Satu Prajurit Kendalikan Banyak Drone: US Army Uji Gremlin-X, Drone Kamikaze Reusable 

Doktrin pertempuran masa depan yang mengintegrasi teknologi nirawak (unmanned systems) terus diakselerasi oleh Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army). Menjawab tantangan medan laga modern yang sarat dengan peperangan elektronika (electronic warfare), US Army resmi menggandeng perusahaan teknologi pertahanan Palladyne AI untuk menguji coba dua inovasi radikal, yaitu perangkat lunak pengendali kawanan drone (drone swarm) berbasis kecerdasan buatan dan drone intai-serang yang dapat digunakan kembali (reusable loitering munition).

Baca juga: Startup Rusia Uji Peluncuran Ranjau Darat Anti Tank dari Drone Copter dengan 16 Rotor Motor

Kontrak yang diberikan di bawah program Disruptive Applications Broad Agency Announcement menandai fase krusial bagi militer AS, beralih dari sekadar tahap evaluasi laboratorium menuju penggunaan operasional langsung oleh prajurit di lapangan.

Teknologi pertama yang menjadi sorotan utama adalah SwarmOS, sebuah software stack otonom yang memungkinkan satu orang operator untuk mengendalikan banyak sistem nirawak secara simultan, bahkan dari manufaktur yang berbeda-beda (heterogeneous platforms). Keunggulan utama SwarmOS yang dikembangkan oleh perusahaan asal Utah ini adalah kemampuannya beroperasi di edge hardware pada lingkungan yang mengalami gangguan atau pemutusan komunikasi total (denied or degraded communications).

Alih-alih bergantung pada infrastruktur kendali terpusat yang rentan menjadi target serangan siber maupun fisik musuh, platform SwarmOS memungkinkan kawanan drone untuk saling berkoordinasi satu sama lain secara otonom di udara guna membagi tugas pengintaian dan akuisisi target.

Dalam rangkaian uji coba lapangan yang melibatkan prajurit dari 4th Infantry Division di Colorado dan California, platform otonom ini akan diintegrasikan langsung dengan Android Team Awareness Kit (ATAK)—sistem komando dan kendali taktis berbasis digital yang sudah menjadi standar operasional pasukan AS.

Selain SwarmOS, US Army juga menguji Gremlin-X, sebuah drone multirotor masuk dalam kategori Group 2 UAV yang dikembangkan sebagai amunisi loitering (drone kamikaze) yang dapat digunakan kembali. Berbeda dengan drone penabrak konvensional yang langsung hancur setelah mengenai target, Gremlin-X dirancang untuk bisa kembali dan diambil setelah misi selesai. Pendekatan ini diklaim mampu memangkas biaya logistik secara drastis, karena militer hanya perlu mengganti muatan hulu ledak yang terpakai, bukan seluruh badan drone.

Gremlin-X dirancang sebagai drone tangguh yang beroperasi dalam kondisi DDIL (Denied, Degraded, Intermittent, and Limited communications). Karakteristik ini sangat krusial bagi formasi militer kecil yang tersebar di garis depan, di mana mereka dituntut mampu menghancurkan target bernilai tinggi tanpa harus bergantung pada jaringan komunikasi terpusat.

Ke depan, Palladyne AI juga berencana mendemonstrasikan sistem SwarmOS, IntelliSwarm, dan Gremlin-X ini dalam skala yang lebih masif pada latihan tempur gabungan berskala besar bertajuk Northern Strike, sebuah latihan yang melibatkan lebih dari 9.000 personel militer. (Gilang Perdana)

Tanpa Source Code dari AS, F-16 Turki Gunakan Konsol Tablet Untuk Luncurkan Rudal Jelajah Buatan Lokal

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *