Lini Produksi C-17 Globemaster III Ditutup, AS Kini Pertimbangkan Buka Kembali dengan Biaya Fantastis

Amerika Serikat kembali membuka kemungkinan untuk menghidupkan lini produksi pesawat angkut strategis C-17 Globemaster III, lebih dari satu dekade setelah produksi pesawat tersebut dihentikan pada 2015. Namun, rencana ini bukan perkara sederhana karena biaya untuk membuka kembali fasilitas produksinya diperkirakan sangat besar.

Baca Juga: Hari ini 35 Tahun Lalu, Boeing C-17 Globemaster III Sukses Terbang Perdana di California

Menurut laporan Defense Express, pada 2012 RAND Corporation pernah menghitung bahwa mengaktifkan kembali produksi C-17 membutuhkan sedikitnya US$8 miliar. Nilai tersebut merupakan perhitungan berdasarkan harga pada 2012, sehingga biaya aktual saat ini berpotensi jauh lebih tinggi.

Wacana tersebut muncul ketika Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) menghadapi persoalan umur armada pesawat angkut beratnya. Saat ini, C-17 dan C-5 Galaxy masih menjadi tulang punggung kemampuan angkut strategis AS, sementara platform pengganti yang dikenal sebagai NGAL (Next-Generation Airlift) diproyeksikan baru hadir pada dekade 2040-an.

Kondisi ini memunculkan dua pilihan utama: memperpanjang masa operasional armada C-17 dan C-5 yang ada, atau kembali memproduksi C-17 dengan konfigurasi yang lebih modern.

C-17 sendiri bukan platform baru. Pesawat produksi pertama melakukan penerbangan perdana sekitar 35 tahun lalu. Meski telah mendapatkan berbagai peningkatan kemampuan, usia desain tersebut membuat ruang untuk modernisasi dan perpanjangan masa pakai semakin menjadi perhatian.

Menariknya, kebutuhan potensial tidak hanya datang dari Amerika Serikat. Sejumlah negara pengguna C-17 seperti Australia, Inggris, Kanada, Kuwait, India, dan Uni Emirat Arab (UEA) disebut memiliki potensi ketertarikan untuk menambah jumlah armadanya. Boeing juga sebelumnya mengindikasikan adanya minat dari beberapa negara terhadap kemungkinan produksi kembali C-17.

Namun, keputusan untuk membuka kembali lini produksi masih menghadapi sejumlah kendala. USAF sendiri belum menentukan secara pasti bagaimana masa depan armada C-17 dan C-5 hingga dekade 2040-an.

Selain itu, apabila produksi baru hanya ditujukan bagi pelanggan asing, muncul pertanyaan mengenai skala produksi, kebijakan pemerintah AS, serta harga jual pesawat. Biaya yang terlalu tinggi berpotensi membuat calon pembeli berpikir ulang.

Momen Langka: Pesawat Angkut Berat C-17 Globemaster III AS Tiba-Tiba Mendarat di Moskow

Dengan demikian, meski C-17 masih memiliki daya tarik sebagai pesawat angkut strategis, keputusan menghidupkan kembali produksinya akan menjadi pertimbangan besar dari sisi kebutuhan operasional, industri, dan biaya.

Di sisi lain, opsi membangun ulang rantai pasok dan infrastruktur pabrik yang telah lama tutup memerlukan komitmen finansial yang amat besar. Tanpa adanya pesanan dalam jumlah masif dari pemerintah AS sendiri, skema produksi ulang ini sulit terwujud secara ekonomis dan berisiko membebankan biaya yang sangat tinggi kepada para konsumen internasional. (Nurhalim)

Meski Punya Kinerja Bagus dengan Reputasi Gemilang, Ini Alasan Boeing Hentikan Produksi C-17 Globemaster III

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *