Tangkis 1.400 Rudal dan Drone Iran: Rekor Pertahanan Udara Terbesar US Army Meski Dibayangi Krisis Stok Munisi

Komando Pertahanan Udara dan Rudal Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army Space and Missile Defense Command) mengonfirmasi bahwa jajarannya telah menembak jatuh lebih dari 1.400 rudal dan drone buatan Iran dalam dua konflik besar terakhir di Timur Tengah. Pencapaian ini menandai keterlibatan US Army dalam pertempuran pertahanan udara dan rudal terbesar dan paling intensif sepanjang sejarah militer modern Amerika Serikat.

Baca juga: Analisis WSJ: Lebih dari 2.000 Serangan Balasan Iran Pukul Pangkalan AS di Timur Tengah dan Buka Kerentanan Hadapi Cina

Komandan US Army Space and Missile Defense Command, Letjen John Rafferty, mengungkapkan rincian tersebut dalam panel Space and Missile Defense (SMD) Symposium di Huntsville, Alabama. Penjelasan ini mempertegas laporan The Wall Street Journal sebelumnya yang mencatat bahwa Iran dan sekutunya telah melancarkan lebih dari 2.000 gelombang serangan rudal serta drone menyasar pangkalan militer AS dan wilayah Israel.

Secara rincinya, Komando Pertahanan Udara dan Rudal Angkatan Darat ke-32 (32nd AAMDC) yang berbasis di Fort Bliss, Texas, bertindak sebagai ujung tombak utama perlindungan perairan dan pangkalan Sekutu di kawasan tersebut. Selama perang 12 hari (12-Day War) antara Iran dan Israel, unit US Army sukses menghancurkan 125 rudal balistik Iran.

Sementara dalam rentang Operation Epic Fury, sistem pertahanan US Army menetralisir lebih dari 1.200 ancaman gabungan yang terdiri dari rudal balistik, rudal jelajah, hingga unmanned aerial system (UAS/drone kamikaze).

Kombinasi baterai THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), sistem rudal Patriot (PAC-2/PAC-3), serta konsentrasi sistem pertahanan Counter-UAS menjadi tumpuan utama dalam menahan gempuran udara Iran. Secara keseluruhan, data Komando Pusat AS (CENTCOM) mencatat bahwa jaringan pertahanan udara terintegrasi Middle East Air Defense (MEAD) berhasil menangkis lebih dari 6.000 drone serang dan 1.500 rudal balistik Iran, di mana sistem darat US Army menyumbang sekitar 16 persen dari total porsi intersepsi kawasan.

Namun, keberhasilan menghalau ribuan ancaman udara ini membawa konsekuensi fatal bagi kesiapan tempur jangka panjang Washington: krisis penipisan stok rudal pencegat (magazine depth).

Laporan CNN: Stok Rudal Pencegat AS Kritis Pasca Perang Iran, Persediaan THAAD Terkuras Hingga 80 Persen

Laporan analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan penurunan drastis pada persediaan amunisi pertahanan udara AS. Sebelum Operation Epic Fury, AS diperkirakan memiliki sekitar 2.300 rudal pencegat Patriot. Namun per 27 Juli 2026, jumlah tersebut menyusut drastis menjadi antara 759 hingga 827 unit. Kondisi serupa terjadi pada amunisi THAAD, di mana persediaan yang semula berjumlah 452 unit kini tergerus hingga menyisakan sekitar 234 sampai 278 unit di gudang amunisi AS.

Penggunaan berulang beberapa rudal pencegat (multiple interceptors) untuk satu sasaran demi memastikan angka kill probability yang tinggi mempercepat habisnya stok amunisi berkemampuan tinggi (high-end interceptors) tersebut.

Stok Rudal Patriot Anjlok 65% Pasca konflik Iran, AS Kucurkan Kontrak Jumbo US$58,6 Miliar ke Lockheed Martin

Pihak Pentagon mengakui bahwa mengandalkan rudal pencegat konvensional berharga jutaan dolar untuk menembak jatuh drone murah tidak lagi berkelanjutan (sustainable). Letjen Rafferty menekankan bahwa militer AS harus segera mengadopsi strategi missile defeat yang komprehensif, tidak hanya berpatokan pada penambahan rudal pencegat kinetik, tetapi juga mempercepat penggelaran teknologi non-kinetic seperti Senjata Energi Terarah (Directed Energy/Laser) dan Perang Elektronik (Electronic Warfare).

Habisnya ratusan amunisi THAAD dan Patriot di Timur Tengah ini kini memicu kekhawatiran besar di kalangan pengamat militer global. Pasalnya, keterbatasan stok pencegat yang membutuhkan waktu manufaktur lama (long-lead time) ini berpotensi melemahkan kesiapan pertahanan udara AS jika konflik berskala penuh pecah di kawasan Indo-Pasifik menghadapi ancaman armada rudal Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLA). (Gilang Perdana)

Perkuat Pertahanan Udara Empat Negara Teluk, AS Setujui Penjualan 5.250 Rudal Pencegat Patriot

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *