Ilmuwan Militer Cina Ungkap Rencana Hancurkan Gugus Tempur Kapal Induk AS dari Jarak 3.000 Km

Perubahan taktis yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik ternyata melahirkan tantangan baru bagi strategi pertahanan Beijing. Sadar akan pekatnya payung rudal Anti-Access/Area-Denial (A2/AD) milik Cina di sepanjang Laut Cina Selatan dan Asia Timur, Angkatan Laut AS (US Navy) secara diam-diam mulai menarik mundur aset-aset tempur paling berharga mereka menjauhi garis pantai Asia.
AS kini memilih mundur dan menyebar ke wilayah Guam di Mikronesia, sebuah pangkalan pulau terluar yang berada jauh di luar jangkauan mayoritas rudal konvensional. Secara sekilas, mundurnya armada AS ini tampak seperti sebuah retret atau kemunduran.
Namun, bagi Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLA), penarikan mundur ini justru menghadirkan teka-teki taktis yang jauh lebih rumit. Dalam doktrin peperangan modern, jarak yang jauh dapat bermutasi menjadi perisai pelindung, dan taktik penyebaran armada (dispersion) justru menjadi senjata pertahanan yang efektif bagi AS untuk menyulitkan deteksi lawan.
Menjawab tantangan tersebut, sebuah tim ilmuwan pertahanan terkemuka dari Cina meluncurkan sebuah rencana strategis yang dipublikasikan secara terbuka dalam jurnal ilmiah nasional mereka. Rencana ini menyajikan panduan langkah demi langkah tentang bagaimana cara menghancurkan sebuah Gugus Tempur Kapal Induk (Carrier Strike Group) AS dari jarak 3.000 kilometer—sebuah angka yang secara presisi merujuk pada jarak geografis antara Shanghai hingga ke jantung pangkalan militer AS di Guam.
Rudal Balistik Hipersonik DF-27 Bisa Menjangkau 8.000Km, Guam Terancam!
Seperti dikutip South China Morning Post, cetak biru serangan jarak jauh ini dituangkan dalam sebuah makalah ilmiah berjudul “Research on the effectiveness of anti‑ship missile swarm operation under distributed confrontation” (Penelitian tentang efektivitas operasi kawanan rudal anti-kapal dalam konfrontasi terdistribusi). Penelitian ini digawangi oleh Associate Professor Gao Tianyun dari College of International Studies di bawah naungan National University of Defence Technology (NUDT) di Nanjing, dan resmi diterbitkan di jurnal pertahanan elite Cina, Tactical Missile Technology.
Selama bertahun-tahun, kapal-kapal perang raksasa US Navy dapat beroperasi relatif dekat dengan daratan Cina melalui pangkalan di Jepang, Korea Selatan, Filipina, serta kawasan Laut Cina Selatan. Kedekatan geografis tersebut sebelumnya membuat armada AS sangat rentan terhadap arsenal ofensif Cina yang terus membengkak, mulai dari rudal balistik jarak menengah (seperti DF-21D Stonefish “Carrier Killer”), kendaraan luncur hipersonik (hypersonic glider), hingga taktik serangan jenuh lewat kawanan rudal jelajah.
Dengan mundurnya armada AS ke Guam, ilmuwan PLA kini merancang algoritma serangan terdistribusi menggunakan doktrin missile swarm (kawanan rudal) berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menjebol sistem pertahanan udara Aegis milik AS, bahkan ketika mereka berada di balik “perisai jarak” 3.000 kilometer tersebut. (Gilang Perdana)


