Lepas dari Ketergantungan Asing, Korea Selatan Siapkan Roket Solid-Fuel ‘Mir’ Guna Luncurkan Satelit Intelijen Secara Kilat

Peluncuran uji ketiga roket berbahan bakar padat di lepas pantai Seogwipo, Pulau Jeju, pada 4 Desember 2023. (Yonhap News Agency)

Penundaan uji coba peluncuran roket militer berbahan bakar padat (solid-fuel) tahap penuh pertama Korea Selatan pada akhir Juni lalu sempat memicu berbagai spekulasi. Namun, bagi para analis pertahanan, langkah taktis ini bukanlah sebuah kegagalan teknis, melainkan babak baru dari pergeseran doktrin intelijen Seoul yang kini bergerak agresif untuk lepas dari ketergantungan asing dalam memata-matai aktivitas Korea Utara.

Baca juga: Tandingi Korea Utara, Korea Selatan Sukses Luncurkan Satelit Mata-mata Pertamanya dengan Roket Falcon 9

Uji coba peluncuran versi penuh empat tahap dari roket antariksa militer Korea Selatan—yang dikenal sebagai proyek “Mir”, berasal dari bahasa Korea kuno (Mireu) yang berarti Naga —seharusnya menjadi tonggak sejarah baru dalam arsitektur keamanan mereka. Misi yang dijadwalkan meluncur dari tongkang laut di lepas pantai Pulau Jeju ini diproyeksikan untuk membuktikan kemampuan mandiri Seoul dalam menggelar satelit mata-mata ke antariksa dalam waktu singkat (short notice).

Kendati Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan akhirnya memutuskan untuk menghentikan hitung mundur akibat kendala teknis pada fase persiapan akhir, langkah strategis di Semenanjung Korea tidak bergeser sedikit pun. Seoul tetap berkomitmen membangun arsitektur intelijen mandiri berbasis di orbit rendah bumi (Low Earth Orbit) guna mereduksi ketergantungan kronis mereka pada aset satelit pengintai milik Amerika Serikat maupun penyedia jasa peluncur komersial asing.

Pilihan militer Korea Selatan untuk mengembangkan roket berbahan bakar padat didasarkan pada kesiapan tempur dan kecepatan respons militer. Berbeda dengan roket propulsi cair yang rumit dan memakan waktu lama dalam pengisian bahan bakar, roket berbahan bakar padat dapat disimpan dalam kondisi siap tempur (siap guna) untuk jangka waktu yang lama, sehingga dapat segera dimobilisasi dan diluncurkan dalam hitungan jam saat krisis pecah.

Uji Transmisi, Satelit Mata-mata Korea Selatan Intip ‘Jantung’ Pyongyang dengan EO/IR

Kementerian Pertahanan Korea Selatan memproyeksikan roket Mir untuk menempatkan satelit observasi dan pengintai kecil pada orbit rendah di bawah ketinggian 310 mil atau sekitar 500 kilometer. Ketinggian ini dinilai sangat ideal karena cukup dekat untuk menghasilkan citra bumi dengan resolusi yang sangat tajam, namun di sisi lain tetap cukup tinggi agar satelit dapat bergerak cepat melintasi ruang udara Semenanjung Korea.

Lompatan teknologi strategis ini merupakan buah dari diplomasi panjang setelah pada Mei 2021, Washington dan Seoul resmi mengakhiri pedoman misil (Missile Guidelines) yang telah membatasi kedaulatan rudal nasional Korea Selatan selama lebih dari empat dekade.

Sebelum penundaan ini, program roket solid-fuel tersebut sebenarnya telah mencatatkan keberhasilan operasional pada Desember 2023 dengan sukses mengorbitkan satelit observasi seberat 220 pon (100 kg) buatan Hanwha Systems. Satelit tersebut dilengkapi teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR) yang mampu memata-matai wilayah Korea Utara menembus tutupan awan tebal maupun kegelapan malam total tanpa penurunan kualitas citra sedikit pun.

KPS: Sistem Navigasi Satelit Regional Korea Selatan Ditargetkan Beroperasi Penuh pada 2035

Kendaraan peluncur berbasis bahan bakar padat ini merupakan bagian dari rencana besar otoritas militer Korea Selatan untuk meluncurkan hingga 19 satelit pengintai ukuran kecil dan ultra-kecil sepanjang tahun ini hingga tahun depan. Satelit-satelit baru berbobot ringan tersebut nantinya akan melengkapi lima satelit pengintai militer berukuran besar yang sebelumnya telah digelar lewat Project 425.

Tujuan akhirnya adalah memangkas jeda waktu tunggu lintas satelit (revisit time) di atas ruang udara Korea Utara secara drastis, dari yang tadinya berkisar dua jam menjadi hanya 30 menit saja. Publik perlu membedakan proyek roket militer berbahan bakar padat ini dengan roket sipil komersial Nuri (KSLV-II) yang berbahan bakar cair. Jika roket Nuri diibaratkan sebagai kereta barang raksasa yang membawa logistik berat secara terjadwal, maka roket militer berbasis solid-fuel adalah kendaraan taktis darurat yang siap melesat seketika situasi berubah kritis.

Ketika seluruh jaringan satelit ini aktif sepenuhnya, ruang bagi Korea Utara untuk melakukan pergerakan militer rahasia atau persiapan peluncuran rudal secara senyap akan semakin sempit. Korea Selatan kini bersiap memiliki sepasang mata antariksa mandiri yang tak pernah berkedip memantau perbatasan tanpa perlu lagi bergantung pada izin atau bantuan intelijen dari pihak luar. (Abdi Waluyo)

Punya Satelit Mata-mata, Korea Utara Pamerkan Foto-foto Obyek Strategis di Wilayah AS

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *