Arsitektur Kelistrikan Kapal Selam Scorpene Evolved: Cara Naval Group Mencegah Thermal Runaway Baterai Lithium-Ion

(Ilustrasi)

Keputusan Indonesia untuk mengadopsi varian terbaru kapal selam Scorpene Evolved buatan Naval Group Perancis menandai lompatan besar dalam arsitektur kelistrikan kapal selam konvensional (SSK). Tidak seperti kapal selam generasi terdahulu yang mengandalkan baterai timbal-asam (Lead-Acid) konvensional, Scorpene Evolved mengusung konsep Full-Electric berbasis Baterai Lithium-Ion (Li-Ion).

Baca juga: PT PAL Percepat Dua Bulan Jadwal First Steel Cutting Kapal Selam Scorpene Evolved

Kendati menawarkan kerapatan energi dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi, transisi ke teknologi Lithium-Ion membawa tantangan keselamatan tersendiri di bawah laut, yakni ancaman thermal runaway.

Dalam dunia arsitektur kelistrikan maritim, baterai timbal-asam tradisional memang memiliki kerapatan energi yang rendah dan membutuhkan proses perawatan berkala yang rumit, termasuk risiko pelepasan gas hidrogen saat pengisian daya. Namun, baterai timbal-asam relatif stabil dari ancaman reaksi kimia berantai.

Sebaliknya, sel Baterai Lithium-Ion menyimpan energi dalam jumlah sangat padat dalam volume ringkas. Jika terjadi kegagalan internal, short circuit, atau kebocoran termal pada satu sel, suhu dapat melonjak drastis dalam hitungan detik. Reaksi kimia ini memicu thermal runaway, yakni kebakaran kimia mandiri yang menghasilkan oksigen sendiri sehingga tidak bisa dipadamkan dengan air maupun gas pemadam standar di dalam ruang tertutup kapal selam.

Perkuat Scorpene Evolved Indonesia, Saft Pasok Baterai Lithium-ion Kapal Selam Naval Group

Guna mengantisipasi risiko di kedalaman ratusan meter, Naval Group merancang arsitektur keamanan berlapis yang berpusat pada Battery Management System (BMS) kelas militer dan sistem containment pasif. BMS bertindak sebagai otak elektronik yang memantau parameter arus, tegangan, dan temperatur di tingkat sel secara real-time.

Jika terdeteksi anomali suhu sekecil apa pun, BMS akan secara otomatis mengisolasi modul baterai yang bermasalah dari jaringan listrik utama sebelum reaksi berantai menyebar. Selain itu, setiap sel baterai dibungkus dalam modul containment khusus berdaya tahan tinggi yang dirancang untuk menahan tekanan tinggi serta mengalirkan gas hasil pembakaran secara terisolasi keluar dari kompartemen awak melalui saluran pembuangan darurat.

Bedah SUBTICS: ‘Otak’ Kapal Selam Scorpene yang Pangkas Awak Hingga Sisa 30-an Personel

Keputusan Naval Group untuk tidak menyertakan opsi modul AIP (Air-Independent Propulsion) dan lebih memilih konfigurasi Full-Electric berbasis Lithium-Ion didasari oleh efisiensi taktis dan keunggulan operasional. Sistem AIP tambahan pada kapal selam konvensional memang memungkinkan penyelaman lebih lama, tetapi membutuhkan kompartemen lambung tambahan yang memperbesar ukuran kapal serta memerlukan rantai logistik bahan bakar khusus seperti hidrogen atau zat asam cair yang rumit di pangkalan.

Dengan memanfaatkan kemajuan kerapatan energi Baterai Lithium-Ion terbaru, Scorpene Evolved mampu mencapai daya tahan penyelaman (endurance) yang mendekati kapal selam ber-AIP, namun dengan kemampuan berlayar pada kecepatan tinggi (high-speed transit) yang jauh lebih lama serta waktu pengisian daya (recharge time) yang jauh lebih singkat melalui pengerahan generator diesel modern.

Sistem Pneumatic Water Ram: Cara Kapal Selam Scorpene Class Luncurkan Torpedo Tanpa Jejak Akustik

Lompatan teknologi arsitektur kelistrikan ini menjadikan Scorpene Evolved pilihan yang sangat andal bagi TNI AL untuk beroperasi di perairan kepulauan Indonesia. Dengan integrasi BMS canggih dan sistem pengisolasian sel yang ketat, keunggulan taktis Baterai Lithium-Ion dapat dimaksimalkan tanpa mengorbankan keselamatan jiwa para prajurit kapal selam di dalam kompartemen bertekanan. (Haryo Adjie)

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *