Rudal Balistik Iran Tembus Pertahanan Yordania, Jet Tempur F-15E Strike Eagle AS Hancur di Hanggar

Ancaman terhadap pangkalan udara garis depan di kawasan Timur Tengah kian terbukti nyata. Berdasarkan analisis citra satelit terbaru, hanggar pesawat di Pangkalan Udara King Faisal, Yordania, mengalami kerusakan parah akibat serangan rudal balistik berpresisi tinggi yang dilancarkan oleh Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Baca juga: Rudal Balistik Kheibar Shekan Iran Hantam Shelter Jet Tempur F-35 AS di Yordania

Olah citra visual memperlihatkan struktur hanggar pelindung pesawat (hardened aircraft shelter) yang hancur berkeping-keping diiringi kepulan asap hitam tebal, mengonfirmasi bahwa minimal satu unit jet tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) yang berada di dalamnya hancur terbakar. Klaim serangan presisi ini sebelumnya telah dinyatakan oleh pihak IRGC dan kini didukung oleh bukti rekaman visual dampak hantamannya di lapangan.

Pangkalan Udara King Faisal di Yordania selama ini memegang peranan vital sebagai pusat kendali dan pangkalan pengerahan utama bagi operasi udara AS di kawasan. Lokasinya yang secara geografis berada di luar jangkauan rudal balistik jarak pendek Iran menjadikannya suaka yang dianggap lebih aman dibandingkan pangkalan AS di kawasan Teluk.

Namun, keberhasilan rudal presisi Iran menembus benteng pertahanan udara AS di Yordania melengkapi deretan panjang kerugian alutsista Washington di darat. Sebelum insiden hancurnya F-15E ini, serangan ke pangkalan-pangkalan Sekutu di kawasan dilaporkan telah menghancurkan setidaknya tujuh unit drone MQ-9 Reaper, satu unit pesawat peringatan dini E-3 Sentry AWACS di Arab Saudi pada Maret lalu, hingga beberapa unit pesawat tanker KC-135 Stratotanker.

Kerugian armada F-15E Strike Eagle di hanggar ini menjadi gambaran gamblang mengenai kian rentannya pesawat tempur canggih saat berada di area parkir pangkalan tetap (fixed air bases). Di tengah meningkatnya akurasi dan jangkauan rudal balistik modern, perlindungan hanggar baja berbeton luncur (hardened shelter) dan sistem pertahanan udara aktif terbukti tidak lagi sepenuhnya menjamin keamanan alutsista di darat.

Padahal, F-15E Strike Eagle—bersama varian terbarunya F-15EX Eagle II—merupakan tulang punggung utama USAF dalam menggelar operasi jarak jauh (long-range strike) dengan kapasitas gotong amunisi paling masif di antara jet tempur Barat lainnya.

Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap armada F-15 dalam dinamika konflik belakangan ini berbanding terbalik dengan jet tempur generasi kelima F-22 Raptor. F-22 yang semula dirancang untuk menggantikan F-15 justru dinilai memiliki fleksibilitas operasional yang terbatas serta perawatan yang sangat rumit di medan pengerahan garis depan. Kondisi ini membuat F-15—platform jet tempur tertua yang masih diproduksi sejak 1975—tetap menjadi tumpuan utama Pentagon. (Bayu Pamungkas)

Sistem THAAD Kebobolan, Serangan Rudal Iran Hancurkan Hanggar dan Armada Pesawat AS di Yordania

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *