Kemarahan di ‘Benua Biru’: Negara-negara Kepulauan Pasifik Kompak Kutuk Uji Coba Rudal SLBM Cina

Uji coba peluncuran rudal balistik dari kapal selam (Submarine-Launched Ballistic Missile/SLBM) Julang-2 (JL-2) oleh Angkatan Laut Cina (PLAN) pada 6 Juli 2026 berbuntut panjang. Jika sebelumnya riak protes datang dari kekuatan besar kawasan seperti Taiwan, kini gelombang kecaman keras datang serentak dari negara-negara kepulauan kecil di Samudera Pasifik.
Mereka menilai Beijing telah mengotori jantung dari apa yang mereka sebut sebagai “Benua Biru” (Blue Continent). Menariknya, aksi solidaritas ini tidak hanya disuarakan oleh negara-negara yang pro-Barat. Negara-negara Pasifik yang selama ini berutang budi secara finansial kepada Beijing untuk pembangunan infrastruktur mereka, bahkan mitra keamanan terdekat Cina di Pasifik seperti Kepulauan Solomon, terpantau ikut menandatangani petisi protes tersebut.
Berdasarkan data pemantauan pertahanan dan pejabat regional Pasifik, rudal berkemampuan nuklir yang dipasangi hulu ledak tiruan (dummy warhead) tersebut jatuh di sebuah titik di antara Nauru, Tuvalu, dan Kepulauan Solomon.
Meskipun Cina bersikeras bahwa pengujian tersebut “tidak ditujukan ke negara mana pun” dan tidak melanggar hukum internasional, para pengamat melihat Beijing sengaja memanfaatkan celah hukum laut internasional (UNCLOS). Rudal tersebut jatuh di koridor sempit perairan internasional yang berada tepat di sela-sela Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) milik negara-negara pulau tersebut.
Ancaman dari Kedalaman: Rudal SLBM JL-2 Cina Terdeteksi di Seantero Samudera Pasifik
Donald Rothwell, seorang pakar hukum maritim internasional, menjelaskan bahwa meskipun status ZEE memberikan kedaulatan penuh bagi negara pulau atas sumber daya laut dan patroli penjaga pantai, hukum internasional memang tidak secara eksplisit melarang uji coba rudal militer di luar batas ZEE tersebut. Namun, tindakan memanfaatkan celah ini dianggap sangat provokatif.
Presiden Palau, Surangel Whipps, yang akan menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan Pemimpin Pasifik bulan depan, mengecam keras taktik ini. “Kami mendeteksi rudal meluncur langsung ke jantung Pasifik tanpa pemberitahuan sebelumnya, tepat berada di antara batas ZEE kami,” tegasnya.
On July 6, a 🇨🇳PLAAN SSBN (possibly Type 094 Jin-class), test fired an SLBM (possibly JL-2 / Ju Lang-2), from the South China Sea.
‘Dummy Warhead’ of SLBM impacted 7,300+ km away, in South Pacific ocean, near EEZ of 🇰🇮Kiribati / 🇹🇻Tuvalu (roughly between 🇺🇸Hawaii and Australia). pic.twitter.com/6fpkRRWcyh
— Hero For Fun (@XClassHero) July 8, 2026
Kemarahan para pemimpin Pasifik semakin tersulut oleh masalah transparansi. Hanya beberapa hari sebelum rudal diluncurkan, utusan khusus Cina untuk Pasifik baru saja menggelar pertemuan resmi dengan Forum Kepulauan Pasifik (Pacific Islands Forum). Dalam pertemuan tersebut, Beijing bahkan menggelontorkan sumbangan dana sebesar US$1 juta untuk blok regional tersebut. Namun, dalam diskusi tersebut, pihak Cina sama sekali tidak menyinggung atau memberikan bocoran mengenai rencana uji coba rudal raksasa yang akan datang.
Langkah Cina yang hanya memberikan notifikasi beberapa jam sebelum peluncuran kepada segelintir negara dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap kedaulatan 18 anggota forum. Sebagai catatan, negara-negara ini menganggap diri mereka sebagai pelindung atas 20 persen permukaan bumi, yang mengelola ruang laut gabungan seluas 25 juta kilometer persegi.
Menteri Pemerintah Kiribati, Ruth Cross Kwansing, menyatakan bahwa bagi masyarakat Pasifik, laut bukanlah ruang kosong tak berpenghuni atau zona penyangga (buffer zone) bagi persaingan kekuatan global. “Laut adalah ruang hidup, mata pencaharian, dan identitas kami. Apa yang terjadi di satu bagian samudra ini akan bergetar dan berdampak pada kami semua,” ungkap Kwansing.
Kecaman tersebut juga didorong oleh trauma sejarah yang mendalam. Wilayah Pasifik memiliki sejarah kelam sebagai medan uji coba senjata pemusnah massal oleh kekuatan Barat di masa lalu. Seperti Amerika Serikat pernah melakukan 67 kali detonasi nuklir antara tahun 1946 dan 1958 di Kepulauan Marshall, dan hingga kini masih rutin menguji rudal balistik di sana. Kemudian Perancis dan Inggris juga tercatat aktif melakukan uji coba nuklir di kawasan Pasifik sebelum akhirnya berhenti pada tahun 1996.
Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape, menegaskan bahwa ini harus menjadi “uji coba rudal terakhir yang dilakukan di perairan Pasifik,” sebuah pesan peringatan yang tidak hanya ditujukan kepada Cina, melainkan kepada seluruh kekuatan militer dunia. (Bayu Pamungkas)
Citra Satelit Singkap Kapal Selam Misterius Cina Tanpa Menara Komando di Jiangnan


