Di Tengah Krisis Industri Pertahanan, AS Buka Kompetisi Sengit untuk Mesin Baru F-15EX dan F-16

Angkatan Udara Amerika Serikat (US Air Force/USAF) mengambil langkah drastis dengan membuka kompetisi terbuka untuk pengadaan mesin jet tempur F-15EX Eagle II dan F-16 Fighting Falcon. Melalui Request for Information (RFI) yang dirilis oleh US Air Force Life Cycle Management Center pada 3 Agustus 2026, Pentagon memberikan teguran keras sekaligus ancaman bagi produsen alutsista eksisting.

Baca juga: Tandingi Cina, Donald Trump Canangkan Jet Tempur Generasi Keenam Bermesin Ganda, F-22 Super dan F-55

USAF secara terbuka menyentil rantai pasok industri mesin saat ini yang dinilai kerap terlambat mengirimkan pesanan, bermasalah pada kontrol kualitas, hingga menghadapi kelangkaan komponen kritis (obsolescence). Strategi “kompetisi strategis” ini dirancang untuk keluar dari pola pengadaan lama sekaligus memaksa para manufaktur berinvestasi pada teknologi dan kapasitas produksi baru.

Krisis di sektor manufaktur militer AS memang kian memprihatinkan, di mana seluruh 123 unit mesin Pratt & Whitney F135 untuk jet tempur F-35 yang dikirim pada tahun 2024 mengalami keterlambatan pengiriman dengan rata-rata hingga 238 hari.

Langkah tegas USAF menjadi sangat krusial mengingat lonjakan kebutuhan armada udara dalam dekade mendatang, di mana kombinasi pesanan internal militer AS dan pasokan Foreign Military Sales (FMS) untuk negara sekutu diproyeksikan melonjak hingga melebihi 180 unit mesin per tahun pada tahun fiskal 2034. Dalam RFI tersebut, USAF meminta para manufaktur memetakan struktur harga dan kesiapan kapasitas pabrik dalam empat tingkatan skala produksi tahunan, mulai dari 1–12 unit, 13–48 unit, 49–96 unit, hingga 97–180 unit mesin.

Produsen diwajibkan memetakan titik sumbatan (choke points) rantai pasok, termasuk pasokan material khusus seperti paduan titanium dan nikel, kapasitas peleburan (casting/forging), hingga ketergantungan pada komponen tunggal (single-source) atau impor luar negeri. Menariknya, Angkatan Udara AS tidak lagi menjamin kuota pembelian tetap setiap tahunnya, melainkan menetapkan besaran pesanan yang sangat bergantung pada ketepatan waktu pengiriman, kualitas produk, serta kesediaan produsen memberikan akses data manufaktur secara langsung (live feed).

GE Aerospace vs Pratt & Whitney
Persaingan terbuka ini kembali memicu pertarungan sengit antara dua raksasa mesin jet, yaitu GE Aerospace dan Pratt & Whitney. Saat ini, F-15EX dioperasikan menggunakan mesin GE Aerospace F110-GE-129 yang merupakan satu-satunya dapur pacu tersertifikasi penuh dan terintegrasi dengan sistem fly-by-wire F-15EX. GE bahkan telah mengantongi kontrak FMS senilai US$5 miliar untuk memasok mesin F110 ke pelanggan internasional seperti Arab Saudi, Yordania, dan Bulgaria hingga Desember 2030.

GE Aviation Kirim Unit Mesin F414 Perdana untuk Jet Tempur KFX

Namun, posisi dominan GE kini mulai terancam setelah Pratt & Whitney gencar menawarkan mesin F100-PW-229 sebagai opsi alternatif untuk F-15EX maupun armada baru F-16. Meskipun memilih mesin F100 pada F-15EX akan membutuhkan proses pengujian dan sertifikasi kelaikan udara (airworthiness) ulang, USAF tetap membuka pintu lebar-lebar bagi opsi tersebut.

Kajian ulang dan evaluasi sistem pendorong ini berjalan seiring dengan rencana USAF untuk memperluas akumulasi pembelian F-15EX hingga mencapai 267 unit, di samping terus memodernisasi armada F-16 lewat pembaruan sistem avionik dan perang elektronik (electronic warfare).

Peningkatan efisiensi bahan bakar dan performa mesin pada jet tempur generasi keempat sangat vital untuk memperpanjang masa pakai (service life), menekan biaya operasional (lifecycle costs), serta mengimbangi ancaman udara yang kian kompleks. Peta jalan ini juga berjalan paralel dengan pengembangan mesin daur adaptif (adaptive-cycle engines) untuk jet tempur masa depan.

Dengan batas waktu tanggapan RFI hingga 28 Agustus 2026, USAF memberi sinyal tegas bahwa baik berupa varian mesin hasil upgrade maupun desain baru (clean sheet), hanya produsen yang sanggup menjamin ketepatan waktu dan kualitas tinggi yang akan memenangkan kontrak masa depan armada udara Amerika Serikat. (Bayu Pamungkas)

Hubungan AS-Turki Mencair: Washington Restui Lisensi Ekspor Mesin GE F110 Untuk Jet Tempur KAAN

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *