Pertahankan Fitur Stealth, F-35B Sukses Uji Lepas Rudal Ramjet MBDA Meteor dari Internal Bay

Program integrasi persenjataan udara Eropa pada jet tempur siluman (stealth) buatan Amerika Serikat mencatat tonggak sejarah baru. Sebuah jet tempur STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing) F-35B Lightning II milik Korps Marinir AS (USMC) sukses melakukan uji coba pelepasan (separation trial) rudal jelajah udara-ke-udara jarak jauh (Beyond Visual Range Air-to-Air Missile/BVRAAM) Meteor dari dalam kompartemen senjata internal (internal weapons bay).
Baca juga: Langkah Krusial F-35A Lightning II: Tuntas Uji Integrasi Darat Rudal MeteorÂ
Uji coba yang berlangsung pada 7 Oktober 2026 di Naval Air Station Patuxent River, Maryland, ini dipimpin oleh penerbang uji Royal Navy dari Air and Space Warfare Centre, serta didukung penuh oleh tim gabungan US-UK F-35 Integrated Test Force dan pabrikan MBDA. Dalam pengujian tersebut, satu unit rudal uji inersia Meteor dilepaskan dari internal bay F-35B untuk menguji pemisahan aerodinamis tanpa menyalakan sistem pendorong utama.
Pengembangan integrasi ini diprakarsai oleh Inggris sejak 2019 dan kemudian diperluas melibatkan Italia pada 2021. Inggris memimpin integrasi Meteor pada varian F-35B, sementara Italia mendukung alur integrasi untuk varian taktis bersayap tetap konvensional, F-35A. Konsorsium manufaktur yang terdiri dari BAE Systems, Lockheed Martin, dan MBDA menargetkan rudal Meteor siap mencapai kemampuan operasional penuh (operational capability) pada armada F-35 Inggris dan Italia pada awal dekade 2030-an.
Pengusungan rudal Meteor di dalam internal bay menjadi poin kunci dalam mempertahankan profil Low Observable (siluman) pada F-35. Berbeda dengan instalasi pada gantungan luar (gantry/pylon eksternal) yang dapat mendongkrak pantulan radar (Radar Cross Section/RCS), penempatan di dalam badan pesawat memastikan F-35 tetap sulit terdeteksi oleh radar lawan saat mengunci target dari jarak jauh.
Expanding the arsenal. 🎯
An F-35B Lightning II, attached to the F-35 Integrated Test Force, releases a Meteor weapon test asset during a jettison flight trial at Naval Air Station Patuxent River, Maryland.
This milestone trial marks the first Meteor release from an internal weapons bay, verifying safe separation, validating aerodynamic models and advancing long-range strike capabilities.
Learn more about the Meteor milestone at:
https://t.co/zQqizQFEkG— F-35 Lightning II Joint Program Office (@theF35JPO) November 5, 2026
Secara teknis, rudal MBDA Meteor memiliki panjang 3,7 meter, berdiameter 178 mm, dan berbobot sekitar 190 kg. Keunggulan utama Meteor terletak pada sistem pendorong throttleable ramjet bertenaga bahan bakar padat yang dapat diatur debit dorongannya selama penerbangan.
Berbeda dari rudal udara-ke-udara konvensional seperti AIM-120 AMRAAM yang mengalami penurunan energi tajam setelah fase pembakaran roket habis, sistem ramjet Meteor terus memberikan dorongan konstan (sustained thrust) hingga fase penghancuran terminal. Hal ini menciptakan area No-Escape Zone (NEZ) yang jauh lebih luas bagi jet tempur lawan meski mencoba melakukan manuver penghindaran ekstrem pada jarak melebihi 100 km.
Untuk Pertama Kali, Jet Tempur Stealth F-35B Terbang dengan Membawa Rudal Meteor
Selain mesin ramjet, Meteor dilengkapi active radar seeker dan two-way datalink untuk pembaruan koordinat sasaran secara real-time dari jaringan sensor fusion F-35 maupun dari platform udara lain (AWACS atau jet tempur kawan). Kehadiran Meteor pada armada F-35B Inggris dan Italia—yang sebelumnya sudah mengoperasikan rudal ini pada Eurofighter Typhoon—akan memberikan opsi diversifikasi amunisi yang sangat fleksibel serta mengurangi ketergantungan penuh pada pasokan rudal AMRAAM buatan Amerika Serikat.
Pengujian pemisahan fisik dari internal bay F-35B ini juga membuka jalan bagi skenario adaptasi yang lebih luas bagi negara-negara pengguna F-35 di Eropa. Operator F-35A seperti Jerman dan Yunani—yang saat ini telah menyiagakan rudal Meteor pada armada Eurofighter Typhoon dan Dassault Rafale mereka—berpotensi mengadopsi integrasi serupa untuk menyeragamkan stok amunisi udara-ke-udara jarak jauh.
Selain memperkuat interoperabilitas antar-anggota NATO dalam misi pengawasan ruang udara, penggunaan bersama keluarga rudal Meteor pada jet tempur buatan AS dan Eropa memastikan kesiapan logistik serta kemandirian pasokan amunisi taktis saat menghadapi ancaman konflik berskala besar di masa depan. (Gilang Perdana)
Indonesia Resmi Terima Batch Pertama Rafale, Kejutan Rudal Meteor Singkirkan Bayang-Bayang Embargo


