Sentuhan Teknologi Cina di MLRS Polonez, Alutsista Armed dari Belarusia Dirumorkan Dilirik TNI

Suksesnya pengadaan truk taktis MAZ-5316 4×4 asal Belarusia untuk mendukung mobilitas operasional satuan TNI, rupanya membuka peluang dinamika baru dalam peta kerja sama pertahanan Indonesia-Belarusia. Mengiringi rekam jejak armada truk MAZ di tanah air, kini berhembus rumor di kalangan pengamat alutsista bahwa Minsk tengah melirik kebutuhan perkuatan daya gedor Artileri Medan TNI AD lewat penawaran sistem roket peluncur multi-laras (Multiple Launch Rocket System – MLRS) kelas berat jarak jauh, Polonez 300 mm.

Baca juga: Dari Medan Tempur Eropa ke Indonesia: Mengupas Spesifikasi dan Ketangguhan Truk Taktis MAZ-5316 4×4

Kehadiran Polonez dipandang dapat mengisi celah daya jangkau yang sangat masif, melampaui jangkauan sistem MLRS 122mm RM-70 Vampire/Grad maupun 290mm ASTROS II yang saat ini menjadi tulang punggung kekuatan artileri roket Indonesia.

Pengembangan sistem MLRS Polonez sendiri tidak lepas dari peran vital teknologi militer Cina. Ketika Belarusia berambisi memiliki sistem roket jarak jauh presisi tinggi namun terkendala keterbatasan teknologi lokal, Minsk menjalin kemitraan strategis dengan Cina melalui China Academy of Launch Vehicle Technology (CALT).

Dalam kerja sama ini, Cina mendesain dan memasok penuh amunisi roket berpemandu presisi tinggi seri A200 dan A300, sementara Belarusia merancang integrasi sistem kontrol tembak (fire control system) serta platform kendaraan peluncurnya. Kombinasi ini memanfaatkan roket Cina yang mengusung sistem navigasi inersia (INS) dipadukan dengan navigasi satelit (GNSS/GPS/Beidou), menyajikan tingkat akurasi tinggi dengan Circular Error Probable (CEP) kurang dari 30 meter.

Pada varian awal, roket A200 sanggup menjangkau sasaran hingga 200 km, sementara pada varian modernisasi Polonez-M (menggunakan roket A300), jarak tembaknya melonjak drastis hingga rentang 290 hingga 300 kilometer.

Salah satu keunggulan taktis terdepan dari Polonez terletak pada kapabilitas penembakan independen dari setiap kanister peluncurnya. Dalam satu unit kendaraan peluncur (Combat Vehicle V-200BM), Polonez membawa dua pod peluncur berkapasitas masing-masing empat kanister (total 8 roket siap tembak).

Sistem kontrol tembak digital di dalam kabin memungkinkan kedelapan roket tersebut dikunci ke delapan target berbeda secara simultan dan diluncurkan dalam jeda waktu hanya sekitar 50 detik. Setiap hulu ledak (warhead) seberat 150 kg pada roket ini dirancang untuk dapat terpisah dari badan roket di fase akhir penerbangan (terminal phase), sehingga membuat lintasan balistiknya jauh lebih sulit diintersepsi oleh sistem pertahanan udara lawan.

Semua sistem canggih ini diusung oleh kendaraan pembawa bermobilitas tinggi berkonfigurasi 8×8 MZKT-7930 “Astrolog” buatan Minsk Wheeled Tractor Plant (Volat) yang ditenagai mesin 500 hp dan sanggup bertransisi ke posisi siap tembak kurang dari dua menit.

Kiprah dan reputasi tempur Polonez teruji saat mencatatkan debut operasinya dalam pertempuran nyata (battle-proven) pada konflik Nagorno-Karabakh tahun 2020. Azerbaijan, yang menjadi pelanggan ekspor perdana Polonez sejak tahun 2018, mengerahkan baterai MLRS Polonez milik mereka untuk menghantam posisi-posisi strategis, markas komando, serta konsentrasi logistik militer Armenia jauh di belakang garis depan.

Dengan daya jangkau yang sangat jauh dan akurasi tinggi, Polonez berhasil melumpuhkan infrastruktur vital Armenia tanpa perlu memasuki jangkauan balasan artileri lawan. Keberhasilan Polonez di Nagorno-Karabakh membuktikan bahwa doktrin gabungan roket presisi buatan Cina dan sasis berat buatan Belarusia ini merupakan ancaman mematikan yang sangat disegani di medan perang modern. (Bayu Pamungkas)

Rusia Incar Pasar Timur Tengah: Sarma MLRS 300mm Unjuk Gigi di World Defense Show 2026

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *