Mantan Pilot Rafale-M Perancis Diselidiki atas Dugaan Spionase Penerbangan Kapal Induk ke Cina

Isu spionase penerbangan militer kembali mengguncang lingkar pertahanan Eropa. Pierre-Henri Chuet, seorang mantan pilot tempur Angkatan Laut Perancis (Marine Nationale) yang pernah mengawaki jet Rafale M dan Super Étendard dari kapal induk nuklir Charles de Gaulle, resmi ditempatkan di bawah penyelidikan formal (mise en examen) oleh hakim pemeriksa di Paris atas dugaan aktivitas intelijen yang menguntungkan Cina.

Baca juga: Lepas Landas via Ski-Jump dengan Payload Penuh, Rafale-M Tampil Memukau di India

Pria yang juga memegang kewarganegaraan ganda Perancis-Kanada tersebut diperiksa secara intensif di markas dinas intelijen dalam negeri Perancis (DGSI) sebelum kediamannya digeledah. Berdasarkan laporan Intelligence Online, Chuet kini berada di bawah pengawasan yudisial dan menghadapi empat dakwaan berat: pengungkapan rahasia pertahanan nasional oleh pihak yang dipercaya, kerja sama intelijen dengan kekuasaan asing, pengumpulan informasi terkait kepentingan mendasar negara, serta penyerahan informasi rahasia kepada pihak luar.

Penyelidikan resmi ini berawal dari laporan Kementerian Angkatan Bersenjata Perancis kepada Kejaksaan Paris pada Februari 2025. Saat masih aktif berdinas sebagai perwira militer, Chuet diketahui telah melakukan dua kali perjalanan ke Cina, yakni pada September 2018 dan Agustus 2019, tanpa memberikan pemberitahuan resmi kepada rantai komandonya sebagaimana diwajibkan oleh regulasi militer Perancis.

Menariknya, kedua kunjungan tersebut diatur dan didanai penuh oleh sebuah perusahaan penerbangan asal Afrika Selatan—modus operandi yang kerap diidentifikasi oleh intelijen Barat sebagai jalur perantara (proxy) untuk merekrut mantan instruktur dan pilot tempur NATO guna melatih personel Angkatan Laut Cina (PLAN).

Mengapa sosok Chuet sangat bernilai bagi Beijing? Selain berpengalaman menerbangkan Rafale-M di atas kapal induk Charles de Gaulle, Chuet merupakan veteran pilot pertukaran (exchange officer) yang dilatih langsung oleh US Navy dan mencatatkan sekitar 200 kali pendaratan berjarat (carrier landing) di kapal induk.

Pengalaman riil operasi kapal induk berkualifikasi CATOBAR (Catapult-Assisted Take-Off But Arrested-Recovery) yang dimiliki penerbang Perancis merupakan keahlian yang sangat terbatas di dunia di luar Angkatan Laut Amerika Serikat. Sementara itu, Cina saat ini mengoperasikan tiga kapal induk dan sedang membangun kapal induk keempat.

Shenyang J-15T Tampil Perdana, Jet Tempur Pertama Angkatan Laut Cina Spesialis “CATOBAR”

Kapal induk terbaru Cina, Fujian (Type 003), menggunakan sistem peluncuran katapel elektromagnetik (EMALS) dan penahan pendaratan—konsep yang identik dengan sistem operasi CATOBAR tempat Chuet ditempa. Keahlian taktis Chuet dalam prosedur pendaratan dan lepas landas dari geladak kapal induk menjadi materi berharga bagi Beijing untuk mempercepat kesiapan tempur para penerbang jet tempur J-15T maupun J-35 Cina.

Selepas pensiun dini dari militer akibat masalah medis pasca stroke, Chuet dikenal publik sebagai pembuat konten aviasi populer di YouTube, penulis buku, pembicara korporat, serta pilot maskapai komersial. Namun, karier publiknya kini dibayangi oleh proses hukum atas dugaan membocorkan taktik penerbangan kapal induk kepada militer Cina. (Bayu Pamungkas)

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *