Terbang Perdana di Texas, F-35A Pertama Jerman Dibekali Kemampuan Meluncurkan Bom Nuklir

Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) resmi memasuki era jet tempur generasi kelima setelah pesawat F-35A Lightning II pertamanya sukses melaksanakan penerbangan perdana (maiden flight) di fasilitas manufaktur Fort Worth, Texas, Amerika Serikat.
Baca juga: Breaking! Jerman Pilih F-35 Lightning II untuk Gantikan Panavia Tornado
Pesawat dengan kode penamaan resmi MG-01 (nomor ekor militer 35+01) tersebut menandai pencapaian krusial dalam program modernisasi armada tempur Jerman sejak pemerintah Berlin menandatangani kontrak pembelian 35 unit F-35A pada tahun 2022 lalu. Langkah ini diambil untuk menggantikan peran jet tempur veteran Panavia Tornado yang telah beroperasi selama puluhan tahun sekaligus memperkuat postur pertahanan udara Jerman di kawasan Eropa.
Selain memperbarui alutsista udara, pengadaan F-35A memiliki nilai strategis tinggi terkait komitmen Jerman dalam skema berbagi nuklir NATO (NATO nuclear-sharing). Varian F-35A dirancang khusus agar sanggup mengusung dan menembakkan bom nuklir taktis B61-12, menggantikan peran yang selama ini diemban oleh Panavia Tornado.
Sebelum resmi ditempatkan di Eropa, jet tempur MG-01 beserta unit-unit awal lainnya akan dialokasikan terlebih dahulu ke Ebbing Air National Guard Base di Arkansas, Amerika Serikat, yang difungsikan sebagai pusat pelatihan konversi bagi para penerbang dan teknisi Luftwaffe.
Germany’s future airpower just took flight. 🇩🇪⚡
The nation’s first F-35 has completed its first flight, marking a major milestone for the program and the future of the Luftwaffe. pic.twitter.com/vvEOcTmBnB
— Lockheed Martin Europe (@LMEuropeNews) September 8, 2026
Berdasarkan garis waktu program, gelombang pertama pesawat F-35A dijadwalkan mulai mendarat di Pangkalan Udara Büchel, Jerman, pada tahun 2027 mendatang setelah fasilitas infrastruktur penunjangnya selesai diperbarui. Seluruh proses pengiriman 35 unit pesawat ditargetkan tuntas sepenuhnya pada tahun 2029.
Kehadiran F-35A membawa lompatan teknologi signifikan bagi kekuatan udara Jerman melalui kombinasi kemampuan siluman (stealth), sensor mutakhir, dan sistem peperangan berbasis jaringan (network-centric warfare) yang akan meningkatkan interoperabilitas Luftwaffe bersama sekutu NATO di era pertempuran modern.
Demi “Siaga Nuklir”, Jerman Tambah Pesanan Jet Tempur Stealth F-35A Lightning II
Pengadaan F-35A ini mengonfirmasi posisi Jerman dalam memperkuat doktrin pencegahan nuklir (nuclear deterrence) di kawasan Eropa. Secara teknis, F-35A versi Luftwaffe memang telah dirancang dan disertifikasi khusus sebagai platform Dual-Capable Aircraft (DCA), yakni pesawat tempur yang memiliki integrasi sistem untuk membawa senjata konvensional sekaligus senjata nuklir taktis.
Fitur ini memungkinkan F-35A Jerman untuk mengusung, mengondisikan kode pelepasan, hingga melepaskan bom nuklir gravitasi presisi jenis B61-12 dari dalam kompartemen senjata internalnya (internal weapon bay), sebuah kapabilitas kritis yang selama ini menjadi syarat mutlak NATO untuk menggantikan tugas armada Panavia Tornado.
Kendati jet tempur F-35A Jerman memiliki kemampuan teknis penuh untuk meluncurkan bom nuklir B61-12, kendali atas hulu ledak tersebut tidak berada di tangan Jerman secara mandiri. Berdasarkan protokol NATO nuclear-sharing, seluruh bom nuklir B61-12 yang disiagakan di Pangkalan Udara Büchel tetap dimiliki, dirawat, dan dikunci oleh personil militer Amerika Serikat (US Air Force 702nd Munition Support Squadron).
Jerman menyediakan pesawat pengusung dan pilot yang terlatih, namun pelepasan atau otorisasi penggunaan senjata nuklir tersebut dalam situasi krisis tetap membutuhkan persetujuan ganda (double-key mechanism) dari Presiden Amerika Serikat dan Komando Strategis NATO. (Gilang Perdana)
Respon Dinamika Global, AS Ciptakan B61-13: Bom Gravitasi dengan Hulu Ledak Nuklir 360 Kiloton


