Ubah Helikopter Mi-8 Jadi ‘Jammer’ Terbang, Rusia Incar Drone Tempur Jarak Jauh Ukraina

Dalam upaya menekan gelombang serangan drone jelajah jarak jauh Ukraina yang gencar menyasar infrastruktur strategis, militer Rusia terdeteksi memodifikasi helikopter angkut Mi-8 menjadi platform Perang Elektronika (Electronic Warfare/EW) terbang.
Baca juga: Perang Elektronika Itu Ibarat “Ilmu Setan”
Keberadaan helikopter dengan perangkat jammer (pengacak sinyal) ini terungkap secara tidak sengaja melalui unggahan foto di saluran Telegram sebelum akhirnya dianalisis oleh media intelijen sumber terbuka (OSINT).
Berdasarkan analisis teknis, helikopter buatan era Uni Soviet tersebut dipasangi sistem perang elektronika dua saluran yang dirancang khusus untuk membutakan navigasi satelit pada drone-drone penyerang Ukraina. Foto yang beredar memperlihatkan beberapa panel antena datar yang dipasang pada berbagai sudut di badan (fuselage) helikopter Mi-8. Antena-antena tersebut diatur untuk mencakup sektor hingga 180 derajat, dengan set serupa yang diperkirakan terpasang di sisi berlawanan untuk memberikan cakupan jamming secara penuh di sekeliling helikopter.
Setiap panel antena tersebut terhubung dengan dua kabel utama. Fitur teknis ini mengindikasikan bahwa sistem perang elektronika ini mampu beroperasi pada dua saluran frekuensi terpisah secara simultan, alih-alih hanya mengacak pita frekuensi sempit tunggal.
Russia has reportedly developed a Mi-8-based counter-UAS platform equipped with electronic warfare systems. According to reports, the helicopter carries multiple panel antennas that may be intended to disrupt the satellite navigation of long-range Ukrainian strike drones. #Russia pic.twitter.com/SBkV64L0qF
— Drone Wars (@Drone_Wars_) July 18, 2026
Tidak seperti sistem EW taktis di garis depan yang harus mencakup pita frekuensi radio yang luas dan berubah-ubah untuk melawan taktik frequency hopping, sistem jammer pada Mi-8 ini difokuskan untuk mengganggu frekuensi navigasi satelit tetap (fixed-frequency) yang diandalkan drone jarak jauh Ukraina untuk mencapai target di wilayah dalam Rusia.
Secara teknis, dua kabel pada setiap panel antena diduga kuat mewakili dua polarisasi sinyal yang berbeda. Pendekatan ini memungkinkan alat pengacak (jammer) memancarkan interferensi dalam beberapa orientasi sekaligus, sehingga efektivitas jamming tidak bergantung pada sudut kemiringan antena penerima navigasi milik drone musuh. Analisis alternatif menunjukkan bahwa kedua kabel tersebut mengover dua pita frekuensi navigasi satelit utama secara bersamaan, yaitu pita L1 (1,5 hingga 1,6 GHz) serta pita L2 dan L5 (sekitar 1,2 GHz) yang umum digunakan oleh penerima sistem navigasi multi-band.
Tangkal Ancaman IED Modern, Inggris Uji Coba Prototipe Jammer untuk Prajurit Infanteri
Meski mayoritas drone tempur jarak jauh Ukraina dilengkapi dengan Inertial Navigation System (INS) sebagai sistem cadangan saat sinyal GPS atau GLONASS terganggu, sistem INS tetap memiliki keterbatasan. Akurasi navigasi inersia akan mengalami deviasi atau penurunan presisi (drift) seiring bertambahnya durasi terbang tanpa koreksi sinyal satelit.
Dengan menempatkan jammer pada helikopter Mi-8 yang dapat terbang tinggi dan bergerak dinamis, militer Rusia dapat menciptakan zona tak tersentuh sinyal satelit (sustained jamming zone) yang sangat luas di udara, memaksa drone musuh menyimpang jauh dari sasaran utama seperti kilang minyak dan pangkalan udara.
Langkah memanfaatkan platform udara untuk perang elektronika ini sejalan dengan peningkatan produksi helikopter keluarga Mi-8 oleh industri pertahanan Rusia. Laporan firma analitik menunjukkan rencana pembuatan puluhan helikopter Mi-8MTV-1 baru oleh Pabrik Helikopter Kazan. Ketersediaan armada helikopter dalam jumlah besar memberikan fleksibilitas bagi para perencana militer Rusia untuk mengonversi sebagian unit menjadi pesawat jammer guna melindungi objek vital nasional secara lebih adaptif. (Gilang Perdana)
65 Tahun Mengudara: Mengenang Penerbangan Perdana Mi-8, Helikopter Paling Laris dalam Sejarah


