Mengenal Skyfend Hunter SHH100: Jammer Gun Canggih Buatan Cina yang Terlihat di Aksi Unjuk Rasa Jakarta

Penampakan perangkat keamanan taktis di area publik kembali mencuri perhatian netizen. Berdasarkan sejumlah unggahan yang beredar di media sosial X, sebuah anti-drone jammer gun modern terlihat disiagakan oleh aparat keamanan saat mengawal jalannya aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di koridor Jalan Jendral Sudirman menuju kawasan Bundaran HI, Jakarta, pada 18 Agustus 2016.
Baca juga: DroneGun Tactical: Jammer Gun dengan Desain Futuristik
Perangkat futuristik bernuansa militer yang dibawa petugas tersebut teridentifikasi sebagai Skyfend Hunter SHH100, salah satu sistem counter-UAV portabel paling intuitif yang beredar di pasar keamanan global saat ini.
Secara produsen dan negara asal, Skyfend Hunter SHH100 dirancang dan diproduksi oleh Skyfend Technology Ltd., sebuah perusahaan manufaktur teknologi pertahanan dan sistem taktis anti-drone asal Shenzhen, Cina. Skyfend dikenal luas fokus mengembangkan perangkat perlindungan ruang udara berjarak pendek hingga menengah (short-range airspace security), baik untuk kebutuhan militer, kepolisian, pengamanan fasilitas vital, hingga penanganan dinamika massa di area perkotaan guna mencegah penyalahgunaan drone liar tanpa izin.
Keunggulan utama Skyfend Hunter SHH100 terletak pada integrasi sistemnya yang bersifat all-in-one. Jika jammer gun konvensional generasi terdahulu membutuhkan unit pemancar sinyal tebal yang harus digendong di punggung (backpack unit), SHH100 mengemas seluruh komponen sensor, pemancar RF, dan baterai ke dalam satu sasis senjata taktis yang padat.
Ada yang tau gak alat apa yang dipegang sama bocah baju item pake helm putih?
Alat penangkal drone kah? pic.twitter.com/gr5BGK0ciZ
— cino (@punkpinggiran) August 18, 2026
Bobot bersih perangkat ini berada di kisaran 6,5 kg (termasuk baterai), angka yang tergolong sangat ergonomis dan masih nyaman dioperasikan oleh satu orang personel lapangan tanpa menyerap banyak tenaga.
Perangkat ini ditenagai oleh baterai smart lithium-ion berkapasitas tinggi yang dapat dilepas-pasang (swappable). Dalam mode standby untuk deteksi dini, baterai ini mampu bertahan hingga 8 jam operasional penuh. Sementara ketika digunakan untuk tindakan penembakan sinyal (active jamming), satu isi ulang baterai mampu melayani durasi pancaran frekuensi secara terus-menerus (continuous jamming) hingga 60 menit.
Sudanese Armed Forces-affiliated fighters were reportedly seen with a Skyfend Hunter SHH100 anti-drone jammer in new frontline footage. #Sudan #SAF #CounterDrone #EW pic.twitter.com/O2kpmBwgj3
— Drone Wars (@Drone_Wars_) April 18, 2026
Karena durasi rata-rata tindakan perintangan satu unit drone di udara hanya membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 30 detik sampai drone dipaksa mendarat atau diusir pergi, satu baterai SHH100 secara teoritis sanggup melayani hingga 120 hingga 200 kali “tembakan” perintangan sebelum memerlukan penggantian baterai cadangan.
Dari sisi kapabilitas operasional, Skyfend Hunter SHH100 menggabungkan dua fungsi vital sekaligus: deteksi dan perintangan (detect & jam). Dilengkapi layar sentuh (touchscreen) berukuran 3,5 inci berresolusi tinggi di bagian atas sasis, petugas di lapangan tidak perlu lagi menebak-nebak posisi drone.
Photo shared by @HRS4NTOS of a Mexican military member holding a counter UAS weapon.
Shown is a SkyFend Hunter. It is a Chinese manufactured jammer that has been seen utilized by actors across Latin America & the world. It is of higher quality than some other Chinese systems. https://t.co/29bnJxPjNo pic.twitter.com/KnVpcJjUsB
— Pernicious Propaganda (@natsecboogie) June 26, 2025
Sensor RF omnidirectional built-in pada alat ini mampu mendeteksi keberadaan sinyal radio drone serta arah datangnya (Direction Finding) dari jarak hingga 2 kilometer. Layar akan menampilkan indikasi visual berupa pita frekuensi yang digunakan drone target, estimasi jarak, dan sudut arah datangnya ancaman secara real-time.
Setelah sasaran teridentifikasi, operator cukup mengarahkan moncong SHH100 ke arah drone dan menekan pemicu untuk mengaktifkan pancaran jamming gelombang terarah (directional antenna). Alat ini mampu memutus 6 pita frekuensi utama sekaligus, mencakup 400 MHz, 900 MHz, 1.2 GHz, 1.5 GHz (GNSS/GPS), 2.4 GHz, hingga 5.8 GHz.
#Colombia 🇨🇴: A Colombian Police officer attempting to neutralize an Explosive-Laden Drone targeting on a police station in Jamundí, Valle del Cauca.
The police officer apparently used a Chinese Skyfend Hunter SHH100 Anti-Drone Jammer (C-UAV System). pic.twitter.com/iyjJNPMfjV
— War Noir (@war_noir) May 11, 2026
Terdapat dua mode intervensi utama: Forced Landing yang memutus sinyal kendali sekaligus GPS agar drone langsung mendarat darurat di tempat, serta Return to Home (RTH) yang memutus transmisi video kendali namun membiarkan sinyal navigasi agar drone terbang kembali ke titik awal lepas landas—metode yang kerap dipakai petugas untuk mengidentifikasi lokasi pasti sang operator drone di darat. (Bayu Pamungkas)
Kalashnikov Rex-1: Andalan Rusia di Pasar Tactical Anti Drone Jammer Gun


