Perusahaan Australia DroneShield Luncurkan RfRecon: Perangkat Taktis Genggam Pembaca Sinyal Lawan Berbasis AI

Perusahaan teknologi anti-drone asal Australia, DroneShield, secara resmi meluncurkan perangkat radio frequency (RF) intelijen portabel terbaru bertajuk RfRecon pada 11 Agustus 2026. Alat ini dirancang khusus untuk mengatasi keterbatasan sensor maritim maupun darat generasi lama yang umumnya hanya mampu mendeteksi aktivitas frekuensi radio, tetapi lambat dalam menerjemahkan arti serta asal dari sinyal tersebut.
Baca juga: Amankan Tujuh Drone, DroneShield Sukses Amankan Acara Pembukaan SEA Games 2019
Berbasis arsitektur kecerdasan buatan (artificial intelligence) RfAI-3 buatan internal perusahaan, RfRecon sanggup menyajikan analisis sinyal secara instan dari satu platform genggam (handheld) di garis depan pertempuran.
Spektrum frekuensi radio merupakan bahasa tidak kasat mata yang digunakan oleh berbagai mesin tempur modern—mulai dari drone, radio taktis, unit GPS, hingga jaringan nirkabel—untuk saling berkomunikasi di medan laga. Keunggulan prajurit di lapangan kini sangat ditentukan oleh kemampuan membedakan sinyal secara presisi antara pemancar milik kawan, drone komersial sipil, hingga upaya pengacakan (jamming) yang dilancarkan pihak musuh.
Menurut DroneShield, perangkat RfRecon menggabungkan tiga fungsi utama sekaligus: penginderaan spektrum pita lebar (wideband spectrum sensing), penentuan arah sinyal yang presisi (precision direction finding), serta intelijen sinyal berbasis AI untuk langsung mengidentifikasi identitas pemancar tanpa perlu analisis manual yang memakan waktu.
Introducing RfRecon.
Detection is over. Intelligence starts now.
Find out more: https://t.co/UGbWZhCZ3a pic.twitter.com/7Z0N67oVNo
— DroneShield® (ASX:DRO) (@DroneShield) August 9, 2026
Secara teknis, RfRecon membawa lonjakan performa yang signifikan dibandingkan lini produk DroneShield terdahulu. Perangkat ini diklaim memiliki cakupan spektrum RF enam kali lebih luas, daya pemrosesan AI empat kali lebih tinggi, kapasitas penyimpanan internal 31 kali lebih besar, serta memori delapan kali lipat dibanding generasi sebelumnya.
Selain itu, RfRecon dilengkapi fitur deteksi Remote ID untuk Bluetooth dan Wi-Fi guna mendeteksi lisensi digital drone, sistem pemantauan AIS dan ADS-B untuk melacak pergerakan kapal laut serta pesawat udara, GPS terintegrasi, hingga fitur keamanan berbasis perangkat keras (hardware-based security) guna mencegah peretasan data internal.
RfPatrol MKII: Radio Genggam Pendeteksi Kehadiran Drone Intai
CEO DroneShield, Angus Bean, menegaskan bahwa kehadiran RfRecon merupakan jawaban atas pergeseran doktrin di kawasan konflik modern seperti Ukraina dan Timur Tengah, di mana data sensor mentah melimpah tetapi kemampuan mengambil keputusan cepat masih terbatas.
RfRecon dirancang dengan arsitektur terbuka yang dapat diintegrasikan langsung ke sistem komando Android Tactical Assault Kit (ATAK) milik militer AS dan sekutu, maupun disinergikan dengan sistem penangkal drone berbasis serbuan siber (cyber takeover) dan penghancuran fisik (kinetic defeat). Perangkat ini kini telah tersedia secara global bagi konsumen di sektor pertahanan, pemerintah, dan lembaga keamanan kualifikasi khusus. (Gilang Perdana)
DroneSentry-X: Lindungi Konvoi Kendaraan VVIP dari Ancaman Drone


