Kebal Jamming GPS, Airbus A220 Jadi Pesawat Komersial Pertama yang Usung Navigasi Militer Safran

Menghadapi eskalasi gangguan sinyal satelit navigasi (Global Navigation Satellite System/GNSS) berupa aksi jamming dan spoofing di berbagai wilayah udara konflik global yang kian mengkhawatirkan, pabrikan dirgantara Eropa, Airbus, mengambil langkah terobosan besar. Airbus secara resmi memilih sistem navigasi inersia hibrida SkyNaute besutan manufaktur pertahanan dan dirgantara asal Perancis, Safran Electronics & Defense, untuk disematkan pada keluarga pesawat komersial berlorong tunggal (single-aisle) Airbus A220.

Baca juga: Israel Lakukan ‘Spoofing’ GPS, Ancam Keselamatan Penerbangan di Laut Mediterania Timur

Terpilihnya sistem ini menjadikan Airbus A220 sebagai pesawat jet komersial berpenumpang pertama di dunia yang memboyong teknologi navigasi anti-interferensi berstandar militer ke ranah penerbangan sipil.

Sistem navigasi inersia SkyNaute sendiri sebelumnya telah teruji ketangguhannya di berbagai platform pertahanan berat, mulai dari helikopter militer yang beroperasi di bawah getaran ekstrem dan fluktuasi suhu tinggi, hingga pesawat tempur serta drone yang rentan terhadap upaya peperangan elektronika musuh.

Inti keunggulan teknis SkyNaute bertumpu pada penggunaan teknologi sensor Hemispherical Resonator Gyroscopes (HRG) canggih berjuluk HRG Crystal™. Teknologi giroskop resonator hemisferik ini menawarkan tingkat presisi, keandalan, dan integritas data posisi yang sangat tinggi tanpa mudah terpengaruh oleh manipulasi gelombang elektromagnetik eksternal.

Dengan memadukan sensor HRG termutakhir dan teknologi navigasi inersia hibrida, SkyNaute dirancang untuk memastikan pesawat tetap memiliki referensi posisi dan lintasan yang akurat secara mandiri meskipun sinyal satelit GPS/GNSS utama mengalami degradasi, terputus total, atau sengaja dikacaukan oleh pihak tak bertanggung jawab.

Langkah proaktif ini dinilai sangat krusial mengingat badan keselamatan penerbangan internasional seperti EASA telah melaporkan lonjakan signifikan kasus interferensi GPS di dekat zona konflik—seperti di kawasan Laut Mediterania, Laut Hitam, Timur Tengah, Laut Baltik, hingga Arktik—yang kerap membahayakan kesadaran situasional awak kokpit pesawat sipil.

Antisipasi Serangan Balasan Iran, Israel Terapkan Spoofing GPS Secara Luas, “Pengendara di Tel Aviv Dilaporkan Berada di Beirut”

Bagi Safran, kontrak pemasangan SkyNaute pada Airbus A220 ini menandai pencapaian komersial sipil pertamanya yang sangat strategis, setelah sebelumnya lini produk tersebut mendominasi pasar militer.

Untuk mengantisipasi tingginya permintaan global terhadap teknologi navigasi tahan-interferensi ini, Safran bahkan telah menggelontorkan investasi masif senilai 120 juta Euro guna memperluas dan memodernisasi fasilitas produksi utamanya di Montluçon, Perancis, dengan target melipatgandakan kapasitas produksi tahunan hingga tiga kali lipat pada tahun 2032 mendatang. Integrasi sistem pertahanan navigasi militer ke badan A220 ini diproyeksikan mulai bergulir menjelang akhir dekade ini, sekaligus membuka standar baru keselamatan penerbangan komersial di era perang elektronik modern. (Gilang Perdana)

Pangkalan Udara Ein Shemer Diduga Jadi Biang Kerok ‘Spoofing’ GPS di Timur Tengah

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *