Dijegal Qatar di Jerman, Israel Alihkan Produksi Rudal Pencegat ‘Iron Dome’ ke India

Setelah rencana produksi komponen sistem pertahanan udara (hanud) Iron Dome di Jerman dijegal oleh Qatar melalui pengaruh sahamnya di Volkswagen, raksasa pertahanan Israel, Rafael Advanced Defense Systems, langsung bergerak cepat mencari basis produksi alternatif. Tidak tanggung-tanggung, Israel kini mengalihkan fokus strategisnya ke Asia.
Berdasarkan laporan media India, NDTV, Rafael berencana membangun lini produksi rudal pencegat Tamir (amunisi utama Iron Dome) di India. Langkah darurat ini diambil untuk memperkuat serta mengamankan rantai pasok (supply chain) rudal pencegat Israel yang terus menipis akibat perang berkepanjangan. Menariknya, selain faktor kegagalan investasi di Jerman, pemilihan India sebagai basis produksi baru didorong oleh motif keamanan yang sangat krusial: melindungi infrastruktur industri pertahanan Israel dari jangkauan proksi Iran.
Selama konflik, Teheran dan Hizbullah terus mengincar fasilitas keamanan di dalam negeri Israel. Dengan memindahkan produksi ke India, fasilitas tersebut otomatis aman dari serangan, mengingat ketergantungan ekonomi dan politik Iran yang sangat besar terhadap New Delhi.
Bagi Rafael, aliansi produksi dengan India membawa keuntungan ganda. Selain mengamankan bahan baku dan komponen, status “Made in India” akan meningkatkan kapabilitas pemasaran Rafael ke negara-negara ketiga yang sebelumnya sensitif jika harus membeli langsung dari Tel Aviv. Langkah ini juga menjadi ekspansi besar bagi perusahaan Israel dalam menyesuaikan diri dengan doktrin Make in India yang dicanangkan Perdana Menteri Narendra Modi, yang mewajibkan transfer teknologi dan kemampuan manufaktur ke dalam negeri India.
Di Tangan Korps Marinir AS, Rudal Hanud Tamir Iron Dome Disebut “MRIC SkyHunter”
Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel, Mayjen (Purn.) Amir Baram, dalam konferensi di Universitas Reichman Herzliya baru-baru ini, secara terbuka menegaskan urgensi poros baru ini. Menurutnya, perang saat ini telah menyadarkan banyak pihak akan mahalnya risiko penguatan pengaruh Iran di kawasan.
India: Pelanggan Utama dan Hub Pertama di Asia
Hubungan militer antara India dan Israel memang berada di titik tertinggi. Berdasarkan data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), India merupakan destinasi utama ekspor pertahanan Israel, dengan menyerap 29% dari total ekspor militer Tel Aviv sepanjang periode 2021-2025. Data dari SIBAT (Divisi Kerja Sama Pertahanan Internasional Kemenhan Israel) bahkan mencatat nilai kesepakatan militer dengan India menembus angka fantastis, yakni US$20,6 miliar dalam lima tahun terakhir.
Israel Umumkan Sistem Hanud C-Dome (Naval Iron Dome) Telah Berpredikat “Combat Proven” di Laut Merah
Dengan kesepakatan baru ini, India akan mencatatkan sejarah sebagai negara pertama di Asia (di luar Israel) yang memproduksi rudal Iron Dome. Sebelumnya, Rafael baru berhasil mengekspansi produksi rudal Tamir ke Amerika Serikat melalui kemitraan dengan Raytheon di Camden, Arkansas, yang diresmikan pada 2024 untuk menyuplai kebutuhan Korps Marinir AS (USMC) dengan nama varian Sky Hunter.
Di India, proyek Iron Dome ini akan melengkapi portofolio masif industri pertahanan Israel yang sudah eksis. Berkat program penyerapan teknologi lokal besutan PM Modi, pabrikan Israel lainnya seperti Elbit Systems telah lama berkolaborasi dengan Adani Corporation untuk memproduksi drone seri Hermes di India. Sementara itu, Israel Aerospace Industries (IAI) bekerja sama dengan Bharat Electronics Limited (BEL) untuk memproduksi rudal, dan Rafael sendiri telah menggandeng Kalyani Group untuk pengembangan berbagai sistem persenjataan darat dan udara. (Gilang Perdana)


