Sama-sama Andalkan Roket Anti-Kapal Selam RBU-6000, Ini Beda Korvet Parchim II Rusia dan Parchim I TNI AL

Ketika TNI AL mengoperasikan 16 unit korvet kelas Kapitan Pattimura (Parchim I / Project 133.1) yang dibeli bekas dari eks Jerman Timur pada era 1990-an, banyak pengamat militer mengira armada korvet berdesain khas ini sudah menjadi barang langka di medan pertahanan global.
Baca juga: TNI AL Sebar Korvet Parchim Class Untuk Komando Armada III
Namun menariknya, sang saudara dekat yang lebih modern, yakni kelas Parchim II (Project 1331M), hingga saat ini ternyata masih aktif mengabdi dan menjalankan tugas ronda laut di bawah komando Armada Laut Baltik Angkatan Laut Rusia (VMF Rossii).
Salah dua unit yang hingga kini masih menjadi tulang punggung patroli anti-kapal selam perairan dangkal Rusia adalah korvet Zelenodolsk (nomor lambung 308) dan Kabardino-Balkariya (nomor lambung 322).
Sejarah kelahiran Parchim II berawal dari suksesnya program korvet Project 133.1 (Parchim I) yang dibangun oleh galangan kapal Peene-Werft di Wolgast, Jerman Timur, pada awal dekade 1980-an. Puas dengan performa kapal anti-kapal selam ukuran kecil (small anti-submarine ship / MPK) tersebut, Angkatan Laut Uni Soviet memesan varian khusus yang telah disesuaikan dengan doktrin dan standar persenjataan Soviet.
Project 1331M/Parchim II-class corvettes “Zelenodolsk”(308) and “Kabardino-Balkariya”(322).
🗺️ Baltiysk, Kaliningrad region.
📸A. Martynova (this week) pic.twitter.com/Bj7u4Gcp8h— Massimo Frantarelli (@MrFrantarelli) August 1, 2026
Diperkenalkan sebagai Project 1331M (Parchim II), galangan Peene-Werft memproduksi sebanyak 12 unit kapal jenis ini antara tahun 1986 hingga 1990. Seluruh unit Parchim II dikirim khusus untuk Angkatan Laut Soviet dan tidak diekspor ke negara lain. Memasuki era modern, meski sebagian unit telah dipurnatugaskan, Rusia masih mempertahankan sekitar enam unit Parchim II yang telah mengalami modernisasi bertahap guna mengawal wilayah pesisir strategis di Laut Baltik.
Dari segi spesifikasi teknis dan performa tempur, Parchim II memiliki dimensi panjang 75,2 meter, lebar 9,8 meter, draft 2,73 meter, dengan bobot benaman penuh (full displacement) mencapai sekitar 950 ton. Di sektor pendorong, kapal ini mengandalkan sistem diesel tiga poros (triple shaft) ditenagai tiga mesin diesel M504A yang sanggup menyemburkan kecepatan maksimum hingga 24,7 knot dengan jarak jelajah mencapai 2.200 mil laut pada kecepatan ekonomis.
Russian Navy ship with deceptive camo.
Project 1331M/Parchim II-class corvette “Aleksin”(318) .
📸: A. Kalinina (~ July 19).
🗺️Baltiysk, Kaliningrad region. pic.twitter.com/1B6G0mZsKJ— Massimo Frantarelli (@MrFrantarelli) July 22, 2026
Project 1331M/Parchim II-class corvette “Zelenodolsk”.
🗺️~ Kronstadt
📸Yu. Kovalenko(June 4)
The ship underwent scheduled maintenance at the Kronstadt Marine Plant. https://t.co/kYUNXj20nb pic.twitter.com/Ovuw6zUC2G— Massimo Frantarelli (@MrFrantarelli) June 4, 2026
Untuk peran utamanya sebagai pemburu kapal selam, Parchim II dibekali sensor sonar hull-mounted MG-322T dan sonar towed (helai tarik) MG-329 Bronza. Persenjataannya terdiri dari satu kanon otomatis AK-176 berkaliber 76 mm di haluan, satu kanon CIWS enam tabung AK-630M 30 mm di buritan, dua peluncur rudal pertahanan udara jarak pendek Strela-3/Igla (SA-N-5/SA-N-10), empat tabung peluncur torpedo 400 mm SET-40, serta rak peluncur bom laut (depth charge).
Keunggulan utama korvet ini terletak pada kemampuan pemburuannya di perairan dangkal (littoral waters), biaya operasional yang efisien, serta ketangguhan struktur mesinnya dalam mengarungi laut bergelombang tinggi.
MR-302 “Strut Curve”: Radar Intai Udara dan Permukaan di Korvet Parchim Class TNI AL
Secara teknis, terdapat perbedaan dan persamaan yang sangat kentara jika membandingkan antara Parchim I (TNI AL) dan Parchim II (Rusia). Perbedaan paling mencolok terletak pada konfigurasi persenjataan dan sistem kendali tembak (fire control system). Parchim I milik Indonesia mengusung meriam ganda AK-230 30 mm di haluan (beberapa unit TNI AL kemudian di-upgrade ke Type 730 buatan Cina) dan meriam ganda AK-725 57 mm di buritan.
Sebaliknya, Parchim II Rusia dibekali meriam haluan yang jauh lebih kuat, yakni AK-176 76 mm yang mampu menembak hingga 120 peluru per menit, serta meriam CIWS AK-630M di bagian buritan untuk perisai pemungkas dari serangan rudal anti-kapal.
Meski memiliki konfigurasi meriam utama yang berbeda, persamaan visual dan taktis antara kedua varian ini sangat identik. Selain sama-sama berbagi desain dasar lambung, struktur superstructure (anjungan), dan tata letak cerobong asap buatan galangan Peene-Werft, kedua saudara ini memiliki satu elemen persamaan ikonik yang amat kentara, keduanya masih sama-sama mengandalkan sistem peluncur roket anti-kapal selam RBU-6000 Smerch-2 kembar berkaliber 213 mm yang terpasang kokoh di depan anjungan.
Keberadaan RBU-6000 ini menegaskan garis keturunan yang sama, di mana roket pembom sub-permukaan tersebut hingga kini masih dianggap sebagai senjata pembunuh kapal selam perairan dangkal dan penangkal torpedo (anti-torpedo defense) yang sangat efektif, baik bagi Armada Baltik Rusia maupun armada korvet Parchim TNI AL. (Haryo Adjie)
Related Posts
-
Akhirnya! Kontrak Efektif Pembangunan Dua Kapal Selam Scorpene Evolved untuk TNI AL Telah Berjalan
14 Comments | Jul 23, 2025 -
Polandia Luncurkan Self Propelled Anti Aircraft Gun SA-35 di Truk JELCZ 6×6
2 Comments | Sep 4, 2024
-
Setelah 70 Tahun Karam, Bangkai RI Gadjah Mada Akhirnya Ditemukan
6 Comments | Apr 23, 2018
-
Sukses Terbang Perdana, Prototipe Yak-130M Rusia Kini Menjelma Jadi Jet Tempur Serang Ringan
No Comments | Jun 25, 2026


