Di Balik Klaim Tajam Rostec: Mengapa Eropa Bakal Kepayahan Tanpa Helikopter Pemadam Kamov Ka-32?

Pernyataan panas berhembus dari korporasi pertahanan dan teknologi milik pemerintah Rusia, Rostec. Dalam keterangannya kepada kantor berita TASS, Rostec melontarkan klaim tajam bahwa Uni Eropa tidak memiliki alternatif sepadan untuk menggantikan helikopter pemadam kebakaran buatan Rusia, Kamov Ka-32.
Baca juga: Kamov Ka-32A 11BC: Fire Fighting Helicopter dari Rusia dengan Sertifikasi Barat
Rostec menilai kebijakan sanksi Uni Eropa yang melarang pasokan suku cadang dan perawatan pesawat buatan Rusia justru menjadi senjata makan tuan yang merugikan masyarakat Eropa sendiri saat menghadapi ancaman kebakaran hutan (wildfires).
Klaim Rostec tersebut menyusul laporan media Jerman Berliner Zeitung yang menyebutkan bahwa sanksi Uni Eropa membuat armada Ka-32 di Spanyol dan Perancis terhenti operasionalnya (grounded), padahal sebelumnya armada ini beserta pesawat amfibi Be-200 menjadi tulang punggung penanggulangan bencana di kawasan Mediterania.
Sikap dan narasi yang diusung petinggi Rostec ini tak dipungkiri sangat kontroversial. Meski demikian, klaim tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata karena memiliki pijakan fakta teknis yang sangat kuat di lapangan. Ka-32 menggunakan arsitektur rotor koaksial—dua set baling-baling utama yang berputar berlawanan arah tanpa tail rotor—yang memberikan stabilitas luar biasa saat melayang (hovering) di atas kawasan pegunungan atau jurang terjal dengan arus angin panas (downdraft) yang ekstrem. Tanpa risiko loss of tail-rotor effectiveness (LTE), Ka-32 mampu melepaskan muatan air hingga 5 ton secara presisi tepat di atas titik api.
🇷🇺 Russia’s Ka-32: the world’s undisputed firefighting champion — manufacturer
💬 “Demand for the [Ka-32] is driven by its flight performance,” said Nikolai Kolesov, CEO of Russian Helicopters, a Rostec subsidiary. “The Ka-32 can carry up to five tons on an external sling—nearly… pic.twitter.com/uz1ATUuVif
— Sputnik (@SputnikInt) July 29, 2026
Efektivitas dan keunggulan spesifik Ka-32 ini bahkan sudah teruji secara nyata dalam operasi aerial firefighting di Indonesia. Dalam penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan gambut Sumatra dan Kalimantan yang dioperasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ka-32 menjadi salah satu platform water bombing paling memuaskan.
Karakteristiknya yang sanggup membawa tangki/bucket hingga 5.000 liter air—jauh melampaui helikopter konvensional kelas menengah seperti Bell 412 yang hanya mampu membawa sekitar 1.000 hingga 1.500 liter—serta ketahanannya beroperasi di pangkalan aju dengan fasilitas minim, menjadikan Ka-32 sangat diandalkan untuk menembus asap pekat dan memadamkan api hingga ke lapisan dalam tanah gambut.
Kamov Ka-32A11M: Firefighting Helicopter Rusia dengan Teknologi Glass Cockpit
Pengalaman sukses di Indonesia ini membuktikan bahwa dari sudut pandang fungsi teknis murni, kekhawatiran yang dialami tim pemadam di Spanyol dan negara-negara Eropa Selatan akibat terhentinya operasional Ka-32 adalah kenyataan pahit.
Kendati klaim Rostec bahwa “Eropa tidak punya alternatif sama sekali” terkesan sebuah hiperbola—mengingat Barat masih memiliki platform heavy-lift seperti Sikorsky S-64 Skycrane, CH-47 Chinook, hingga pesawat amfibi Canadair CL-415—proses menggantikan peran Ka-32 secara mendadak tetap membutuhkan biaya investasi yang jauh lebih mahal serta rentang waktu pengadaan yang tidak singkat.
Pada akhirnya, krisis operasional helikopter pemadam di Eropa menggarisbawahi realita bahwa ketika konflik geopolitik memuncak, sektor keselamatan sipil dan kemanusiaan sering kali menjadi pihak pertama yang terimbas dampak sanksi ekonomi. (Gilang Perdana)
Bukan Sekadar Kantung Air Gantung: PZL Mielec Mulai Produksi Sikorsky S-70 Firehawk Pertama di Eropa


