Tantangan Maut Pengambilan Air Helikopter ‘Water Bombing’: Mengapa Operasi Bambi Bucket Sangat Berisiko?

Kejadian naas kembali menimpa armada helikopter pendukung penanggulangan bencana di Tanah Air. Setelah belum lama ini publik dikagetkan oleh insiden yang menimpa helikopter Mi-17V5 HA-5235 milik Puspenerbad, insiden kecelakaan helikopter kembali berulang.

Baca juga: Tragedi di Seruyan: Helikopter Puspenerbad Mi-17V5 HA-5235 Alami Kecelakaan saat Misi Water Bombing

Pada Minggu (8/11/2026) sekitar pukul 11.58 WITA, helikopter yang disewa BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dari jenis H225LP dengan nomor registrasi VH-HGM jatuh di Sungai Barito, kawasan Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Helikopter milik operator swasta asal Australia (dengan registrasi VH) yang dikerahkan untuk misi water bombing tersebut jatuh saat sedang melakukan proses pengambilan air (dipping) menggunakan kantong air (bambi bucket). Beruntung, tiga orang kru yang berada di dalam kabin berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat oleh tim gabungan BPBD dan warga setempat, sementara bangkai helikopter telah ditarik ke tepi sungai.

Insiden ini kembali membuka mata publik mengenai betapa tingginya risiko teknis yang harus dihadapi oleh para penerbang helikopter saat menjalankan misi pemadaman Karhutla, khususnya pada tahap paling kritis: pengambilan air dengan bambi bucket.

Secara kasat mata, mengambil air dari sungai atau danau menggunakan kantong menggantung di bawah helikopter terlihat sederhana. Namun dalam dunia penerbangan (rotary-wing aviation), manuver dipping merupakan salah satu prosedur terbang berisiko paling tinggi (high-risk maneuver) karena beberapa alasan teknis:

Efek Pendulum dan Gangguan Stabilitas (Dynamic Instability)
Saat bambi bucket terisi air hingga kapasitas ribuan liter, beban yang menggantung pada kabel (pendant cable) di bawah perut helikopter menciptakan efek pendulum. Jika terjadi pergeseran arus air, angin mendadak, atau pergerakan kargo secara tiba-tiba, beban dinamis tersebut dapat mengayun dan menarik badan helikopter (dynamic rollover) hingga kehilangan kendali penerbangannya.

Hilangnya Efek Ground (Out of Ground Effect/OGE Hover)
Saat mengambil air, helikopter harus melakukan hovering (melayang diam di udara) pada ketinggian rendah di atas permukaan air. Pada posisi ini, baling-baling membutuhkan daya mesin (engine power) yang jauh lebih besar karena helikopter berada pada kondisi Out of Ground Effect (OGE) akibat permukaan air yang tidak stabil.

Jika terjadi kejutan beban (shock load) saat ember terangkat penuh atau penurunan daya mesin secara mendadak (power settling/vortex ring state), helikopter bisa langsung tersedot ke bawah menuju permukaan air.

Bahaya Downwash dan Turbulensi Permukaan Air
Hembusan udara bawah dari baling-baling utama (main rotor downwash) ke permukaan air sungai dapat menciptakan gelombang buatan, kabut air (water spray), dan turbulensi lokal. Kabut air yang membubung tinggi sanggup mengganggu jarak pandang pilot (visual distortion), bahkan berisiko terhisap ke dalam saluran masuk udara mesin (engine air intake) yang dapat memicu compressor stall atau penurunan performa turbin.

Kondisi Lingkungan dan Risiko Tersangkut
Pengambilan air di sungai kawasan Kalimantan sering kali dihadapkan pada arus air yang deras, pusaran air, serta keberadaan material terapung seperti kayu atau tanggul dangkal. Jika tali atau ember bambi bucket tersangkut kayu di dalam air saat helikopter mulai menarik diri melayang ke atas, tegangan mendadak pada tali peluncur (cable tension) sanggup menarik badan helikopter ke bawah secara konstan sebelum pilot sempat melepaskan beban darurat (emergency cargo release).

Airbus Helicopters (d/h Eurocopter) EC225LP/H225 termasuk dalam penamaan komersial keluarga Super Puma (lebih spesifiknya Super Puma MK II+ / Super Puma generasi baru), namun membagikan platform teknis yang identik dengan H225M Caracal.

Helikopter dengan kode EC225LP (kini dinamai Airbus Helicopters H225) adalah varian sipil/komersial berbadan panjang (long-passenger) dari keluarga Super Puma. Helikopter ini ditenagai dua mesin Turbomeca Makila 2A1, menggunakan rotor utama 5-bilah (5-blade main rotor), dan dirancang khusus untuk operasional pengangkutan personel offshore (minyak dan gas), pencarian dan penyelamatan (SAR) sipil, hingga pemadaman kebakaran (utility/water bombing). Oleh karena itu, sebutan Super Puma untuk versi EC225LP sipil ini sudah sangat tepat.

Dua Helikopter Pemadam Tabrakan di Udara Saat Padamkan Kebakaran Hutan di Yunani

Sementara itu, nama EC725/H225M Caracal adalah varian khusus militer yang diturunkan dari arsitektur EC225 Super Puma tersebut. Varian Caracal dilengkapi dengan armor pelindung tempur, sistem aviasi militer, refueling probe (tiang pengisian bensin di udara), serta dudukan senapan mesin untuk misi operasi khusus dan Combat SAR (seperti yang dioperasikan oleh TNI AU).

Helikopter registrasi VH-HGM yang mengalami insiden di Barito Kuala adalah varian sipil/komersial (EC225LP Super Puma). Meskipun secara sasis, mesin Makila 2A1, dan teknologi baling-baling 5-bilahnya merupakan basis saudara kembar dari helikopter tempur H225M Caracal, penamaan publik dan industri untuk varian kargo/penanggulangan bencana ini tetaplah Super Puma (H225/EC225LP). (Gilang Perdana)

Di Balik Klaim Tajam Rostec: Mengapa Eropa Bakal Kepayahan Tanpa Helikopter Pemadam Kamov Ka-32?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *