Langka! Intip Presisinya Helikopter AS565 MBe Panther di Hanggar KRI I Gusti Ngurah Rai 332

(foto: @@HNlEHupY4Nr6hRM)

Momen unik baru-baru ini mencuri perhatian para pecinta militer di media sosial X. Unggahan foto dari akun X @HNlEHupY4Nr6hRM (モリジュン/MoriJun) mengabadikan sudut pandang terbuka dari arah belakang pintu hanggar fregat KRI I Gusti Ngurah Rai 332 yang sedang berlabuh di Pangkalan Angkatan Laut Yokosuka, Jepang.

Baca juga: Mengintip Hanggar Helikopter di KRI RE Martadinata 331

Foto tersebut memperlihatkan helikopter anti-kapal selam (AKS) AS565 MBe Panther TNI AL terparkir rapi di dalam hanggar. Visual dari sudut belakang ini tergolong langka dipublikasikan, sekaligus memperlihatkan betapa presisinya proporsi helikopter menengah ini dengan dimensi hanggar helideck fregat PKR (Perusak Kawal Rudal) kelas Martadinata.

Secara desain teknis, helikopter AS565 MBe Panther besutan Airbus Helicopters (yang dirakit dan diintegrasikan oleh PT Dirgantara Indonesia) memang dirancang untuk mampu beroperasi dari geladak kapal perang (shipborne operations).

Namun, ada detail keteknikan menarik mengenai cara helikopter ini muat di dalam hanggar yang terbatas. Untuk penyimpanan di hanggar, bilah baling-baling utama (main rotor blades) Panther memang dirancang dapat dilipat secara manual (manual blade folding) ke arah belakang paralel dengan badan helikopter. Langkah ini memangkas lebar bentangan rotor utama secara drastis sehingga badan helikopter dapat masuk melalui pintu hanggar dengan aman.

Di sisi lain, terdapat karakteristik unik pada bagian ekornya. Berbeda dengan helikopter AKS murni berukuran besar seperti NH90 atau SH-60 Seahawk yang memiliki fitur folding tail boom (ekor yang bisa dilipat), bagian ekor Panther tidak dapat dilipat. Hal ini disebabkan oleh penggunaan sistem rotor belakang tertutup khas Airbus yang dikenal sebagai Fenestron.

Mekanisme Fenestron yang terintegrasi secara struktural di dalam sirip ekor vertical tidak memungkinkan adanya engsel pelipatan ekor tanpa merusak kekakuan struktur dan kontrol kemudi guling. Untungnya, panjang keseluruhan Panther (fuselage length) masih sangat pas dengan kedalaman hanggar KRI I Gusti Ngurah Rai 332.

Karakteristik desain ini tidak lepas dari silsilah historis Panther itu sendiri. AS565 MBe Panther sejatinya bukanlah helikopter yang dibangun murni dari kertas kosong (clean-sheet design) khusus untuk kapal perang sejak awal. Panther merupakan varian militer yang diturunkan dari platform helikopter sipil/komersial sukses, yaitu Eurocopter AS365 Dauphin.

Adaptasi dari platform sipil ke militer Angkatan Laut mengharuskan para insinyur menambahkan berbagai perlengkapan maritim khusus, seperti proteksi korosi tingkat tinggi terhadap air garam, harpoon grid deck-lock system di bagian perut untuk mengunci posisi helikopter saat mendarat di dek yang bergoyang (heaving deck), serta sistem pelampung darurat (emergency flotation gear).

Harbin Z-9: Helikopter Anti Kapal Selam Cina yang Bikin Taiwan Ketar-ketir, ‘Sepupu’ AS565 MBe Panther

Meski berawal dari platform sipil dengan ruang gerak hanggar yang sangat presisi, kompromi desain tersebut berhasil dijawab dengan performa canggih. Integrasi sistem pemandu helikopter, perangkat dipping sonar, serta kemampuan mengusung torpedo ringan seperti A244/S menjadikan kombinasi AS565 MBe Panther dan fregat Martadinata class sebagai tumpuan utama taring pemburu kapal selam TNI AL di laut lepas. (Gilang Perdana)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *