
Komando Pertahanan Udara dan Rudal Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army Space and Missile Defense Command) mengonfirmasi bahwa jajarannya telah menembak jatuh lebih dari 1.400 rudal dan drone buatan Iran dalam dua konflik besar terakhir di Timur Tengah. Pencapaian ini menandai keterlibatan US Army dalam pertempuran pertahanan udara dan rudal terbesar dan paling intensif sepanjang sejarah militer modern Amerika Serikat. (more…)

Laporan mengejutkan yang dirilis media AS, CNN, mengungkapkan bahwa persediaan rudal pencegat dan amunisi presisi jarak jauh milik militer Amerika Serikat telah berada pada tingkatan yang sangat mengkhawatirkan. Rentetan konfrontasi militer dengan Iran dalam operasi bertajuk Operation Epic Fury dikabarkan telah menghabiskan hampir 80 persen (empat perlima) dari total stok rudal pencegat THAAD (Terminal High Altitude Area Defense). (more…)

Perang skala besar dan konfrontasi sengit di Timur Tengah, khususnya pasca-eskalasi dengan Iran, memberikan pukulan telak bagi persediaan sistem pertahanan udara Amerika Serikat. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa stok rudal pencegat (interceptor) Patriot milik Angkatan Darat AS mengalami penurunan tajam hingga 65 persen. (more…)

Di tengah bayang-bayang serangan dari Amerika Serikat dan Israel, Iran memperkenalkan varian terbaru dari keluarga rudal balistiknya, Khorramshahr-4, yang juga diberi julukan Kheibar. Rudal ini bukan sekadar pembaruan rutin, melainkan representasi dari doktrin militer Iran yang semakin matang dalam menghadapi ancaman dari sistem pertahanan udara modern. (more…)

Pasca serangan rudal balistik hipersonik Oreshnik kedua ke Ukraina pada 9 Januari 2026, Rusia menegaskan dominasi teknologinya di bidang pertahanan udara dan rudal. Berdasarkan laporan dari kantor berita TASS (13/1/2026), pakar militer Rusia menyatakan bahwa sistem pertahanan udara milik negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, tidak memiliki kemampuan untuk mencegat hulu ledak dari sistem rudal Oreshnik. (more…)

Lockheed Martin mengumumkan langkah ambisius untuk melipatgandakan produksi pencegat sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Langkah ini diambil guna memenuhi lonjakan permintaan global dan mengatasi kekosongan inventaris pertahanan udara yang kian mengkhawatirkan di tengah ketidakpastian keamanan dunia. (more…)

Tak rela sekutunya dibuat babak belur akibat serangan rudal balistik Iran, Pentagon pada hari Minggu (13/10/2024) telah mengonfirmasi bakal mengirim satu baterai (kompi) sistem pertahanan udara (hanud) THAAD (Terminal High Altitude Area Defense). Hal tersebut dilakukan sebagai antisipasi atas reaksi pembalasan Iran, khususnya bila Israel jadi melakukan ke serangan instalasi vital Iran. (more…)

Meski terdengar kurang realistis, nama sistem hanud Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) besutan Lockheed Martin kerap disebut netizen bakal menjadi alutsista artileri pertahanan udara TNI di masa depan. Mampu melesat hingga ketinggian 150 km dengan kecepatan lebih dari Mach 8, menjadikan rudal THAAD menjadi ujung tombak Amerika Serikat untuk menangkal serangan rudal balistik sebelum mencapai atmosfer. (more…)