Garda Revolusi Iran Rilis Video Pembakaran USV Intai AS Saildrone Explorer 5838 di Pintu Selat Hormuz

Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) merilis rekaman video yang memperlihatkan pembakaran kapal permukaan tanpa awak (Unmanned Surface Vehicle/USV) milik Amerika Serikat di kawasan Teluk. Dalam rilis resminya, pihak IRGC mengonfirmasi telah melumpuhkan dan membakar wahana pengawas nirawak jenis Saildrone Explorer 5838 yang dideteksi sedang menjalankan apa yang mereka sebut sebagai “misi agresif” di pintu masuk Selat Hormuz.
Baca juga: Iran Klaim Sita Drone Bawah Laut AS Dive-LD Buatan Anduril di Selat Hormuz
Insiden penghancuran wahana nirawak AS ini bertepatan dengan beruntunnya laporan serangan proyektil misterius yang menghantam sedikitnya dua kapal komersial di perairan sekitar, di mana salah satu kapal dilaporkan terbakar hebat. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (United Kingdom Maritime Trade Operations/UKMTO) langsung mengeluarkan peringatan bahaya dan mengimbau seluruh kapal niaga yang melintas untuk meningkatkan kewaspadaan tinggi di tengah penyelidikan yang sedang berlangsung.
Meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam rangkaian bentrokan ini, insiden tersebut makin memperkeruh gesekan militer antara Washington dan Teheran di kawasan Teluk.
Wahana nirawak yang dihancurkan IRGC merupakan platform pengintai berbasis tenaga angin dan surya besutan perusahaan manufaktur asal Amerika Serikat, Saildrone Inc. yang berbasis di Alameda, California. Dikembangkan khusus untuk pengawasan maritim jarak jauh tanpa henti (long-endurance ocean sensing), armada Saildrone Explorer dioperasikan secara intensif oleh US Navy di bawah Armada Kelima (US Naval Forces Central Command/NAVCENT/Task Force 59) guna memetakan pergerakan maritim dan melakukan pengawasan intelijen (ISR) secara real-time di perairan perbatasan.
The purchase price of a standard Saildrone Voyager is approximately $1.0 million, while US Navy/Coast Guard contract pricing averages $4.25 per nautical mile per day to operate. pic.twitter.com/r5GJG4ozzt
— Luis Talavera (@LuisTal07488786) September 10, 2026
Dari spesifikasi, Saildrone Explorer memiliki panjang lambung 7 meter (23 kaki) dengan tinggi layar tegak (rigid wing) mencapai 5 meter. Keunggulan utama kapal tanpa awak ini terletak pada efisiensi energinya yang luar biasa; pendorong utamanya mengandalkan angin melalui layar kaku berdesain khusus, sementara seluruh perangkat elektronik, sensor pengintai, radar 360 derajat, kamera optronik, dan pemancar satelit ditenagai penuh oleh panel surya yang terpasang di sepanjang permukaan lambungnya.
Kombinasi sistem ini memungkinkan Saildrone Explorer beroperasi di lautan lepas selama lebih dari 12 bulan secara mandiri tanpa memerlukan pengisian bahan bakar minyak (zero-emission) maupun intervensi awak kapal di lokasi.
Eyes in the sky! 📷
📍GULF OF AQABA (Sept. 21, 2022) A drone captures footage of two unmanned surface vessels, a Saildrone Explorer and Devil Ray T-38 while they operate in the #GulfofAqaba, during exercise #DigitalShield.
📸 : by MC1 Mark Mahmod pic.twitter.com/50fPbUJmr2
— U.S. Navy (@USNavy) September 29, 2022
Diintegrasikan dengan kecerdasan buatan (AI) dan pemantauan satelit Iridium, Saildrone Explorer mampu mentransmisikan data pencitraan radar, rekaman HD, hingga sensor oseanografi secara terenkripsi langsung ke pusat komando militer AS. Meski tidak dibekali sistem persenjataan (unarmed), keberadaan wahana pintar berbiaya operasional murah namun berkemampuan intai tinggi ini kerap dianggap ancaman spionase maritim yang sangat sensitif oleh Iran di sepanjang perairan Selat Hormuz.
Penghancuran unit bernomor lambung 5838 ini menambah panjang daftar konfrontasi terbuka terhadap aset nirawak AS di kawasan Timur Tengah. (Bayu Pamungkas)


