru dalam peperangan asimetris modern, di mana mobilitas tinggi dan kemampuan deteksi dini menjadi kunci kemenangan di lapangan.

Baca juga: Ukraina ‘Diam-diam’ Operasikan V-Bat – Drone Intai VTOL Pemandu HIMARS yang Tahan Jamming

Grup 5 Kopassus, atau yang secara resmi dikenal sebagai Satuan Intelijen Kopassus, merupakan salah satu unit paling rahasia dan strategis di bawah jajaran Komando Pasukan Khusus TNI AD. Berbeda dengan Grup 1 atau Grup 2 yang lebih berfokus pada operasi tempur hutan dan para-komando, Grup 5 memiliki spesialisasi dalam bidang intelijen tempur.

Keunggulan utama yang membuat V-Bat sangat mematikan bagi musuh adalah desain Vertical Take-Off and Landing (VTOL) yang unik. Berbeda dengan drone militer konvensional yang memerlukan landasan pacu panjang—yang sering kali mudah dipantau dan menjadi sasaran empuk serangan udara—V-Bat dapat lepas landas secara vertikal seperti helikopter dan bertransisi menjadi penerbangan horizontal layaknya pesawat sayap tetap.

Shield AI dalam pernyataan resminya di platform X menekankan bahwa drone ini memberikan kemampuan luar biasa bagi Grup 5 dengan harga yang jauh lebih kompetitif. Kemampuannya yang dapat dimuat di bak truk membuat musuh mustahil memprediksi di mana atau kapan drone ini akan diluncurkan.

Secara teknis, V-Bat memiliki spesifikasi yang sangat mumpuni untuk mendukung misi pasukan khusus. Drone ini mampu terbang terus-menerus selama lebih dari 10-11 jam dengan jangkauan kendali mencapai 100 kilometer.

Dengan berat sekitar 56 kilogram, V-Bat dapat membawa muatan (payload) serbaguna seberat 11 kilogram, mulai dari kamera elektro-optik/inframerah (EO/IR) definisi tinggi hingga radar bukaan sintetis untuk melihat menembus rimbunnya hutan atau awan tebal. Dimensinya yang kompak namun tangguh memungkinkannya beroperasi di medan yang sulit dijangkau oleh alutsista berat.

Salah satu fitur paling revolusioner yang sangat relevan bagi operasi Grup 5 Kopassus adalah ketahanan sistemnya terhadap gangguan lawan. Dalam medan tempur modern, musuh sering kali menggunakan teknologi pengacak sinyal (jamming). Namun, V-BAT dirancang dengan kemampuan otonom tingkat tinggi.

Shield AI menegaskan bahwa “bahkan ketika GPS dan komunikasi terganggu, pesawat tetap terbang.” Hal ini dimungkinkan oleh teknologi navigasi berbasis visi dan kecerdasan buatan (AI) yang tertanam di dalamnya, memungkinkan drone menyelesaikan misi atau kembali ke pangkalan secara mandiri meski berada dalam lingkungan tanpa sinyal satelit.

https://www.indomiliter.com/martinuav-v-bat-drone-vtol-berdesain-revolusioner-ideal-untuk-peran-militer-dan-sipil/

Bagi pasukan khusus seperti Grup 5, kemampuan “tidak terdeteksi, di mana saja, kapan saja” adalah keunggulan mutlak. Drone ini tidak hanya bertugas memantau pergerakan teroris atau separatis dari ketinggian, tetapi juga dapat menjadi “mata” bagi tim penyerbu secara real-time.

Keheningan suara mesin dan profilnya yang ramping membuatnya sulit dideteksi oleh telinga maupun radar musuh di darat. Dengan masuknya V-Bat ke dalam inventaris Kopassus, TNI AD kini memiliki instrumen yang memungkinkan mereka melancarkan serangan presisi dengan dukungan data intelijen yang tak terputus, memastikan setiap operasi berjalan dengan risiko minimal bagi personel.

Akuisisi ini menjadi sinyal kuat bahwa TNI AD terus bergerak maju mengikuti tren teknologi global, memastikan bahwa satuan elitnya tetap menjadi salah satu yang paling ditakuti di kawasan dengan dukungan teknologi AI paling mutakhir dari Shield AI. (Gilang Perdana)

https://www.indomiliter.com/cina-luncurkan-copy-an-v-bat-drone-intai-vtol-dengan-desain-tail-sitter/

One Comment