Krisis Moril, Tiga Brigade Koalisi Saudi Menyerah di Jalur Laut Merah, Ratusan Alutsista ‘Brand New’ Dirampas Houthi

Rantis Oshkosh M-ATV (MRAP All-Terrain Vehicle) buatan Oshkosh Defense.

Dinamika militer di pesisir barat Yaman mengalami titik balik paling membanting dalam sejarah konflik kawasan setelah garis pertahanan koalisi pimpinan Arab Saudi hancur total. Kelompok milisi Ansar Allah (Houthi) melancarkan serangan kilat bertubi-tubi yang memicu aksi penyerahan diri secara massal oleh tiga brigade penuh pasukan darat Saudi beserta milisi sekutu lokalnya (Yemeni Joint Forces) di sepanjang koridor strategis Hays, Al-Mokha, Al-Khokha, Taiz, hingga Al-Jawf.

Baca juga: Operasi “Outstretched Arm”: Serangan Balasan Jarak Jauh Israel ke Houthi (Yaman) dengan F-35I Adir

Mengingat jumlah personel dan kuantitas material tempur yang berpindah tangan tanpa perlawanan berarti, kepemimpinan militer Ansar Allah mengklaim peristiwa runtuhnya front pantai barat ini sebagai operasi penangkapan dan penyerahan diri terbesar dalam sejarah peperangan modern.

Ambruknya lini pertahanan tersebut memperlihatkan merosotnya tingkat moril dan disiplin bertempur (combat morale) unit-unit yang disokong Riyadh saat berhadapan dengan gelombang taktis Houthi. Keberhasilan merebut kota pelabuhan kunci Al-Mokha, kamp militer strategis Khalid bin al-Walid, serta pulau-pulau di sekitarnya secara praktis mengalihkan kontrol fisik pesisir Laut Merah dan pintu masuk Selat Bab al-Mandeb sepenuhnya ke bawah cengkeraman Houthi.

Situasi ini langsung mengancam jalur pelayaran niaga global dan lalu lintas logistik minyak dunia yang melintasi Suez, sekaligus mempertegas blokade maritim yang dideklarasikan Sanaa terhadap armada laut Saudi.

Aspek paling krusial dari menyerahnya tiga brigade koalisi ini adalah berpindah tangannya tumpukan aset persenjataan dan kendaraan tempur kelas berat yang rata-rata berstatus gress (brand new). Rekaman video operasional yang dirilis media Ansar Allah memperlihatkan ratusan unit kendaraan taktis (rantis) lapis baja pelindung ranjau (MRAP) buatan Amerika Serikat seperti Oshkosh MATV dan Navistar MaxxPro, hingga ranpur angkut personel beroda rantai yang ditinggalkan dalam kondisi utuh tanpa kerusakan tempur.

Tak hanya kendaraan operasional, ribuan pucuk senapan serbu standar NATO, amunisi kaliber berat, sistem rudal anti-tank terpandu (ATGM) jenis BGM-71 TOW dan Raybolt, hingga artileri medan ditarik penuh oleh kelompok Houthi sebagai penambah daya gempur organik mereka.

Kerap Jatuh, Reputasi Jet Tempur F-15 Jadi ‘Memble’ di Tangan Arab Saudi

Melimpahnya rampasan perang (war trophies) berkualitas pabrikan ini secara teknis langsung menutupi kerugian material Houthi akibat serangan udara AS dan Israel selama beberapa bulan terakhir. Dengan armada persenjataan Barat yang kini dikuasai serta penguasaan penuh atas wilayah daratan yang memproyeksikan kekuatan langsung ke Selat Bab al-Mandeb, Houthi berhasil mengubah peta pertimbangan taktis di Laut Merah.

Kehilangan tiga brigade sekaligus tumpukan persenjataan modern ini tidak hanya mengisolasi sisa-sisa kekuatan koalisi di kawasan selatan seperti Aden, tetapi juga menjadi tamparan politik dan militer paling memalukan bagi kepemimpinan strategi pertahanan Arab Saudi di Yaman. (Bayu Pamungkas)

“Gerah” Lihat Ranpur LAV-25 Arab Saudi Rontok di Yaman, Kanada Lakukan Investigasi

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *