Gertak Asli Beijing! Cina Buka Suara Soal Jaringan Silo Bawah Tanah untuk Rudal Nuklir Jarak Jauh

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Cina secara terbuka mengonfirmasi bahwa mereka tengah memperluas jaringan silo (missile silo) bawah tanah untuk menampung rudal-rudal balistik antarbenua (ICBM) berjangkauan terjauh milik mereka. Keterbukaan ini menjadi sinyal perubahan signifikan dari kebijakan militer Beijing yang selama puluhan tahun dikenal sangat tertutup terkait infrastruktur nuklir strategisnya.
Pengakuan langka tersebut disampaikan melalui dokumenter bertajuk Securing Victory yang ditayangkan media pemerintah Cina, CCTV. Dalam tayangan tersebut, Perwira Unit Rekayasa Pasukan Roket Tentara Pembebasan Rakyat (PLA Rocket Force), Cui Daohu, mengungkapkan bahwa setiap posisi fasilitas bawah tanah yang selesai dikerjakan berarti semakin banyak senjata kartu truf yang dapat disiagakan dan siap tempur lebih cepat.
Meskipun Cina tidak membeberkan lokasi pasti maupun jumlah unit yang dibangun, pernyataan resmi ini mengonfirmasi temuan dan analisis citra satelit intelijen internasional selama beberapa tahun terakhir yang mengindikasikan adanya aktivitas konstruksi masif di wilayah terpencil Cina bagian utara dan barat, seperti di kawasan Yumen dan Hami.
Silo-silo yang dibangun dan dipermodern ini disiapkan khusus untuk menampung dua jenis rudal balistik antarbenua utama yang menjadi tulang punggung daya pukul strategis PLA Rocket Force, yaitu seri DongFeng-5 (DF-5B/DF-5C) dan DongFeng-41 (DF-41).
🇨🇳 China is reportedly constructing a large-scale nuclear defense infrastructure in desert regions near its intercontinental ballistic missile (ICBM) silo fields.
According to satellite imagery reviewed by Reuters, the site includes over 80 launch pads along with fortified… pic.twitter.com/cWYtsRgOw6
— Ababeel (@AbabeelMilitary) May 29, 2026
Rudal DF-5B/C merupakan ICBM berbasis bahan bakar cair (liquid-fueled) dengan jangkauan operasional mencapai 13.000 hingga 15.000 km yang mampu menjangkau seluruh daratan utama Amerika Serikat, serta dibekali teknologi MIRV (Multiple Independently Targetable Reentry Vehicles) untuk membawa 5 hingga 8 hulu ledak nuklir sekaligus.
Karena sifat bahan bakar cair yang membutuhkan proses pengisian kompleks sebelum peluncuran, penempatan DF-5 sangat bergantung pada pangkalan silo stasioner yang terproteksi ketat di dalam tanah. Sementara itu, untuk varian DF-41 berbasis silo, rudal bernutrisi bahan bakar padat (solid-fueled) ini memiliki daya jangkau hingga 15.000 km dan sanggup mengusung hingga 10 hulu ledak MIRV atau Hypersonic Glide Vehicles (HGV). Penggunaan bahan bakar padat pada DF-41 yang ditempatkan di dalam silo memberikan keunggulan berupa respons peluncuran yang sangat cepat (rapid-launch capability) tanpa memerlukan waktu pengisian bahan bakar terlebih dahulu.
#BREAKING: China has test-fired an ICBM, the DF-41, with a range of 12,000–15,000 km, capable of reaching the US. It landed in a predetermined area in the Pacific Ocean. 🇨🇳🚀🌎 pic.twitter.com/kFKpqLLzM3
— Defence Index (@Defence_Index) September 25, 2024
Secara teknis, silo rudal merupakan fasilitas peluncuran bawah tanah yang diperkuat beton tebal khusus untuk melindungi ICBM dari potensi serangan udara pertama (first strike) musuh. Keberadaan ratusan titik silo baru ini sangat krusial untuk meningkatkan daya tahan (survivability) dan memastikan kemampuan pembalasan nuklir (second-strike capability) yang dapat diandalkan oleh Beijing.
Temuan Ratusan Silo Rudal Balistik Cina di Tengah Gurun, Washington Harus Bersiap
Dengan memperbanyak titik peluncuran, Cina secara efektif menyulitkan musuh dalam mengidentifikasi mana silo yang berisi rudal aktif dan mana yang berfungsi sebagai umpan (shell game strategy). Langkah strategis ini menjadi bagian terintegrasi dari modernisasi skala besar militer Cina untuk melengkapi dogma trinitas nuklir (nuclear triad) melalui penguatan kapabilitas darat, laut berupa kapal selam balistik bertenaga nuklir, dan udara melalui pesawat pembom strategis.
Para analis menilai bahwa penayangan fasilitas ini disengaja oleh Beijing untuk menegaskan pesan efek gentar (deterrence) serta menunjukkan kesiapan daya pukul strategisnya kepada negara-negara rival di tingkat global. (Gilang Perdana)
Ternyata Cina Punya Peluncur (Silo) Rudal Balistik Antarbenua Lebih Banyak dari AS


