IAI Rilis ELLYON: Pesawat Pengintai Lintas Domain Berbasis Jet Bisnis, Kembaran Canggih G550 CAEW Singapura

Israel Aerospace Industries (IAI) pada Farnborough Airshow 2026 secara resmi memperkenalkan pesawat misi khusus generasi terbaru yang dinamai ELLYON. Menggunakan basis business jet (bizjet), platform pesawat pengintai dan perang elektronika ini menggabungkan kemampuan serangan elektronik (Electronic Attack) serta sensor intelijen canggih (ISTAR) ke dalam satu platform udara tunggal (all-in-one).
Baca juga: Shaanxi KJ-200B: Pesawat AEW&C dengan Antena Tegak Terbaru Cina
Pesawat ini dirancang untuk beroperasi dari jarak aman puluhan hingga ratusan kilometer (stand-off distance) guna menjaga keselamatan awak dan pesawat dari jangkauan sistem pertahanan udara musuh.
Kehadiran ELLYON kembali menegaskan keunggulan doktrin IAI melalui anak perusahaannya, ELTA Systems, dalam mengonversi jet bisnis komersial seperti keluarga Gulfstream G550. Penggunaan platform jet bisnis memberikan efisiensi biaya operasional dan perawatan yang jauh lebih murah dibandingkan pesawat militer berukuran besar, namun tetap menawarkan ketinggian jelajah, jarak tempuh, dan ruang kabin yang memadai untuk membawa radar AESA, sensor ISTAR, serta superkomputer pemrosesan data.
Israel Aerospace Industries (IAI) has unveiled ELLYON, a new-generation mission aircraft that integrates electronic warfare with intelligence gathering. Powered by AI algorithms, the platform can jam enemy radar and communications systems simultaneously from a stand-off distance. pic.twitter.com/fw99Jf7ZFo
— Israel Military Channel (@IsraelMilitaryC) July 20, 2026
Secara taktis dan konseptual, ELLYON memiliki benang merah yang sangat kuat dengan armada pesawat G550 CAEW (Conformal Airborne Early Warning) yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Singapura (RSAF). Hal ini tidak terlepas dari peran ELTA Systems yang merupakan pengembang utama sistem radar dan sensor pada G550 CAEW Singapura.
Gulfstream G550 CAEW: Stasiun Radar Terbang Conformal Perisai Ruang Udara Singapura
Jika G550 CAEW milik Singapura berfokus pada pengawasan udara dan komando taktis (airborne early warning & control) menggunakan sistem radar AESA conformal di sisi badan pesawat, maka ELLYON membawa konsep tersebut ke tingkat yang lebih ekstrem dengan memadukan kemampuan jamming radar dan komunikasi secara simultan serta pengolahan data intelijen berbasis kecerdasan buatan (AI-driven mission management).
Keunggulan utama ELLYON terletak pada kemampuannya melakukan acakan sinyal (jamming) radar dan komunikasi lawan secara bersamaan dalam satu misi terbang, sebuah kapabilitas yang sangat krusial untuk melumpuhkan Integrated Air Defense System (IADS) modern.
Dua Dekade Pengembangan, Sistem AEW&C Netra Buatan India Resmi Raih Izin Tempur Akhir
Selain mengacak sinyal musuh, ELLYON secara serentak mengumpulkan intelijen sinyal (SIGINT), citra radar aperture sintetis (SAR) untuk memetakan pergerakan target di darat dari jarak jauh, serta data elektro-optik (EO/IR). Semua data mentah tersebut diproses secara real-time oleh sistem AI di dalam pesawat dan langsung ditransmisikan via komunikasi satelit (satcom) ke pusat komando darat maupun jejaring jet tempur di sekitarnya.
Sama halnya dengan doktrin yang diterapkan Singapura dalam mengintegrasikan G550 CAEW dengan armada F-15SG dan F-16 milik mereka, ELLYON dirancang untuk memangkas siklus dari deteksi intelijen hingga penindakan (intelligence-to-action cycle). Didesain bersifat platform-agnostic, sistem sensor ELLYON tidak terikat secara permanen pada satu jenis pesawat saja, melainkan dapat diintegrasikan ke berbagai tipe jet bisnis ukuran besar sesuai dengan kebutuhan dan infrastruktur perawatan calon pengguna.
Dilengkapi dengan sistem perlindungan diri (self-protection suite) otomatis untuk menangkal ancaman rudal, ELLYON kini ditawarkan untuk memperkuat armada udara Israel sekaligus pasar ekspor global. (Gilang Perdana)
EC-37B Compass Call – Pesawat Spesialis Peperangan Elektronika Terbaru USAF, Pengganti EC-130H



Opini saya adalah, kemungkinan kita belum sepenuhnya membutuhkan pesawat dengan misi khusus seperti itu
Hal tersebut lebih dikarenakan arsenal pespur kita untuk serangan darat masih tertinggal jauh dari Singapura ataupun Israel
Kita memilki Kh-29TE sebagai rudal serang darat untuk Sukhoi series TNI AU dengan range -+30km, lalu ada GBU-54 LJDAM dengan range -+28km sebagai andalan F-16 TNI AU, lalu yang terakhir adalah Hammer AASM untuk Rafale F4 TNI AU dengan range -+70km
Adapun made in Indonesia adalah BNT-250 adalah versi lokal dari MK-82 dan tidak termasuk dalam persenjataan serangan darat bepemandu, selain itu juga ada MK-81, MK-82, M-117, P-Bomb, OFAB-100 & OFAB-250 yang kesemuanya bukan termasuk persenjataan serangan darat tidak berpemandu
Berdasarkan arsenal yang kita miliki range terjauh untuk serangan darat bepemandu adalah HAMMER AASM dengan range -+70km, bahkan telah berhasil menjadi andalan di pespur Mirage 2000D, Mirage F1, Tejas, Mig-29, Su-25 dan Su-27
Terkecuali kita memiliki Hammer AASM dengan stock lebih dari 100 dan juga harus bisa menjadi andalan di hardpoin 5 unit Su-27 kita, seperti milik Su-27 Ukraina
Atau minimalnya kita telah memiliki SCALP-EG 50 unit untuk membantu Rafale F4 TNI AU sebagai penghancur target yang bernilai strategis
Karena sangat disayangkan jika Rafale F4 TNI AU meteornya tidak disandingkan dengan SCALP-EG