Dongkrak Kapasitas Global: Safran Targetkan Produksi 1.400 Bom Pintar AASM Hammer pada 2026

Perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan terkemuka asal Perancis, Safran, mengumumkan rencana ambisius untuk memproduksi sebanyak 1.400 unit bom pintar terpandu dari keluarga AASM (Armement Air-Sol Modulaire – Air-to-Ground Armament) Hammer (Highly Agile Modular Munition Extended Range) sepanjang tahun 2026.
CEO Safran, Olivier Andries, mengungkapkan dalam sebuah wawancara bahwa lonjakan target manufaktur ini akan dibarengi dengan investasi besar senilai 120 juta euro di pabrik mereka yang berlokasi di Montluçon, serta pembukaan 150 lapangan kerja baru. Langkah taktis ini merupakan bagian dari paket investasi global senilai 1,4 miliar euro yang telah disetujui Safran guna memperluas kapasitas produksi mereka di seluruh dunia.
Pabrik Montluçon sendiri memegang peranan krusial sebagai pusat perakitan peralatan berteknologi tinggi, termasuk kit AASM—yang terdiri dari sistem pemandu dan roket pendorong untuk dipasang pada bom konvensional—serta giroskop presisi tinggi yang memiliki ketahanan mutakhir terhadap gangguan elektronik atau jamming. Lewat suntikan dana segar ini, Safran bahkan memproyeksikan produksi giroskop mereka akan melonjak tiga kali lipat, dari 10,000 unit menjadi 30.000 unit per tahun pada dekade mendatang.
Akselerasi produksi yang dilakukan oleh Safran ini mencatatkan tren pertumbuhan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir berkat dukungan penuh dari pemerintah Perancis. Sebagai gambaran, performa manufaktur Safran melompat dari hanya memproduksi sekitar 200 kit presisi per tahun menjadi 830 unit, sebuah pencapaian yang melampaui target awal mereka yang dipatok di angka 600 unit. Memasuki pertengahan tahun, Kementerian Pertahanan Perancis secara resmi menyuntikkan dana tambahan sebesar 128 million euro untuk mempercepat skala produksi AASM Hammer menyusul pembuktian efektivitasnya yang sangat tinggi di medan tempur Ukraina.

Efek domino dari investasi tersebut langsung terasa, di mana output produksi bom pintar berpemandu ini berhasil terdongkrak hingga menyentuh angka sekitar 1.080 unit, sebelum akhirnya menatap target baru sebanyak 1.400 unit. Bersamaan dengan penguatan lini produksi tersebut, Safran juga memperkenalkan varian tercanggih teranyar bernama Hammer XLR yang mengadopsi mesin turbojet, sebuah inovasi radikal yang mendongkrak jangkauan tembak maksimum bom pintar ini secara drastis dari 70 kilometer menjadi 150 hingga 200 kilometer jika dilepaskan dari ketinggian ideal.
Kabar mengenai meroketnya kapasitas produksi AASM Hammer ini menjadi angin segar sekaligus sorotan penting bagi publik pertahanan di tanah air. Jenis bom pintar generasi baru ini merupakan salah satu arsenal utama yang akan melengkapi dan memperkuat taring jet tempur Rafale pesanan Indonesia yang dibeli dari Perancis.

Hubungan erat ini terlihat nyata saat unit perdana jet tempur Rafale gelombang pertama diserahkan secara resmi kepada TNI Angkatan Udara di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma belum lama ini. Dalam acara penyerahan yang dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto tersebut, pihak pabrikan secara khusus memamerkan replika bom pintar Hammer 250 berdampingan dengan rudal udara-ke-udara jarak jauh pamungkas, Meteor, tepat di depan hadapan orang nomor satu di Indonesia tersebut.
Kehadiran kombinasi maut antara rudal Meteor dan bom pintar AASM Hammer ini menegaskan bahwa Rafale TNI AU tidak hanya hadir sebagai pesawat penggentar di udara, namun juga memiliki taring pelumpuh target darat yang sangat presisi dengan sokongan rantai pasok global Safran yang kini kian solid dan mandiri. (Bayu Pamungkas)
Australia Sukses Produksi Hulu Ledak Bom Pintar, Siap Dipasang di Jet Tempur F-35A


