Berawal dari Kedatangan Kapal Selam Whiskey Class, Mengenang Sejarah Lahirnya Korps Hiu Kencana TNI AL

Setiap tanggal 12 September, TNI AL memperingati hari ulang tahun Korps Hiu Kencana atau Satuan Kapal Selam (Satkasel). Penentuan tanggal bersejarah ini merujuk langsung pada momen krusial 12 September 1959, ketika Satkasel secara resmi didirikan melalui Surat Keputusan Kasal.
Baca juga: Mengenal SAS Assegaai: Museum Kapal Selam Satu-satunya di Afrika
Langkah strategis tersebut disusul dengan penyerahan dua unit kapal selam pertama buatan Uni Soviet dari armada Whiskey class (Project 613), yang diberi nama RI Tjakra (401) dan RI Nanggala (402). Kedatangan dua “monster bawah laut” ini menandai masuknya Indonesia ke dalam jajaran elit sedikit negara di dunia yang mengoperasikan armada kapal selam tempur.
Pengadaan kapal selam dari Uni Soviet tersebut menjadi bagian dari ambisi besar Presiden Soekarno untuk membangun kekuatan maritim yang disegani di Asia Tenggara. Tidak berhenti pada dua unit awal, kerja sama pertahanan dengan Moskow terus berlanjut hingga TNI AL diperkuat oleh 12 unit kapal selam Whiskey class.
Keberadaan 12 kapal selam ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan armada kapal selam terbesar dan terkuat di kawasan Pasifik Selatan pada era 1960-an. Ketangguhan armada bawah air ini mencapai puncak keunggulannya saat dikerahkan dalam Operasi Trikora untuk merebut kembali Irian Barat dari cengkeraman Belanda.
KRI (RI) Alugoro 406, Bukti Indonesia Pernah Uji Tembak Rudal Jelajah dari Kapal Selam
Ditinjau dari spesifikasi, kapal selam Whiskey class merupakan alutsista yang sangat disegani pada masanya. Memilki bobot benam 1.050 ton saat terapung dan 1.350 ton saat menyelam, kapal sepanjang 76 meter ini ditenagai kombinasi mesin diesel dan motor listrik yang mampu mendorongnya hingga kecepatan 18 knot di permukaan serta 13 knot di bawah air. Untuk daya gempur, kelas Whiskey dibekali enam tabung peluncur torpedo kaliber 533 mm—empat di haluan dan dua di buritan—yang siap meluncurkan torpedo mematikan untuk mengancam kapal-kapal perang musuh di sepanjang perairan Nusantara.
Setelah bertahun-tahun mengawal kedaulatan laut Indonesia dan akhirnya dipensiunkan pada dekade 1980-an hingga 1990-an, salah satu dari 12 armada legendaris tersebut diabadikan dalam bentuk lain. KRI Pasopati (410) dipotong menjadi beberapa bagian lalu dirakit kembali secara presisi di tepi Sungai Kalimas, Surabaya. Sejak diresmikan pada Juli 1998, KRI Pasopati 410 resmi beroperasi sebagai Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya, menjadi museum kapal selam terbesar di Asia Tenggara sekaligus bukti sejarah keperkasaan Korps Hiu Kencana bagi generasi penerus.

Faktor efek penggentar (deterrence effect) dari 12 kapal selam Whiskey class dalam Operasi Trikora terbukti sangat menentukan secara geopolitik. Kehadiran armada bawah laut yang siap melakukan pencegatan dan infiltrasi di perairan Irian Barat membuat armada Angkatan Laut Belanda gentar dan mengurungkan niat untuk melancarkan konfrontasi terbuka secara penuh.
Keberhasilan tekanan psikologis dan taktis ini memuluskan langkah diplomasi Indonesia hingga Irian Barat berhasil kembali ke pangkuan NKRI tanpa harus mengorbankan pertempuran maritim skala besar.
Nilai-nilai keberanian dan dedikasi prajurit Hiu Kencana sejak masa awal pengoperasian Whiskey class terus diabadikan hingga saat ini melalui doktrin dan moto Wira Ananta Rudira (Tabah Sampai Akhir). Moto dari bahasa Sanskerta ini mencerminkan komitmen tertinggi prajurit kapal selam yang siap bertugas di kedalaman laut demi menjaga kedaulatan NKRI.
Meski kini armada Hiu Kencana telah memodernisasi kekuatannya dengan kapal selam diesel-elektrik Cakra dan Nagapasa class, pijakan sejarah pada 12 September 1959 tetap menjadi pengingat akan kejayaan Indonesia sebagai raksasa maritim di kawasan. (Bayu Pamungkas)


