Solusi Ekonomis Hadapi Drone: MBDA Tampilkan DEFENDAIR-DEWS-L, Sistem Hanud Hibrida Kombinasi Rudal dan Laser

MBDA menggebrak panggung pameran dirgantara ILA Berlin 2026 dengan meluncurkan sistem pertahanan udara (hanud) hibrida yang diberi label DEFENDAIR-DEWS-L. Sistem ini dirancang khusus dengan pendekatan komprehensif untuk menghadapi ancaman kawanan drone yang kian meresahkan di medan perang modern.
Baca juga: Lockheed Martin Kembangkan Senjata Laser Berdaya 500 Kw dengan Biaya US$1 per Tembakan
Keunikan utama dari DEFENDAIR-DEWS-L terletak pada integrasi radikal yang menggabungkan peluncur rudal konvensional dan senjata laser penembak cepat (Directed Energy Weapon/DEW) dalam satu platform taktis terpadu.
Langkah MBDA mengembangkan sistem hibrida ini didorong oleh kebutuhan mendesak akan efisiensi biaya intersepsi (cost-effective interception) di garis depan. Dalam konflik modern, menjatuhkan drone intai atau drone kamikaze yang murah menggunakan rudal pertahanan udara berharga miliaran rupiah dinilai sangat tidak ekonomis.
Melalui DEFENDAIR-DEWS-L, MBDA menawarkan solusi ganda: menggunakan hantaman laser berbiaya super murah per tembakan untuk menetralisir drone berukuran kecil dan lambat, serta mencadangkan proyektil rudal penangkis untuk menghancurkan target udara yang bergerak lebih cepat dan lincah.
Backstage @ILA_Berlin: Zum Auftakt geben wir heute Einblicke in unser Portfolio – von moderner Luftverteidigung bis zum C-UAS GBAD-System, einer Kombination des LFK DefendAir & einem Hochenergielaser. Für MBDA Deutschland steht im Mittelpunkt: schützen, abschrecken & skalieren. pic.twitter.com/gpdBoeZuWT
— MBDA Deutschland (@MBDADeutschland) June 9, 2026
Sektor persenjataan kinetik dari sistem ini ditopang oleh kontainer berisi 24 unit rudal DEFENDAIR. Rudal ini sebelumnya dikenal dengan nama komersial SADM (Small Anti-Drone Missile) ketika pertama kali dipamerkan pada tahun 2022 lalu, dan diklaim memiliki jangkauan tembak efektif melampaui 5 km. Untuk sektor senjata laser, meskipun MBDA belum merilis nama resmi untuk komponen DEW tersebut, teknologinya diderivasi langsung dari riset senjata energi terarah yang telah digodok perusahaan selama lebih dari satu dekade. Guna mengunci target dengan presisi tinggi, platform DEFENDAIR-DEWS-L mengintegrasikan kombinasi sensor elektro-optik canggih dan sistem radar pemindai mini.
European missile manufacturer MBDA has unveiled the DEFENDAIR-DEWS-L counter-drone system. The platform combines a launcher carrying 24 DefendAir interceptor drones with a high-energy laser weapon for engagement of unmanned aerial threats. #MBDA #CounterDrone #CUAS #DefenseTech pic.twitter.com/ni1DUuyHaH
— Drone Wars (@Drone_Wars_) June 10, 2026
Fleksibilitas lini rudal DEFENDAIR besutan MBDA ini sejatinya juga tengah dipersiapkan untuk memperkuat platform pertahanan udara milik negara lain. Sebagai contoh, Angkatan Darat Jerman (Bundeswehr) saat ini sedang menjajaki integrasi rudal DEFENDAIR untuk disandingkan dengan sistem meriam antipesawat bergerak Skyranger 30 milik Rheinmetall. Komitmen tersebut diperkuat pada November 2025, di mana pemerintah Jerman telah menggelontorkan anggaran sebesar 490 juta euro, dengan alokasi dua pertiga untuk fase pengembangan serta sertifikasi, dan sisanya difokuskan untuk mendanai batch produksi perdana rudal tersebut.
Berdasarkan lini masa pengembangan, rudal DEFENDAIR dijadwalkan masuk ke tahap produksi massal pada tahun 2029 dengan target pengiriman perdana pada tahun 2030. Mengingat tingkat kesiapan komponen lasernya yang masih dirahasiakan, para analis militer memperkirakan bahwa sistem utuh DEFENDAIR-DEWS-L kemungkinan besar baru siap diadopsi secara operasional paling cepat pada rentang tahun 2029 hingga 2030, kecuali jika MBDA mempercepat proses sertifikasinya. (Gilang Perdana)


