Satu Visi Pertahanan Udara: Turki dan Korea Selatan ‘Kawinkan’ E-7 Wedgetail dan Pesawat Jammer Global 6500

Turki dan Korea Selatan kerap dijuluki sebagai dua raksasa kekuatan menengah (middle powers) dengan pertumbuhan alutsista paling progresif abad ini. Menariknya, jika kita membedah cetak biru kekuatan udara kedua negara, terdapat sebuah kesamaan doktrin yang luar biasa presisi.

Baca juga: E-7A Wedgetail: Stasiun Radar Terbang Perisai Ruang Udara Australia

Baik Angkatan Udara Turki (Türk Hava Kuvvetleri) maupun Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF) sama-sama mengadopsi kombinasi armada Airborne Early Warning and Control (AEW&C) dan pesawat perang elektronik Stand-Off Jammer (SOJ) dengan menggunakan jenis platform yang persis sama. Kesamaan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan dari kemiripan tantangan geografis serta visi kemandirian teknologi militer kedua negara dalam mengamankan ruang udara mereka.

Benang merah pertama terlihat dari pilihan mereka untuk posisi “mata dan telinga” di angkasa. Baik Seoul maupun Ankara sama-sama mengoperasikan Boeing E-7 Wedgetail sebagai tulang punggung pesawat AEW&C mereka. Dikenal dengan radar Multi-role Electronically Scanned Array (MESA) yang khas di atas punggungnya, E-7 Wedgetail memberikan kemampuan bagi kedua negara untuk memindai ratusan objek di udara dan permukaan laut secara simultan dari jarak aman.

Australia Canangkan Penggantian E-7A Wedgetail, Bagaimana Nasib Indonesia untuk Punya AEW&C?

Bagi Korea Selatan, E-7 adalah instrumen vital untuk mengintai setiap pergerakan rudal dan jet tempur Korea Utara serta memantau ruang udara perbatasan Cina. Sementara bagi Turki, armada Wedgetail (dikenal lokal sebagai E-7T Barış Kartalı) menjadi komando udara bergerak yang krusial di wilayah konflik Mediterania Timur dan Timur Tengah.

Namun, yang membuat komparasi ini menjadi sangat menarik adalah langkah kedua negara di segmen perang elektronik (Electronic Warfare – EW). Alih-alih membeli sistem jadi dari negara Barat, Turki dan Korea Selatan sama-sama memilih mengembangkan pesawat Stand-Off Jammer (SOJ) secara domestik dengan mengonversi platform yang sama, yakni jet bisnis Bombardier Global 6500.

Turki bergerak lebih dulu melalui proyek prestisius HAVA SOJ yang digawangi oleh Aselsan dan TAI (Turkish Aerospace Industries). Langkah ini kemudian diikuti secara paralel oleh Korea Selatan melalui program Airborne Electronic Defense (AED) yang diinisiasi oleh DAPA bersama LIG Nex1. Pilihan pada Global 6500 didasari atas alasan teknis yang identik, yaitu kemampuan jet bisnis ini untuk terbang tinggi hingga ketinggian 51.000 kaki dengan kecepatan tinggi, sebuah aspek krusial karena semakin tinggi pesawat mengudara, semakin luas pula radius pancaran gelombang jammer untuk membutakan radar musuh.

Mengapa kedua negara kompak memilih formula “Beli platform asing untuk AEW&C, tetapi wajib racik sendiri untuk Perang Elektronik”? Jawabannya terletak pada kerahasiaan tertinggi ranah Electronic Warfare. Spektrum frekuensi, algoritma pengacau sinyal, dan metode pertahanan siber adalah jantung dari kedaulatan militer.

Korea Selatan Pilih Bombardier Global 6500 Jadi Pesawat Perang Elektronik Pelumpuh Radar

Jika membeli sistem EW jadi dari pihak ketiga, kedua negara akan tersandera oleh batasan enkripsi yang diberikan oleh negara penjual. Dengan menanamkan “otak” buatan Aselsan (Turki) dan LIG Nex1 (Korea Selatan) ke dalam cangkang kosong Bombardier Global 6500, kedua negara bebas memperbarui basis data ancaman mereka secara mandiri tanpa intervensi asing.

Ketika armada E-7 Wedgetail yang mendeteksi target dipadukan dengan Global 6500 SOJ yang bertugas mengacaukan radar pertahanan udara lawan, kedua negara berhasil menciptakan ekosistem pertempuran udara modern yang mandiri dan mematikan. (Bayu Pamungkas)

Pesawat Spesialis Pengacak Radar HAVA SOJ Turki Unjuk Gigi, Duet Mematikan Pendamping E-7 Wedgetail

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *