Pakar Rusia Peringatkan India: Perancis Diduga Bisa ‘Lumpuhkan’ Jet Rafale dan Rudal SCALP dari Jarak Jauh

Kekhawatiran baru membayangi kesiapan tempur Angkatan Udara India (IAF) setelah para pakar dari lembaga Center for Analysis of World Arms Trade (CAWAT) yang berbasis di Rusia merilis peringatan kritis terkait alutsista buatan Perancis.

Baca juga: Beli Lisensi Rudal SCALP dan Aster 30, Ukraina Resmi Borong 16 Jet Tempur Rafale dari Perancis

Varian ekspor dari jet tempur Dassault Rafale serta rudal jelajah SCALP-EG (Storm Shadow) yang kini menjadi tulang punggung pertahanan udara New Delhi diduga kuat memiliki celah kerentanan (vulnerability) pada sistem perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Celah teknis ini secara teoritis memberi kemampuan bagi pihak manufaktur untuk menonaktifkan atau melumpuhkan fungsi operasional alutsista tersebut dari jarak jauh (remote kill-switch) tanpa persetujuan India.

Peringatan dari pakar pertahanan Rusia ini mencuat di tengah tajamnya perdebatan publik dan analisis militer mengenai efektivitas serta kinerja tempur armada Rafale India saat terlibat bentrokan udara dengan Pakistan pada Mei 2025 lalu. Pihak CAWAT menegaskan bahwa hipotesis mengenai potensi intervensi jarak jauh ini memerlukan investigasi menyeluruh dan independen oleh pihak berwenang India guna memverifikasi kebenarannya.

Para analis menekankan bahwa hanya otoritas militer dan kementerian pertahanan India yang memiliki akses langsung untuk menentukan apakah ada pembatasan teknis atau pembatasan fungsi (operational kill-switch) buatan luar negeri yang secara langsung mempengaruhi efektivitas operasional armada Rafale dan rudal SCALP mereka di lapangan.

Isu mengenai potensi pembatasan fungsi alutsista dari pihak produsen asing (backdoor atau kill-switch) bukanlah hal baru dalam industri pertahanan, terutama bagi negara-negara pembeli yang menerapkan kebijakan politik luar negeri independen (bebas aktif) seperti India. Ketergantungan penuh pada kode sumber (source code) dan sistem avionik tertutup milik pabrikan luar negeri kerap menempatkan pengguna dalam posisi rentan, terutama jika terjadi pergeseran geopolitik atau tekanan diplomatik dari negara pembuat saat konflik pecah.

Dalam konteks Rafale dan rudal SCALP-EG, kekhawatiran terbesar terletak pada potensi pembatasan data intelijen sasaran (geofencing) serta perintah pemblokiran sistem sistem kendali tembak yang dapat diakses secara terselubung melalui pembaruan lunak berkala.

Redam Keresahan Terkait ‘Kill Switch’ di Jet Tempur Stealth F-35, Lockheed Martin Buka Suara

Di sisi lain, publikasi peringatan oleh CAWAT dinilai oleh sebagian pengamat industri militer sebagai bagian dari dinamika persaingan industri pertahanan antara Rusia dan Perancis di pasar pasokan alutsista India. Rusia, yang selama puluhan tahun menjadi pemasok utama jet tempur Su-30MKI dan MiG-29 bagi India, secara bertahap mulai kehilangan pangsa pasarnya seiring keputusan New Delhi yang kian gencar melakukan diversifikasi serta memprioritaskan pemenuhan alutsista dari Perancis dan negara-negara Barat.

Meski demikian, peringatan teknis ini tetap memicu desakan dari internal militer India agar pemerintah segera melakukan audit siber terpadu dan mendorong integrasi teknologi lokal pada armada Rafale demi menjamin kedaulatan penuh atas sistem senjata mereka. (Bayu Pamungkas)

Cina Konfirmasi Kemenangan J-10CE dengan Zero Loss: Klaim 4 Jet Tempur Rafale India Jatuh dalam Duel Udara

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *