Kerahkan Robot Anjing Bersenjata dalam Latihan Urban, PLA Tegaskan Arah Peperangan Berbasis AI

Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLA) kembali memperlihatkan intensifikasi penggunaan sistem otonom dalam operasi tempur modern. Dalam rekaman video latihan militer pertempuran kota (urban assault drill) terbaru, unit infanteri PLA tampak mengerahkan robot anjing (quadruped robot) bersenjata yang memimpin pergerakan pasukan saat menerobos area pemukiman dan bangunan.

Baca juga: Kekurangan Pawang, Angkatan Udara Korea Selatan Pertimbangkan Adopsi Robot Anjing untuk Patroli di Pangkalan Udara

Dalam skenario latihan perang perkotaan tersebut, platform robot berkaki empat yang secara visual menyerupai robot komersial Unitree Go2 terlihat bergerak di barisan paling depan sebagai elemen penyerang utama (point man).

Robot ini dilengkapi dengan senapan serbu terintegrasi di bagian punggungnya untuk menyapu ancaman, sementara prajurit manusia bergerak di belakangnya untuk melakukan pembersihan area. Strategi ini dirancang khusus guna menekan angka korban jiwa personel manusia saat memasuki area paling rawan dan berbahaya, seperti pintu masuk bangunan atau lorong sempit (fatal funnels).

Penggunaan platform robot berbiaya ekonomis—yang diperkirakan memiliki kisaran harga komersial dasar sekitar US$2.800 per unit—menjadi strategi kunci militer Cina dalam melakukan skaling cepat (rapid scaling) teknologi pertahanan berbasis kecerdasan buatan (AI).

PLA sejatinya telah menguji coba integrasi robot anjing ini dalam berbagai latihan multinasional, termasuk latihan bersama dengan Kamboja, serta unjuk kebolehan varian robot serigala (robot wolf) yang dirancang mampu menaiki tangga untuk misi pengintaian dan dukungan tembakan langsung.

Integrasi robot berkaki empat bersenjata ini sejalan dengan doktrin modernisasi PLA yang mendorong pembentukan tim tempur gabungan antara manusia dan mesin (manned-unmanned teaming).

Kendati menawarkan keunggulan taktis yang signifikan dalam pertempuran jarak dekat, penggunaan robot berbasis teknologi komersial yang dimodifikasi ini turut memicu perhatian para pengamat militer internasional. Sejumlah isu krusial yang menonjol meliputi kerentanan terhadap peretasan sinyal (cyber hacking), keandalan sistem komunikasi radio di lingkungan urban yang padat, hingga perdebatan etika mengenai otomatisasi keputusannya dalam melepaskan tembakan di medan perang. (Gilang Perdana)

Pasukan Infanteri Cina Kolaborasi dengan Robot Anjing dan Drone FPV Dalam Latihan Serbu ‘Live Fire’

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *