Bentuk Mirip Radio HT: US Army Borong Detektor Drone Personel Senilai $99 Juta untuk Lindungi Prajurit

Pengambil kebijakan di Pentagon akhirnya secara penuh mengakui realitas pahit dari pertempuran modern, yakni ancaman drone, terutama jenis First-Person View (FPV) kamikaze berharga murah, kini menjadi salah satu pembunuh paling mematikan bagi prajurit di garis depan.
Baca juga: Mampu Deteksi Kehadiran Drone FPV, Rusia Sebar 1.000 Unit Yurka Drone Detectors
Mengantisipasi ancaman yang kian nyata ini, seluruh cabang Angkatan Bersenjata AS—mulai dari Angkatan Darat, Korps Marinir, Angkatan Udara, hingga Angkatan Laut—kini secara masif mengadopsi teknologi kontra-drone berbasis taktis dan otonom.
Sebagai langkah konkret terbaru, Angkatan Darat AS (US Army) resmi mengalokasikan kontrak Indefinite-Delivery/Indefinite-Quantity (IDIQ) senilai US$99 juta kepada perusahaan teknologi Heaviside Industries. Kontrak berdurasi lima tahun ini mencakup pengadaan, pengerahan lapangan, pembaruan, hingga perawatan sistem penganalisis spektrum Radio Frequency (RF) bernama MOTH (Massive Omnidirectional Tactical Tracker). Pengiriman perdana unit MOTH dijadwalkan bakal dimulai pada tahun fiskal 2027 dan rampung pada akhir Agustus 2031.
Perangkat MOTH memiliki bentuk fisik dan ukuran yang sangat mirip dengan radio HT (Handheld Transceiver) taktis atau walkie-talkie, dengan bobot sangat ringan di bawah satu pon (sekitar 0,45 kilogram).
U.S. company Heaviside Industries has been awarded a $99 million contract by the U.S. Army for its MOTH radio-frequency (RF) spectrum analyzers.
The five-year, firm-fixed-price, indefinite-delivery/indefinite-quantity contract covers procurement, fielding, upgrades and… pic.twitter.com/utOdL2yhum
— Drone Wars (@Drone_Wars_) September 29, 2026
Di pasar komersial, satu paket unit MOTH dijual seharga $4.950 (sekitar Rp75 juta-an) melalui jaringan retailer, meski harga borongan per unit untuk standar US Army tidak dipublikasikan. Perangkat ini juga telah mengantongi sertifikasi NDAA-compliant dan status Blue UAS Cleared, menjamin keamanan rantai pasokan komponennya dari pengaruh asing.
Dari sisi teknis, MOTH bekerja secara pasif dengan memindai spektrum frekuensi radio dari rentang 5 MHz hingga 6 GHz secara real-time. Rentang spektrum yang sangat luas ini memungkinkan MOTH mendeteksi berbagai jenis emisi sinyal radio, mulai dari sinyal kendali drone FPV, video feed, pemancar telemetri, hingga perangkat komunikasi musuh di sekitar lokasi prajurit. Karena bersifat pasif, MOTH tidak memancarkan gelombang yang dapat dilacak oleh radar intelijen musuh (Electronic Intelligence/ELINT).
Tingkatkan Kesadaran Situasional, Prajurit Rusia Gunakan “Bulat” untuk Deteksi Kehadiran Drone
Dirancang untuk dipasang pada tali bahu atau rompi tempur (tactical vest), MOTH dapat beroperasi secara independen maupun dihubungkan ke ekosistem perang elektronik (electronic warfare) yang sudah ada.
Begitu menangkap sinyal ancaman drone yang mendekat, alat ini akan memberikan peringatan dini (early warning) melalui getaran (haptic vibration), lampu indikator LED, atau nada peringatan pada earpiece helm prajurit. Peringatan beberapa detik ini sangat krusial agar prajurit sempat mencari perlindungan atau menyiagakan alat pengacak sinyal (portable jammer).
Pelajaran berharga dari medan konflik di Ukraina serta Timur Tengah menjadi pemicu utama pergeseran doktrin ini. Realitas pertempuran membuktikan bahwa drone rakitan seharga jutaan rupiah mampu menghancurkan tank utama, sistem radar, maupun kendaraan tempur bernilai jutaan dolar. Dalam perang drone jarak dekat, siapa pun yang mampu mendeteksi keberadaan lawan terlebih dahulu adalah pihak yang berpeluang bertahan hidup di medan tempur.
Tidak hanya Angkatan Darat, Korps Marinir (USMC), Angkatan Udara (USAF), dan Angkatan Laut (US Navy) juga bergerak serentak mengadopsi ekosistem perang drone modern. Integrasi ini mencakup pengerahan jammer jinjing untuk prajurit infanteri, pengoperasian drone pendamping otonom (Loyal Wingman) untuk jet tempur, hingga penggunaan kapal tempur otonom tanpa awak di lautan.
Penandatanganan kontrak bernilai jutaan dolar merupakan bagian yang mudah bagi Pentagon, namun tantangan tersulit yang sebenarnya adalah mampukah militer AS mendistribusikan alat MOTH ini ke setiap regu prajurit sebelum konflik berskala besar berikutnya benar-benar pecah. (Bayu Pamungkas)
Trigate: Solusi Taktis Penembus Sekat Komunikasi Antar Jaring Radio TNI AD


