Diam-Diam Diserahkan Jerman, Israel Terima INS Drakon: Kapal Selam Terakhir Dolphin-II Class dengan Misteri VLS

Kekuatan bawah laut Angkatan Laut Israel resmi memasuki babak baru setelah menangguk kesepakatan penyerahan kapal selam paling mutakhir dalam sejarahnya. Galangan kapal ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS) di Kiel, Jerman, secara diam-diam telah meluncurkan dan menyerahkan INS Drakon kepada militer Israel tanpa adanya seremoni publik atau penyiaran resmi yang megah.
Baca juga: Israel Resmikan Nama Kapal Selam “INS Drakon”: Spesifikasi Tetap Misteri
Informasi mengenai penyerahan senyap ini pertama kali dimuat dan dirilis oleh Naval News serta dilaporkan oleh Janes Defence, yang menyoroti pergerakan kapal selam tersebut saat mulai mengibarkan bendera Israel untuk pertama kalinya dan bertolak meninggalkan perairan Jerman menuju markas utamanya di Laut Tengah.
Penyerahan INS Drakon ini sekaligus memungkasi program pengadaan serta menjadi unit terakhir dari keluarga kapal selam Dolphin-II class (last Dolphin-II class submarine), menjadikan total kapal selam yang dipesan dan diserahkan dalam sub-kelas berteknologi AIP ini genap tiga unit (INS Tanin, INS Rahav, dan INS Drakon), melengkapi tiga unit kapal selam kelas Dolphin-I generasi awal yang telah beroperasi sebelumnya.
Dari spesifikasi teknis dan desain, INS Drakon tampil berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan dua saudaranya di Dolphin-II class. Sebagai varian pemungkas di Dolphin-II class, kapal selam bermesin diesel-elektrik yang dilengkapi teknologi Air-Independent Propulsion (AIP) ini mengalami perpanjangan lambung dari 68,6 meter menjadi sekitar 73 hingga 74 meter dengan bobot perpindahan air mencapai lebih dari 2.400 ton saat menyelam.
— SBR (@ca13862) August 4, 2026
Perubahan paling mencolok terlihat pada struktur sail – conning tower (menara/sirip) yang diperbesar dan dirancang ulang secara masif. Spekulasi kuat dari para analis pertahanan global menyebutkan bahwa sail yang membengkak tersebut dirancang khusus untuk menampung sistem peluncur vertikal (Vertical Launch System/VLS). Jika integrasi VLS ini terbukti, INS Drakon berpotensi mampu meluncurkan rudal balistik melengkung berjangkauan jauh, rudal jelajah berkemampuan nuklir, sistem drone bawah air (UUV), hingga perangkat pendukung operasi pasukan khusus (naval commando).
Keunggulan tempur INS Drakon makin ditunjang oleh konfigurasi persenjataan konvensional di bagian haluan. Kapal selam ini dipastikan membawa 10 tabung peluncur torpedo, terdiri dari enam tabung berukuran standar 533 mm dan empat tabung berdiameter lebih besar yakni 650 mm.
Sub is still doing it’s trials in Kiel
Spotted 3rd of August 26 pic.twitter.com/wbRkGXDdIX— Bratwurstkönig (@bratwurstkonig) August 4, 2026
Keberadaan empat tabung 650 mm ini memberikan fleksibilitas taktis tinggi, memungkinkan peluncuran rudal jelajah jarak jauh Popeye Turbo buatan dalam negeri, torpedo berat DM-2A4, maupun wahana penyusupan prajurit komando Shayetet 13. Dikombinasikan dengan sistem propulsi AIP berbasis sel bahan bakar (fuel cell) yang sangat senyap dan memungkinkannya menyelam berpekan-pekan tanpa perlu muncul ke permukaan (snorkeling), INS Drakon menjadi platform pencegah strategis (triad deterrent) bawah laut yang sangat sulit dideteksi di kawasan Timur Tengah.
Menempuh perjalanan dari Kiel ke Israel, INS Drakon harus mengarungi rute pelayaran internasional sejauh kurang lebih 3.500 hingga 4.000 mil laut. Keluar dari galangan TKMS di Kiel, kapal selam ini melintasi Selat Fehmarn Belt menuju Laut Utara, memotong Selat Inggris (English Channel), lalu memasuki Samudra Atlantik melewati Teluk Biscay dan Semenanjung Iberia.
Setelah melintasi Selat Gibraltar yang krusial, INS Drakon menyusuri perairan Laut Tengah bagian barat hingga akhirnya tiba di pangkalan utamanya di Haifa, Israel. Kedatangan INS Drakon sebagai kapal selam terakhir Dolphin-II class ini tidak hanya memuncaki evolusi armada kapal selam Angkatan Laut Israel, tetapi juga mengukuhkan dominasi daya gempur bawah air negara tersebut dalam merespons dinamika ancaman regional sebelum nantinya bertransisi ke Dakar class di masa depan. (Gilang Perdana)
Langka dan Penuh Misteri: Kapal Selam Dolphin Class Israel Muncul di Permukaan Dekat Eilat


