Thailand Tawarkan Panser Amfibi ke Prabowo, Jangan Lupa PT Pindad Punya Anoa Amfibi yang Mampu Berenang

Kunjungan resmi Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul ke Indonesia dan pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto membawa angin segar dalam dinamika kerja sama pertahanan kawasan. Salah satu poin menarik yang menjadi sorotan dalam pertemuan diplomasi tingkat tinggi tersebut adalah tawaran konkret dari Pemerintah Thailand untuk memasok 36 unit kendaraan tempur (ranpur) amfibi lapis baja guna memperkuat jajaran Korps Marinir TNI AL.

Baca juga: Menarik Perhatian di Indo Defence 2024, Ranpur Amfibi Korps Marinir Thailand AWAV 8×8 Layak Diuji di Indonesia

Penawaran ini merujuk pada sosok ranpur amfibi roda ban buatan dalam negeri Thailand, yakni Chaiseri AWAV 8×8 (Amphibious Wheeled Armored Vehicle), sebuah platform panser roda ban bermesin tangguh yang sebelumnya sempat menyedot perhatian publik saat dipamerkan dalam ajang pameran pertahanan internasional Indo Defence di Jakarta 2024.

Langkah Thailand menawarkan Chaiseri AWAV 8×8 bukannya tanpa alasan dan reputasi. Ranpur buatan pabrikan Chaiseri ini telah membuktikan kualitasnya di pasar regional setelah sukses mencatatkan rekor ekspor perdana saat diborong oleh Korps Marinir Filipina, setelah sebelumnya resmi dioperasikan Korps Marinir Thailand.

Dikembangkan untuk kebutuhan operasi pendaratan amfibi, AWAV 8×8 dibekali dengan propulsi waterjet ganda yang memungkinkannya berenang stabil di gelombang laut serta mengusung proteksi lapis baja yang mumpuni untuk melindungi pasukan infanteri di dalamnya. Kehadiran tawaran 36 unit ranpur dari Bangkok ini tentu menjadi opsi menarik bagi Kementerian Pertahanan RI dalam upaya modernisasi alutsista dengan jadwal pengadaan yang relatif cepat.

Cetak Ekspor Perdana, Korps Marinir Filipina Resmi Borong Ranpur Amfibi Chaiseri AWAV 8×8 Buatan Thailand

Namun di balik ramainya penawaran alutsista dari negara tetangga, publik dan para pemangku kebijakan pertahanan nasional sejatinya tidak boleh lupa bahwa industri dalam negeri Indonesia sebenarnya pernah menorehkan tinta emas di ranah pengembangan panser amfibi.

Melalui BUMN pertahanan PT Pindad, Indonesia telah berhasil merancang dan memproduksi prototipe Anoa 2 6×6 Amphibious. Panser amfibi ini bukanlah sekadar konsep di atas kertas, melainkan telah melalui berbagai tahapan pengujian fungsional yang ketat, termasuk uji coba berenang (swimming test) di danau hingga menaklukkan manuver di perairan pesisir pantai.

Pindad Anoa 2 6×6 Amphibious: Saatnya Anoa “Serius” Jadi Panser Amfibi

Kehadiran Anoa 2 Amfibi menjadi bukti nyata bahwa para insinyur anak bangsa memiliki kapasitas teknis yang sejajar dalam membangun kendaraan tempur berkemampuan melintasi dua alam.

Sangat disayangkan, terlepas dari keberhasilan uji coba dan potensi teknis yang dimilikinya, prototipe Anoa Amfibi buatan PT Pindad hingga kini belum kunjung mendapatkan komitmen pesanan produksi massal dari Kementerian Pertahanan. Fenomena ini menjadi catatan kritis bagi arah kemandirian alutsista nasional.

Presiden Jokowi Jajal Langsung Anoa 2 6×6 Amphibious

 

Meski secara spesifikasi teknis platform 6×6 Anoa Amfibi memiliki perbedaan kelas jika dibandingkan dengan ranpur AWAV 8×8 buatan Thailand yang dirancang murni sejak awal sebagai platform marinir, potensi pengembangan Anoa Amfibi sangat terbuka luas jika diberikan kesempatan riset lanjutan dan dukungan anggaran yang berkesinambungan.

Di tengah godaan opsi pengadaan alutsista siap pakai dari luar negeri, momentum tawaran dari Thailand ini seharusnya menjadi cermin dan pengingat berharga bagi pemerintah Indonesia. Kemajuan dan kemandirian industri pertahanan dalam negeri tidak akan pernah terwujud tanpa adanya komitmen politis, keberpihakan yang nyata, serta keberanian dari pemerintah untuk memprioritaskan karya anak bangsa sendiri.

Memberikan ruang bagi PT Pindad untuk memproduksi dan menyempurnakan Anoa Amfibi bukan hanya sekadar belanja alutsista, melainkan investasi jangka panjang demi menegakkan kedaulatan teknologi militer Indonesia di masa depan. (Gilang Perdana)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *