Bedah SUBTICS: ‘Otak’ Kapal Selam Scorpene yang Pangkas Awak Hingga Sisa 30-an Personel

Dalam doktrin peperangan bawah laut modern, efisiensi operasional dan kecepatan pengambilan keputusan ditentukan oleh seberapa canggih Submarine Tactical Integrated Combat System (SUBTICS) yang diusungnya. Dikembangkan oleh Naval Group (d/h DCNS), SUBTICS merupakan sistem manajemen pertempuran (Combat Management System/CMS) terintegrasi yang bertindak sebagai “otak sentral” bagi kapal selam Scorpene class.
Baca juga: DCNS Tawarkan SUBTICS Combat Management System dalam Paket Overhaul KRI Cakra 401
Kehadiran arsitektur digital canggih ini menjadi alasan utama mengapa platform kapal selam Scorpene hanya membutuhkan kru yang sangat efisien—sekitar 30 hingga 45 personel—dibandingkan kapal selam generasi terdahulu yang memerlukan hingga 60 orang lebih.
Kunci utama minimnya kebutuhan awak pada kapal selam Scorpene terletak pada otomatisasi tinggi dan penggunaan konsol multifungsi (Multifunction Consoles/MFC) berbasis arsitektur terbuka (Open Architecture). Seluruh data dari berbagai sensor—mulai dari sistem sonar, periskop/optronik, radar, ESM (Electronic Support Measures), hingga sistem navigasi—diumpan secara langsung (real-time) ke dalam satu jaringan bus serat optik berkecepatan tinggi.
Di dalam Pusat Informasi Tempur (Combat Information Center/CIC), para operator tidak lagi terisolasi dalam satu tugas sensor spesifik; tiap konsol dapat menampilkan gambaran taktis (Tactical Picture) yang menyeluruh hanya melalui tombol kendali terpadu.
DCNS SUBTICS (SUBmarine Tactical Integrated Combat System) consoles. System is used in Agosta 90B, U209, A12/A17 & Scorpene SSKs, Le Triomphant & Le Terrible SSBNs and in Barracuda & Rubis SSNs.
Photo by DCNS. pic.twitter.com/1yTTPASslp
— Global Defense Insight (@Defense_Talks) January 8, 2022
Di ranah penjejakan akustik, SUBTICS menggabungkan input dari susunan sensor bawah air yang sangat kompleks, terutama Flank Array Sonar (sonar pasif berukuran besar di sepanjang lambung samping) dan Towed Array Sonar (sonar tarik pasif berbentuk kabel panjang yang diulurkan di belakang kapal).
Flank Array bertugas mendeteksi frekuensi menengah hingga tinggi dengan cakupan spasial yang luas di sisi kapal, sementara Towed Array melacak sinyal akustik frekuensi sangat rendah (Very Low Frequency) yang terpancar dari jarak puluhan mil laut, sekaligus menghilangkan hambatan efek bising (self-noise) dari lambung kapal sendiri.
#SUBTICS combat system on Brazil’s first #Scorpene #submarine Riachuelo.
@CovertShores @KingNeptune767 @mrdickstirn @JivTurky @subvet88 @Saturnax1 pic.twitter.com/Ic7vGtShAA
— Johann (@Johann_U96) May 9, 2020
Tantangan terbesar operator sonar di perairan dangkal maupun samudra adalah fenomena acoustic clutter—yaitu ribuan jejak suara yang dihasilkan oleh biologi laut, seperti kawanan udang (snapping shrimp), paus, hingga kebisingan latar belakang gelombang. Di sinilah algoritma Data Fusion pada SUBTICS menunjukkan keunggulannya. Sistem ini secara otomatis melakukan proses korelasi, klasifikasi, dan pemisahan data akustik (acoustic signature) tanpa harus membebani operator dengan analisis manual yang memakan waktu.
Algoritma Data Fusion bekerja dengan membandingkan frekuensi dan pola kebisingan masukan terhadap basis data perpustakaan akustik (acoustic library) yang tersimpan dalam sistem. Sinyal yang memiliki karakteristik biologi laut atau suara alam akan langsung disaring (filtered) dan ditandai sebagai objek non-ancaman.
Ada Potensi Peretasan Data CMS Kapal Selam, Naval Group Gelar Investigasi
Sebaliknya, jika sistem mendeteksi jejak akustik khas seperti kavitasi baling-baling, putaran mesin diesel, atau frekuensi sonar aktif milik kapal perang musuh, SUBTICS akan langsung mengunci target (target tracking), menghitung Target Motion Analysis (TMA) secara otomatis, dan menyajikannya dalam bentuk data solusi penembakan (firing solution) bagi torpedo maupun rudal SM39 Exocet.
Melalui sinergi antara integrasi sensor Flank Array dan Towed Array dengan kecerdasan algoritma Data Fusion, SUBTICS berhasil mengubah luapan data (data overload) menjadi informasi taktis yang sangat ringkas dan akurat. Teknologi ini memberi komandan kapal selam keunggulan situasi (situational awareness) yang instan di tengah kegelapan bawah laut, sekaligus memangkas beban kerja mental para kru secara signifikan. (Gilang Perdana)
Sistem Pneumatic Water Ram: Cara Kapal Selam Scorpene Class Luncurkan Torpedo Tanpa Jejak Akustik


