Raih Status Final Operational Capability, Sistem Rudal Hanud NASAMS Australia Resmi Siap Tempur Penuh

Pemerintah Australia melalui Departemen Pertahanan secara resmi mendeklarasikan status Final Operational Capability (FOC) bagi sistem pertahanan udara berbasis darat NASAMS (National Advanced Surface-to-Air Missile System) milik Angkatan Darat Australia pada 9 September 2026.

Baca juga: Gelombang Perdana Peluncur NASAMS Tiba di Australia

Deklarasi kesiapan operasional penuh ini menandai tuntasnya proyek modernisasi LAND 19 Phase 7B senilai Aus$1,5 miliar yang diinisiasi sejak 2019 guna menggantikan sistem rudal MANPADS legendaris RBS-70. Pencapaian FOC ini mengonfirmasi bahwa unit pengoperasikannya, yakni Resimen ke-16 Royal Australian Artillery, tidak lagi sekadar berada pada tahap pengujian atau integrasi awal, melainkan telah sepenuhnya siap tempur (combat-ready) untuk mendeteksi, mengacak, dan menghancurkan berbagai ancaman udara mulai dari jet tempur, helikopter, rudal jelajah, hingga drone.

Bagi pengamat alutsista di kawasan, pencapaian FOC ini menarik untuk dicermati bila dibandingkan dengan Indonesia. TNI AU sebenarnya telah melangkah lebih awal menerima pengiriman unit penembak NASAMS 2 sejak tahun 2020 untuk memperkuat perisai udara Ibu Kota di bawah Satuan Peluru Kendali (Satrad) 241.

Meski Indonesia mendahului dalam jadwal penyerahan unit fisik dari pabrikan Kongsberg, status full operational capability dalam standar doktrin militer barat seperti yang diumumkan Australia menyangkut pemenuhan ekosistem tempur yang jauh lebih kompleks. Di Australia, deklarasi siap operasional penuh baru diberikan setelah seluruh rantai komando, logistik berkelanjutan, integrasi radar lokal, hingga validasi taktis lapangan teruji secara menyeluruh di bawah doktrin pertempuran intensitas tinggi.

AD Australia Uji Sertifikasi Sistem Hanud NASAMS, Kemampuan Operasional Penuh di Tahun 2026

Dalam konteks Australia, status full operational mencakup validasi kemampuan unit di lapangan untuk tidak hanya sukses meluncurkan rudal saat latihan, tetapi juga bertahan hidup (survivability) di medan perang sungguhan. Hal ini dibuktikan melalui serangkaian latihan taktis seperti Exercise Raptor’s Strike di mana Resimen ke-16 menguji ketahanan jaringan komunikasi terenkripsi, kemampuan bergerak cepat (shoot-and-scoot), pasokan amunisi mandiri, hingga efektivitas kamuflase dari deteksi intelijen musuh.

Kunci keunggulan NASAMS Australia terletak pada konfigurasinya yang unik dan terdistribusi: mengintegrasikan radar AESA buatan dalam negeri CEA Technologies, sensor elektro-optik/inframerah, serta peluncur bergerak High Mobility Launcher (HML) yang dipasang pada rantis lapis baja buatan lokal, Hawkei 4×4.

AD Australia Umumkan Uji Coba Peluncuran AIM-9X Sidewinder dari Plafform Hawkei NASAMS HML

Fleksibilitas operasional penuh ini semakin diperkuat oleh kemampuan jaringan NASAMS Australia untuk menembakkan berbagai varian rudal sesuai tingkat ancaman, mulai dari AIM-120 AMRAAM hingga AIM-9X Sidewinder.

Kehadiran NASAMS kini secara resmi mengisi posisi inner defensive layer atau lapisan pertahanan udara jarak pendek-menengah untuk melindungi pangkalan udara, pusat logistik, serta peluncur roket artileri HIMARS dari serangan presisi lawan.

Lebih jauh lagi, integrasi penuh ini menjamin interoperabilitas tinggi dengan sekutu di kawasan Indo-Pasifik melalui arsitektur komando berbasis Joint Air Battle Management System (AIR6500), menjadikan perisai udara Australia terkoneksi secara real-time dengan kapal perang dan jet tempur stealth F-35 dalam satu ekosistem pertahanan terpadu. (Haryo Adjie)

Lockheed Raih Kontrak $765 Juta untuk Proyek Air6500 All Domain Bagi Militer Australia, Apakah Itu?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *